oleh

Transgender Madura Blak-blakan Kisahkan Jalan Hidupnya

Ungkap Perspektifnya tentang Toleransi Warga Madura

“Saya ingin hidup dan tampil apa adanya. Ingin jujur pada diri sendiri dan orang lain.”

“Berbuat baik tanpa harus melihat status gender.”

Inilah kutipan sederhana yang disampaikan oleh Sofa, transpuan kelahiran Maret 1969 asal Kabupaten Bangkalan.

MOHAMMAD KHAIRUL UMAM, KABAR MADURA

Perawakannya sedang, rambut sebahu, mengenakan syal berwarna pink dengan dandanan sederhana, layaknya wanita biasa. Cara bicaranya lembut dan ramah, begitulah saat dia menyambut untuk diwawancarai di salah satu kafe di Bangkalan pada akhir Oktober lalu.

Di kafe itu, dia baru saja mengisi sebuah acara komunitasnya. Perbincangan dengan Kabar Madura berlangsung cukup akrab.

Dia tidak canggung mengulas tentang jati dirinya. Tidak terasa, perbincangan sampai harus dilanjutkan di lobi salah satu lobi hotel di Bangkalan, tempatnya menginap. Terlebih, kegiatannya di kafe itu sudah usai.

Sebelum berbincang lebih dalam di lobi hotel itu, Sofa menyempatkan ganti pakaian di kamarnya. Seusai ganti baju, penampilannya juga nampak biasa saja, layaknya wanita pada umumnya.

Saat baru saja duduk di kursi lobi hotel, dia mulai membuka percakapan tentang kata transpuan, status yang saat ini dia sebut sedang menempel pada dirinya.

Baginya, istilah tersebut tentu masih tabu bagi sebagian masyarakat Madura. Bahkan stigma negatif tidak luput kepada mereka. Terlebih, secara awam masih disebut dengan waria (wanita pria). Secara kasat mata, dia adalah pria yang nampak seperti wanita.

Di Madura, keberadaan transpuan mendapat sambutan beragam. Meski sebagian besar menolak, namun ada saja dari mereka yang bisa langsung diterima dengan tangan terbuka.

Menyebut Madura, tentu tidak akan lepas dari empat kabupaten, Bangkalan yang menjadi kabupaten di ujung barat, kemudian Sampang dan Pamekasan yang menjadi lintasan, karena keberadaanya paling tengah, menuju Sumenep.

Meski dikenal memiliki karakter yang keras, namun pada dasarnya masyarakat Madura memiliki sikap yang ramah dan rasa toleransi yang tinggi. Kenyataan itulah yang dialami Sofa, karena dia bisa bebas beraktivitas di kampung halamannya.

Sofa sudah tidak asing lagi bagi masyarakat sekitar dia tinggal, selain ia dikenal sebagai guru dengan status pegawai negeri sipil (PNS) yang ramah. Dia juga dikenal sebagai pemilik salah satu usaha salon kecantikan.

Setelah mengulas banyak tentang kehidupan pribadinya, sayangnya waktu sudah terlalu larut. Dengan seabrek aktivitasnya, membuatnya nampak lelah dan butuh waktu tidur yang cukup.

Namun dengan keramahannya itu, dia bersedia ditemui kembali esoknya, tepatnya seusai mengisi acara di salah satu kafe di Kecamatan Kamal, atau di jalur menuju kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Memang, dia terus dikenal setelah banyak bergelut di sejumlah kegiatan. Selain menjadi salah satu aktivis kesetaraan gender, aktivis hak asasi manusia, juga menjadi aktivis Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos).

Dalam pertemuan itu, mulai terbuka sisi lebih dalam tentangnya. Menurut rekan-rekannya, Sofa dikenal memiliki sisi religius yang kental, karena dikenal taat beribadah. Apalagi, nama Sofa pada tahun 2016 sempat menjadi perhatian publik, yakni ketika melaksanakan ibadah haji dengan tampil sebagai pria pada umumnya.

Kendati aktivitasnya yang cukup padat, namun tidak lantas mengabaikan kewajiban sebagai hamba yang wajib menyembah Tuhannya.

“Urusan kewajiban dengan Allah tetap menjadi kewajiban, saya tidak ingin menjadi hamba yang lalai ” ucap Sofa usai menghadiri pertemuan sesama transpuan tersebut.

Bagi Sofa, menunjukkan jati dirinya adalah bagian dari kejujuran. Dia tidak ingin membohongi diri bahwa sedang merasa sebagai wanita, bukan sebagai laki-laki. Menurutnya, apa yang sudah dijalani menjadi bagian dari perjalanan hidupnya tanpa ada rekayasa.

Sambil sesekali menyeruput minuman pesanannya, Sofa nampak semakin tidak canggung menceritakan perjalanan hidupnya. Dia mengaku memiliki persoalan dengan penolakan meski dalam kesehariannya sebagai transpuan. Bahkan masyarakat sekitarnya menerimanya dengan hati terbuka.

“Keluarga maupun warga sekitar sudah paham kondisi saya. Selama kita berkomunikasi dengan baik, mereka tidak ada masalah dan tidak pernah mempermasalahkan,” paparnya.

