Tuding Oknum PT Garam Menikmati Jasa Giro

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ FATHOR RAHMAN) GERAM: Petani kecewa dua tahun PT Garam tak manfaatkan dana PMN. Dana PMN dicurigai untuk didepositokan di perbankan.

KABARMADURA.ID, SAMPANG  – Keberadaan sisa dana Penyertaan Modal Negara (PMN) dipastikan tidak bermanfaat kepada masyarakat. Malah disinyalir penyimpanan modal itu menguntungkan beberapa oknum pejabat di internal PT Garam.

Sebab, sejak dua tahun lalu, PT Garam sudah tidak memanfaatkan dana PMN. Selama itu, diduga dana sengaja diendapkan di perbankan senilai Rp14 miliar lebih. Jika dihitung, jasa giro dana itu tidak sedikit. Namun, tidak jelas mengalirnya jasa giro dana PMN sampai sekarang.

Bacaan Lainnya

Informasi yang dirangkum Kabar Madura, PT Garam terakhir melakukan penyerapan tahun 2018 lalu. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu membeli garam seharga Rp1,4 juta per ton. Namun setelah itu tidak lagi menyerah sampai akhir tahun 2020.

Sementara itu, sedikitnya 14 miliar lebih dana PMN yang tersisa sampai tahun ini. Diduga, dana itu masih ngendap di perbankan. Sebab, setiap tahun dana itu didepositokan, namun jumlahnya berkurang setiap tahun.

Sejak mendapatkan mendapatkan dana PMN tahun 2015. PT Garam mendapatkan suntikan dana sebesar Rp300 miliar. Sebanyak Rp222 miliar untuk menyerap garam rakyat. Selain itu, sebanyak 68 miliar untuk pembangunan pabrik garam olahan berkapasitas 60 ribu ton di Camplong.

Sebanyak Rp7 miliar dianggarkan untuk pengembangan geomembran dan teknologi on-farm. Sementara sisanya, digunakan untuk persiapan pengembangan lahan 5.000 hektar di Kupang. Sayangnya, khusus untuk dana penyerapan garam disinyalir tersisa sekitar Rp14 miliar. Itu pun belum dimanfaatkan untuk menyerap garam petani.

Salah satu tokoh pemuda di Kabupaten Sampang, Syamsudin mengungkapkan, jika dana PMN sebagian besar untuk modal penyerapan. Jadi tidak ada alasan tidak memanfaatkan dana itu untuk menyerap garam. “Tidak ada alasan PT Garam tidak menyerap,” katanya.

Menurutnya, tidak masuk akal jika PT Garam mengaku stok masih banyak. Seba pembelian terakhir dua tahun lalu. Jadi tidak mungkin jumlah garam masih penuh. Berarti selain hasil lahan pegaraman milik PT Garam sendiri, juga ada garam impor yang masuk ke BUMN itu.

Syamsudin mencurigai, ngendapnya dana PMN sengaja dilakukan oleh sejumlah pemangku kebijakan di PT Garam. Jika didepositokan maka jasa giro akan besar.

“Kita hitung saja jasa giro yang dihasilkan dalam sebulan jika dana yang disimpan sebesar Rp14 miliar lebih,” ucapnya.

Mestinya, lanjut dia, PT. Garam melakukan penyerapan di Madura. Sehingga bisa membantu petani yang dirugikan berkali – kali. Sebab, selama beberapa pekan terakhir perusahaan swasta sudah tutup tidak melakukan pembelian.

Dia menduga, PT. Garam main-main dengan dana PMN. Sebab awal tahun 2020, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu masih minta tambahan dana PMN ke pemerintah pusat. Bahkan, pertengahan tahun 2020, tepatnya bulan Juli direncanakan akan dilakukan penyerapan. Namun, faktanya sampai akhir tahun belum dilakukan.

“Sekarang perusahaan swasta sudah banyak tutup. Sehingga, PT Garam seharusnya melakukan penyerapan. Sehingga dapat membantu petani agar tidak mengalami kerugian lebih banyak,” katanya.

Manager Corporate Communications PT Garam, Miftahol Arifin saat dikonfirmasi mengaku dana PMN masih ada. Hanya saja, pihaknya menolak menjelaskan lebih detail soal dana itu.

“Kalau anggaran penyerapan pasti ada. Tapi memang kami masih belum bisa melakukan penyerapan,” ucapnya.

Dia menjelaskan, pada tahun 2018 memang dilakukan penyerapan cukup banyak. PT Garam membeli garam petani dengan harga 1,4 juta per ton. Namun harga anjlok dan akhirnya garam tidak bisa dijual. Sehingga, menurutnya masih banyak garam yang tertimbun di beberapa gudang. (man/mam)

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *