oleh

Tunjangan Guru Honorer di Sumenep Naik

KABARMADURA.ID, Sumenep – Kesejahteraan guru honorer di Kabupaten Sumenep mulai mendapat perhatian. Namun, tidak untuk semua guru honorer, melainkan dikhususkan bagi huru honorer yang diangkat sebelum tahun 2017. Mereka akan mendapatkan kenaikan tunjangan sebesar Rp250 ribu per bulan.

Sebelumnya, guru honorer tersebut mendapat tunjangan sebesar Rp750 ribu per bulan. Dengan adanya kenaikan tersebut, mereka akan menerima tunjangan sebesar Rp900 ribu per bulan. Hal ini diungkapkan, Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Kabupaten Sumenep Syamsul Arifin, Minggu (04/10/2020).

Menurutnya, guru honorer yang berhak mendapatkan tunjangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov-Jatim) diangkat sebelum tahun 2017. Jika sekolah merekrut setelah tahun tersebut, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan honorariumnya jelas menjadi konsekuensi sekolah.

Pihaknya menyebutkan, hanya berkisar 400 guru yang sudah direkomendasikan untuk menikmati tunjangan setiap bulan meskipun tidak tercatat sebagai guru tetap, lulus sertifikasi, dan berstatus PNS.

“Ya secara otomatis yang tidak mengantongi SK gubernur maka nasibnya tidak ditanggung pemerintah, sebab untuk sementara masih tidak ada peluang untuk penambahan,” katanya.

Ia menambahkan, secara terperinci berkurang dari jumlah tahun sebelumnya, dari 409 sekarang menjadi 405 jumlah guru honorer yang mendapatkan SK Gubernur Jatim, dan mendapatkan perhatian langsung setiap bulannya.

Rinciannya, 272 guru tidak tetap (GTT) dan 133 pegawai tidak tetap (PTT) atau yang biasa disebut dengan tata usaha (TU) yang sudah mengantongi SK gubernur yang dilayangkan 2017 lalu. Mereka berhak mendapat tunjangan Rp750.000 per bulan. Sementara tahun ini ada kenaikan menjadi Rp900.000 per bulan.

“Dari jumlah tersebut hanya terhimpun dari kurang lebih 16 sekolah di bawah naungan Cabdin. Di antaranya SMAN 1 Sumenep SMAN 1 Arjasa, SLB Saronggi. Intinya yang lama itu, sebelum tahun 2017,” imbuhnya.

Salah satu Kepala Sekolah (Kasek) SMK di Sumenep Afifurrahman menyampaikan, untuk kesejahteraan guru memang menjadi masalah secara luas, bahkan tidak hanya terjadi di Sumenep.  Sehingga pihaknya menyarankan bagi guru yang berstatus sebagai honorer maka pandai-pandai memanfaatkan peluang yang ada.

“Intinya jangan terlalu banyak berharap pada gaji guru, apalagi honorer. Tapi harus kreatif, misalnya mendaftar di pekerjaan kontrak misalnya PPS, PPK, dan peluang yang lain. Sehingga bisa ikhlas mengajar,” paparnya. (ara/ito)

Komentar

News Feed