Sofa kecil, kepribadiannya sama dengan anak pria biasanya. Namun seleksi alam membuatnya lebih banyak bergaul dengan kaum perempuan. Dia aktif di berbagai kegiatan, salah satunya membantu mencuci perabotan rumah tangga saat ada tetangga membuat hajatan atau sedang berduka.

“Kalau memasak sudah tentu menjadi salah satu keahlian, kalau ada keluarga yang meninggal, lebih sering bantu-bantu di dapur,” tutur Sofa dengan nada lembut.

Dalam kehidupan beragama, dia tetap sebagai hamba Tuhan yang menjalankan salat lima waktu.

Tidak cukup itu, untuk melengkapi kebutuhan rohaninya, Sofa ikut beberapa kajian rutin keislaman yang dikenal dengan pengajian. Kegiatan rutin itu konsisten ia lakukan setiap malam Jumat dengan nama kelompok pengajian Al-Ikhlas.

“Anggotanya kurang lebih dikuti seratus orang, ya transpuan, sebagian besar dari Surabaya,” jelasnya.

Bukan hanya bergelut dalam aktivitas keagamaan. Kecintaan terhadap Tuhan yang disembahnya memang tak bisa diragukan lagi.

Selain rutin solat tahajud, Sofa sudah menyempurnakan rukun Islam yang ke lima, yakni melaksanakan ibadah haji sekitar tiga tahun yang lalu.

“Alhamdulillah, ya mas saya sudah haji, karena ini sudah merupakan kewajiban sebagai umat Islam bagi yang mampu melaksanakannya,” tuturnya dengan sikap ramah.

Selain menyempurnakan rukum Islam yang ke lima, Sofa yang merupakan salah guru PNS ini juga tidak melupakan ibadah wajib lainnya.

Kendati pada realitas kehidupan sehari-harinya seperti seorang perempuan yang lengkap dengan dandanan cantik, ketika hari Jumat dia mengekpresikan diri sebagai laki-laki, berjubah lalu pergi ke masjid untuk salat Jumat. Tidak ada yang mempermasalahkan dengan aktivitasnya itu.

Soal latar belakang pendidikan, anak ketiga dari empat bersaudara ini mengaku sudah pernah menghabiskan waktunya selama dua tahun di pondok pesantren. Bahkan, saat ini dia menjadi salah satu guru yang sudah mendapat gelar magister.

“Lingkungan sekitar ada pondok, ya pernah mondok, Alhamdulillah pendidikan juga tuntas sampai S2”, ucap magister Bahasa Indonesia itu.

Tingkah berbeda mulai terasa sejak lelaki berparas perempuan itu mengenyam pendidikan sekolah tingkat  dasar, dan sejak itu dirinya mulai sadar jika dirinya lebih dominan sebagai perempuan.

“Jujur pada diri sendiri dan orang lain, saya tidak ingin berbohong bahwa saya ingin menjadi perempuan, dan alhamdulillah keluarga dan lingkungan menerima semua itu,” ulasnya.

Sebagai bekal jangka panjang, aku Sofa, sudah sejak 13 tahun yang lalu telah mengadopsi anak. Selain itu, sebagai bentuk tanggung jawab dan perhatian atas masa depannya kelak.

“Anakku sudah SMP, dan mondok di salah satu pesantren besar di Sumenep, saya adopsi sejak bayi, kalau gak salah saat itu masih berumur empat bulan,” ungkapnya.

Aktivitasnya tidak hanya fokus pada kegiatan sosial dan keagamaan. Ia dijadikan salah satu inspirator dalam dunia tata rias pengantin. Selain dikenal sebagai perias berkualitas dan hebat, hasil karya riasnya juga sering masuk dalam kontes rias kecantikan. Dia hanya berharap, yang dilakukannya bermanfaat bagi orang lain.

Tidak ada kata lelah baginya. Meski memiliki salon serta memiliki kewajibannya sebagai guru, dalam kesibukanya, dia juga sempatkan menjadi guru tari. Aktivitas itu dilakukan pada sore maupun malam hari setelah mengajar.

Pada akhir perbincangan, Sofa berharap kelak menjadi orang yang dikenang, baik jasa maupun karyanya. Meski dia mengakui, yang dilakukan masih jauh dari kata sempurna, namun yakin bahwa hal itu bernilai ibadah.

“Berbuat baik tanpa harus melihat status gender,” pungkasnya.

 

Sem

Kisah kehidupan yang hampir sama diceritakan oleh pemuda yang akrab dipanggil Sem ini. Ia mengaku seorang gay. Awalnya perjalan hidupnya tidak langsung berani menunjukkan jati dirinya.

“Awal yang tidak mudah untuk menjalani hidup ini, butuh kesiapan dan mental yang kuat,” ucapnya saat di kafe bersama Sofa.

Perjalanan waktu terus ia lewati, sampai mengalami pergulatan batin yang cukup kuat. Hal itu membuatnya yakin, sudah tidak bisa lagi berbohong pada dirinya sendiri. Sebab, hal itu membuatnya tidak tenang, bahkan merasa menjadi orang yang munafik pada dirinya.

