oleh

Tumbuh Kembang Lahirnya Pengusaha Ternak Mandiri, Jaminan Kesejahteraan Warga Desa Samatan

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-3.160 jiwa yang tercatat sebagai warga Desa Samatan, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Dari ribuan jiwa di desa itu, 228 warga mengais rezeki dengan cara beternak. Kondisi tersebut menjadi potensi besar bagi Pemerintah Desa (Pemdes) Samatan untuk dikembangkan. Hasilnya, menjadi pendapatan asli desa (PADes), serta untuk kesejahteraan masyarakat setempat.

Desa Samatan memiliki luas wilayah 36.200 hektare, dengan uraian 170 hektare menjadi lahan pekarangan, 48 hektare tegal, dan 78 hektare sawah. Tak ayal, Kepala Desa (Kades) Samatan Moh Tamyiz menyebutkan, selain memiliki potensi di sektor peternakan, juga di sektor pertanian.

Desa yang langsung berbatasan dengan Kecamatan Palengaan ini terus berupaya mengembangkan badan usaha milik desa (BUMDes). Sejauh ini yang sedang dikembangkan  untuk menambah PADes, yakni toko dan kios, serta potensi peternakan.

Tamyiz menyampaikan, potensi peternakan itu berdasarkan 228 warga yang memilih menjadi peternak, serta jumlah ternak yang sangat banyak, seperti 463 ekor sapi, 5.100 ekor ayam, dan 34 ekor kambing.

Dirinya mengungkapkan tengah serius memanfaatkan potensi peternakan sapi. Sebab, Tamyiz melihat permasalahan dari peternak sapi di desanya yakni mindset beternak sapi sebagai tabungan. Ketika membutuhkan uang, sapi tersebut baru dijual, bahkan bisa dengan harga yang tidak wajar atau di bawah nilai jual sapi saat itu.

PROGRES: Kepala Desa Samatan H. Tamyiz menunjukkan salah satu progres produk kerajinan tangan warga setempat.

Kades Samatan ini pun berupaya mencari solusi dengan mencari pasar yang pasti, serta mengubah mindset peternak sapi agar melihat ternaknya itu sebagai bisnis.

Hasilnya, dia bekerjasama dengan PT Gholy Tani Indonesia (perusahaan yang menyuplai daging ke perusahaan makanan) di akhir tahun 2020.

Dari buah kerjasama itu, Tamyiz bisa menemukan kepastian harga pasar nasional, yakni Rp47 ribu per kilogram. Berat tersebut ditimbang berdasarkan sapi yang masih hidup, bukan daging yang sudah teriris.

Akan tetapi, pekerjaan rumah (PR) Pemdes Samatan tidak berhenti di kepastian pasar, namun PT Gholy Tani Indonesia memiliki persyaratan daging harus sesuai dengan standar kualitas perusahaan. Sapi yang yang akan dimasukkan ke perusahaan itu harus mendapatkan pola makan dan perawatan yang bagus, serta dengan menu makan khusus.

Pemdes Samatan pun mengambil langkah dengan menyiapkan pola peternakan yang akam menanggung proses pengemukan sapi agar daging yang dihasilkan sesuai dengan standar perusahan.

Alhasil, saat ini sudah terdapat 32 ekor sapi yang sedang dipersiapkan dalam satu kandang komunal. Pola tersebut juga sudah menerapkan manajemen asuransi usaha ternak sapi (AUTS) untuk menjamin peternak jika sapi  mati atau hilang.

Kata Tamyiz, langkah ini akan dicoba selama satu tahun. Kemudian, di tahun kedua, dia akan terus mengembangkan lebih peternakan yang lebih besar yang bisa memberikan kesejahteraan kepada peternak sapi melalui kepastian pasar.

Ketika upaya pengemukan sapi tersebut berjalan lancar, Tamyiz menjelaskan tidak hanya sebatas berimbas terhadap masyarakat yang punya modal untuk beternak, namun juga bagi warganya yang siap menjadi anak kandang.

JAMIN: Salah seorang perangkat Desa Samatan melihat ternak sapi yang di salah satu kandang pengemukan.

Diungkapkannya, setiap anak kandang akan mendapatkan upah Rp200 Ribu per-sapi selama empat bulan merawat sapi.

“Itu baru satu sapi, karena proyeksinya satu anak kandang mengurusi 20 sapi. Artinya, dalam empat bulan bisa mendapat Rp4 juta. Ke depan ketika sukses, kami akan membentuk kelompok-kelompok usaha peternak,” jelasnya kepada Kabar Madura, Rabu (24/2/2021).

 

Di samping itu, Desa Samatan juga menginginkan pola pengemukan sapi itu dikembangkan terhadap produksi pupuk organik melalui dekomposisi atau pelapukan kotoran sapi.

Rencananya, pengumpulan kotoran sapi tidak hanya dari kandang komunal itu, melainkan dari peternak setempat. Hasilnya, bisa dibagikan secara gratis kepada peternak yang berkontribusi bahan utama kompos tersebut. (idy/pin)

Komentar

News Feed