oleh

Tradisi Nisfu Sya’ban di Madura

Dari Saling Berbagi Makanan, Bermaafan Sampai Yaasinan

Raymond Williams mengungkapkan bahwa budaya adalah “the whole way of life” segenap cara hidup masyarakat. Apa yang dikatakan Raymond selaras dengan yang dilakukan oleh masyarakat Madura dalam memahami kehidupan, dalam hal ini seperti memahami malam Nisfu Sya’ban, hari sakral yang diperingati dengan tradisi khas.
Moh Tamimi, Sumenep

Dalam literatur Islam malam Nisfu Sya’ban bukanlah tanggal biasa, di tanggal itu adalah hari sakral karena merupakan penutupan “buku” catatan amal perbuatan manusia. Malam Nisfu Sya’ban jatuh pada setiap tanggal 15 Hijriah Bulan Sya’ban. Tahun ini jatuh pada Hari Sabtu (20/4).

Oleh orang Madura, peringatan Nisfu Sya’ban tidak hanya dilakukan muhasabah diri dan sekadar mengingat hari itu adalah malam Nisfu Sya’ban, tetapi orang Madura akan melakukan saling maaf memaafkan (Madura: Saporaan) dengan sanak keluarga, tetangga, dan kenalan lainnya, dengan bersalam-salaman apabila bisa bertatap muka.

Selain itu, mereka akan melakukan tradisi ter a-ter (saling memberi makanan) kepada para tetangga dekat, sanak famili, dan kepada para guru ngaji dan para kiai yang mengajari mereka atau kiai yang dekat dengan rumah mereka.

“Ya kita saling saporaan supaya kesalahan-kesalahan kita dimaafkan dan diampuni oleh Allah Swt. karena waktu itu adalah hari penutupan sekaligus pembukaan buku baru amal manusia,” ungkap salah satu warga Desa Sera Tengah, Kecamatan Bluto, Tibliyah saat diwawancarai perihal tradisi Nisfu Sya’ban, Senin (15/4)

Tib, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa pada malam harinya para warga akan pergi ke langgar atau mushalla atau ke masjid terdekat untuk membaca Quran bersama yang dipimpin oleh tokoh atau kiai, dalam hal ini membaca Surat Yaasin sebanyak tiga kali. Setiap kali selesai membaca satu surat Yaasin, membaca doa, begitu seterusnya sampai tiga kali.

Di Siang harinya, makanan yang diantarkan ke tetangga terdekat, sanak famili, dan kiai adalah berupa nasi dan ketan yang dibungkus menggunakan daun pisang yang diletakkan dalam nampan atau orang Madura menyebutnya Talam. Dalam nampan tersebut tidak hanya berisi nasi dan ketan tetapi juga berisi berbagai macam roti, rengginang, dan makanan tradisional setempat seperti kolat (ada yang menyebutnya peye’), kocor (ada yang menyebutnya cocor), tettel, dan dhudul.

Meskipun hidangan yang dimiliki antara satu orang dengan yang lain nyaris sama, tetapi mereka tetap saling memberi apa yang mereka miliki tersebut, namun yang pasti, antara nasi putih dan ketan sudah menjadi semacam kewajiban, sedangkan tambahan variasi makanan lainnya tergantun perorangan dan keadaan ekonominya.

Komentar

News Feed