Tugu Perbatasan Sumenep Terancam Ambruk

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) DIBIARKAN: Keberadaan tugu perbatasan Sumenep-Pamekasan di Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, Sumenep dibiarkan tanpa perawat.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Keberadaan tugu perbatasan Sumenep-Pamekasan di Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, Sumenep, mendapat sorotan dari kalangan legislatif. Pasalnya, selain keberadaannya tidak terawat. Bahkan sejumlah pepohonan dibiarkan tumbuh di atas ikon perbatasan tersebut.

Sekretaris Komisi lll DPRD Sumenep mempertanyakan kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam merawat sejumlah taman,  terutama tugu perbatasan yang menjadi nilai tawar Kota Keris dibiarkan tanpa perawatan. Jika hal itu dibiarkan dikhawatirkan mengancam keselamatan pengendara yang melintas.

Bacaan Lainnya

“Itu seperti apa, masak ada pohon dibiarkan tumbuh di atas tugu, kan akarnya terus menjalar, nah itu bisa ambruk kan bagian atas, kan banyak pengendara, kalau kena, nanti tidak mau disalahkan, itu jalur provinsi,” katanya, Senin (18/1/2021).

Politisi asal daerah pemilihan (dapil) tiga itu menyayangkan dengan kondisi itu. Monumen itu seharusnya dirawat dengan baik karena itu merupakan salah satu ikon Sumenep.

“Jangan sampai ada yang roboh. Itu yang tumbuh pohon bukan rumput, khawatir bukan dindingnya saja roboh, tapi atasnya,” tegasnya.

Semenatara Kabid Tata Lingkungan DLH Sumenep Zaenal Arifin, berdalih keterbatasan tenaga dan anggaran hingga perawatan tugu tersebut terbengkalai.

Selain itu, fokus atau prioritas penanganan dan perawatan masih seputar perkotaan, terlebih pada Taman Bunga yang selama ini menjadi jantung persinggahan masyarakat.

“Anggaran kami itu sangat kecil, belum lagi ada refocusing. Untuk tugu perbatasan bukan kita tidak melakukan perawatan, hanya tidak tiap hari ke sana karena lokasi yang jauh,” dalihnya.

Zainal berjanji dalam waktu dekat akan turun ke lokasi untuk membersihkan pohon yang tumbuh di atas tugu. Pihaknya akan menurunkan sejumlah personel untuk membersihkan maupun melakukan pengecekan terhadap tugu perbatasan tersebut.

“Perabotnya masih dipakai, dan itu dibutuhkan sampai lima orang,” pungkasnya. (ara/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *