Tukang Koran Berpangkat Bintang Empat

  • Whatsapp

Oleh: Pujiah Lestari *)

Setelah menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), banyak orang mulai mengenal pemikiran Dudung Abdurachman. Jalan pikirannya seakan menyingkap krisis intelektual yang melanda kalangan militer sejak masa Orde Baru. Salah satu pernyataan kontroversial yang diucapkan Dudung dalam tausiyah atau acara kultum (kuliah tujuh menit) di hadapan staf-stafnya adalah, “Kalian tak perlu berlebihan dalam agama”.

Pernyataan itu mengingatkan kita pada nasihat salah satu tokoh dalam novel Pikiran Orang Indonesia (POI). Pada halaman 16-17, tertera pesan-pesan salah seorang sesepuh kepada tokoh utama (Haris) dan sahabatnya (Arif): “Untuk apa semuanya itu? Kalian masih muda-muda, baru umur belasan tahun. Apa dikira mudah menjalani semua itu? Banyak orang yang sia-sia menjalaninya, dan kalau gagal risikonya tidak kecil. Banyak orang yang kemudian gila, kehilangan akal sehat, bahkan tidak sedikit yang akhirnya mati sia-sia. Tuhan memerintahkan manusia agar sederhana dalam cara-cara beragama, jangan berlebih-lebihan, dan jangan mempersulit-diri.”

 Ketika menjabat KSAD Dudung Abdurachman baru berusia 56 tahun. Ia lahir pada 19 November 1965, sekitar dua bulan setelah meletusnya kekisruhan politik di Jakarta pada 30 September 1965. Ketika menginjak 15 tahun, Dudung muda pernah membuka loper koran, dan setiap pagi membaca rubrik “Tajuk Rencana” yang tersedia di sebelah Opini Kompas. Apa yang diprediksinya mengenai ‘berlebihan dalam agama’ telah dibuktikan oleh karakteristik Haris sebagai tokoh utama POI yang mengalami delusi skizofrenia di kalangan kader politik dan tentara Indonesia.

Apa yang hidup dalam pikiran Haris sebagai onderbouw Orde Baru adalah kebenaran (perspektif) tunggal. Baginya, tidak ada argumentasi apa pun yang dapat menggoyahkannya. Ketika disodori fakta tandingan yang menyatakan bahwa ia menderita skizofrenia, justru ia menyerang dokter yang mengobatinya, lalu dituduhnya bersekongkol dengan orang-orang yang akan menyingkirkannya. Sentimen idealisme terus hidup dalam diri Haris, bahkan terus dikembangkan hingga melahirkan imaji “aku” bukanlah “mereka”.  Tembok imajiner itu sedemikian kokoh, sampai-sampai tak bisa dikalahkan oleh apapun, bahkan suara-suara dari hati nuraninya sendiri. Apa itu hati nurani? Apa itu kebenaran? Dan, kebenaran bagi siapa?

Dalam wawancara dengan Aiman Witjaksono di KompasTV (1 Januari 2022), Dudung memaparkan pentingnya NKRI dan bhineka tunggal ika sebagai cikal-bakal penjabaran dari butir-butir Pancasila. Dasar negara yang digagas para bapak bangsa itu merupakan point of no return, tak ada kata mundur selain maju terus ke depan. Berkat pidato Pancasila pada tahun 1945, Indonesia telah mampu menghindari perpecahan antara kekuatan religius dan sekuler, yang justru masih mengganggu negara-negara tetangganya pada masa itu.

Kuliah tujuh menit

Dudung Abdurachman rajin memberikan tausiyah atau kuliah tujuh menit menjelang para stafnya melakukan salat magrib, khususnya di bulan Ramadan. Barangkali ia tak menghendaki militer Indonesia terjerumus dalam lubang yang sama, sebagaimana tokoh utama POI. Haris akhirnya mengurung diri, setelah ia mengembangkan pemikirannya tanpa bimbingan (mursyid) yang memadai. Barulah setelah mendapat diagnosa oleh Dokter Andi, secara bertahap diketahui apa-apa yang menjadi keluhan sang pasien. Lama kelamaan, jiwanya semakin terarah untuk dapat menulis apa yang selayaknya ditulis, atau menggambar apa yang selayaknya digambar. Selanjutnya, muncullah kesadaran baru tentang apa yang tak boleh ia lakukan, dan apa yang sepantasnya dilakukan.