Sebelum memutuskan menjadi gay, ia sempat bertunangan dengan perempuan pilihan orang tuanya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Ikatan tali pertunangan itu kandas. Gejolak batinnya semakin membara, ketika ia menyadari, tidak punya rasa atau ketertarikan pada perempuan.

Bagi seorang Sem, menjadi diri sendiri adalah bagian bentuk kejujuran yang harus ia tampakkan. Baginya, percuma hidup dalam kepura-puraan. Ketenangan dan kedamaian dirasakan ketika dirinya tampil sesuai dengan hati nuraninya.

“Orientasi seks saya memang berbeda, dan saya harus jujur pada diri sendiri,” ucapnya.

Soal urusan ibadah, tidak ada yang berubah. Ia tetap istikomah menjalankan kewajiban salat. Meski memiliki orientasi seks berbeda, namun menurutnya tidak alasan untuk meninggalkan kewajiban sebagai hamba yang taat.

“Apa yang menjadi kewajiban tetap saya kerjakan, termasuk urusan ibadah, saya tidak ingin menjadi hamba yang lalai terhadap Sang Pencipta, urusan orientasi, ini urusan saya dengan Tuhan saya, yang penting saya tidak merendahkan harga diri maupun prinsip orang lain” tutur Sem.

 

Icha

Membahas transgender dari segi religiositas, sedikit berbeda ketika berhadapan dengan Icha. Transpuan kelahiran Sampang tahun 1987 ini, sudah totalitas dalam dandanannya.

Memiliki nama asli Muhammad Yusuf, awalnya tidak menyangka jika dalam perjalanan hidupnya menjadi waria.

Ditemui di tempat usaha salonnya, Icha merasa, yang sudah terjadi maupun yang dilakukan, murni dari dalam hati. Baginya keputusan menjadi transpuan sudah pilihan sesuai hati nurani.

Warga Jalan Pahlawan, Sampang itu, seperti terlahir dua kali dalam hidupnya. Pada 2006 lalu, ia bulat memutuskan diri untuk menjadi Icha Natasya. Perubahan nama panggilan ini seiring dengan perubahan penampilannya. Yusuf yang sebelumnya tampan, kini menjadi Icha yang manis dan jelita.

“Tanpa rekayasa, murni dari hati. Saya lebih percaya diri menjadi perempuan daripada laki-laki, inilah saya apa adanya,” ucap Icha.

Sebelum memutuskan menjadi transpuan, Icha sempat mendapat penolakan dari keluarga besarnya. Namun dengan niat dan tekad bulat, akhirnya membuat keluarganya luluh. Sikap yang konsisten untuk berubah, menjadikan orang-orang terdekatnya menerima dengan hati terbuka.

Perubahan perilaku sebagai waria bermula ketika dirinya merantau ke pulau Bali. Saat itu, ia bekerja di sebuah salon ternama. Tiga tahun bergelut di dunia perawatan kecantikan, serta adanya dukungan dari sejumlah temannya, membuat ia semakin yakin untuk memutuskan memilih jalan hidupnya menjadi waria.

Waktu terus berputar, saat kembali ke Sampang dengan status yang berubah, membuatnya harus bisa mandiri dan sukses dengan usaha salonnya.

“Langsung buka salon kecantikan, teman-teman welcome (terbuka) semua, bahkan ada yang menjadi pelanggan, ya sebagian ada yang terkejut dengan perubahan penampilanku,” aku Icha.

Ketika bertemu mantan kekasihnya saat berpapasan di tengah jalan, dia juga sedikit tersipu malu.

“Mungkin terkejut ketika melihat saya dengan dandanan yang berbeda ketika waktu masih pacaran, he, he,” ungkapnya sambil tersenyum.

Soal ibadah, dalam dirinya menekankan untuk tidak mengabaikan salat lima waktu. Pelajaran waktu di pesantren, tetap diingat dan diamalkan.

Selain menyibukkan diri di salon, dia tidak melupakan orang-orang yang sudah mendidik ataupun berjasa kepadanya. Ia sempatkan pergi ke pesantren yang dulu menjadi tempat menempa ilmu. Kedatangannya ke pesantren selain bersilaturahmi juga ziarah ke area pemakaman pesantren.

Stigma buruk maupun perlakuan yang merendahkan harga diri waria diakuinya sering didengar di sejumlah daerah. Di Sampang sendiri keberadaan waria sering menjadi target razia. Padahal mereka hanya duduk dan istirahat di area taman selepas bekerja di salon.

“Stigma buruk lambat laun akan luntur ketika hal itu ketika kita buktikan dengan kreativitas dan capaian prestasi,” lanjutnya.

Dengan dandanan sebagai perempuan asli, Icha mengaku jika semuanya sudah menerimanya dengan baik.

“Ke pesantren saya dandanan pakai kerudung, dan tidak ada masalah, selama tidak melanggar aturan lingkungan pesantren, semua menerima dengan baik hati,” ungkap Icha yang ingin tahun depan bekerja di Saudi dan memberangkatkan saudara-saudaranya untuk beribadah haji. (waw)

 

Komentar

News Feed