Tergambar jelas dalam novel tersebut, hitam-putihnya perilaku militerisme Indonesia semasa rezim Orde Baru. Dan Dudung Abdurachman, yang terlahir pasca peristiwa September 1965, telah berjuang mati-matian untuk mencari literatur yang memadai, guna membimbing dan mengarahkan dirinya di jalan yang benar. Sebagaimana pikiran sang tokoh dalam POI yang kemudian menemukan dirinya telah tersesat. Krisis intelektual yang melanda kepribadian Haris menciptakan split personality (kepribadian ganda), hingga membuat dirinya hanya mau menerima fakta-fakta yang sesuai dengan otak dan akalnya, betapapun rendahnya kualitas kebenaran itu. Di sisi lain, pikiran itu mengembangkan mekanisme pertahanan untuk menolak fakta lain yang mengancam pendapatnya, betapa pun valid dan akuratnya kebenaran itu.

Sikap politik pemerintah Orde Baru adalah pusat kosmos yang menimbulkan orang-orang semacam Haris harus menanggung beban akibatnya. Beruntung Dudung kecil masih terbimbing oleh arahan “Tajuk Rencana Kompas” yang dibacanya tiap pagi. Lalu, bagaimana dengan nasib intelektualitas puluhan ribu tentara Indonesia yang hidup mengambang, tanpa bimbingan dan arahan yang memadai.

Dudung dan para stafnya

Melalui fitur-fitur kebahasaan, gejala skizofrenia yang diderita Haris semakin lama semakin terdeteksi. Dengan memanfaatkan bahasa dan simbol-simbol, Dokter Andi – seakan representasi dari sang penulis – semakin memahami betapa sang pasien benar-benar menilai segala sesuatu secara biner. Obyek-obyek yang dipahami, hanya berpusat dalam dua arah yang berlawanan. Pikiran Haris kesulitan bekerja secara obyektif untuk melihat realitas kehidupan sebagai sesuatu yang kompleks, dinamis, bahkan kadang paradoksal.

Terhadap obyek yang dicintainya, ia selalu memuji bahkan cenderung mengultuskan. Tetapi sebaliknya, obyek yang dibencinya dapat meningkat sebagai hujatan dan caci-maki yang berlebihan. Pihak keluarga memandang bahwa fenomena itu cukup membahayakan dirinya dan orang lain. Di situlah, maka Dudung Abdurachman menegaskan dalam wawancara dengan Aiman, sebagaimana pernyataan Bung Karno, bahwa, “Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita masih sangat rendah. Karena itu, negara harus mendidik mereka dengan sebaik-baiknya.”

Dudung menyayangkan dampak negatif dari pengaruh stigma PKI yang disusupkan penguasa Orde Baru. Demikian halnya novel POI yang secara lugas menorehkan garis besar bahwa mental keterancaman dan kecemasan bangsa ini bermuara dari  trauma akan stigma tiga huruf (PKI), sebagai tragedi sejarah yang menjadi memori kolektif bersama. Penulis novel tersebut seakan menegaskan sesuatu yang lebih “nyaring” dari pernyataan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, bahwa stigma yang dibangun Orde Baru bukanlah lahir dari orang-orang dungu dan bodoh belaka. Ia lahir dari kecenderungan berpikir dan mental Firaunisme yang cerdas dan jenius dalam kapasitasnya sebagai penguasa lalim.

 Trauma akibat tragedi bersejarah itu terus membekas pada generasi Haris (juga Dudung Abdurachman) yang terlahir pasca peristiwa 1965. Propaganda penguasa, lebih dari tiga dasawarsa, telah berhasil menanamkan dunia bawah sadar, bahkan diprediksi banyak kalangan sebagai tragedi bersejarah yang akan terus hidup dalam memori kolektif manusia Indonesia hingga seratus tahun ke depan. Di tengah mental yang kerdil dan picik itu, Haris adalah satu dari sekian juta rakyat Indonesia yang dininabobokan, sehingga nyaris tak sanggup memandang liyan sebagai sahabat Bani Adam yang harus dirangkul secara manusiawi. Namun, mereka laiknya makhluk dari habitat lain yang selalu mengundang kecemasan dan keterancaman.

Dalam pemaparan narasi yang lugas dalam novel Pikiran Orang Indonesia, kita tengah memasuki ranah yang faktual, bahwa gejala-gejala kejiwaan (psikis) yang sangat akut menghantui rumah-tangga bangsa, merupakan problem krusial yang harus diatasi, ketimbang hanya penyakit fisik berupa virus maupun bakteri semata. *

*) Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), menulis cerpen dan esai sastra di berbagai media luring dan daring, di antaranya kompas.idnusantaranews.cosastranesia.com, Kabar Madura, Radar Mojokerto, Kabar Banten, Tangsel Pos dan lain-lain.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *