Uang PKH Lenyap, Emak-Emak Lapor Kejari

  • Whatsapp
MENGADU: Emak-emak dari Desa Lanjing Kecamatan Arosbaya, Bangkalan mendatangi Kejari Bangkalan untuk melaporkan hilangnya uang bantuan PKH milik mereka.

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Data penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang berasal dari Penerima Keluarga Harapan (PKH) dan non-PKH masih menjadi polemik. Pasalnya, berdasarkan data penerima PKH dan non-PKH, penerima BPNT masih memakai data lama.

Hal itu, membuat sebelas emak-emak dari Desa Lanjing, Kecamatan Arosbaya mengadu ke Kejaksaan Negeri Bangkalan (Kejari) Bangkalan, Rabu (31/7).

Mereka menduga, masih ada data penerima PKH yang tidak valid. Sebab, ada yang sudah meninggal, masih tercatat menjadi penerima PKH aktif. Selain itu, adanya warga miskin yang seharusnya menjadi penerima PKH, justru tidak menerima.

“Saya mencairkan hanya empat kali. Setiap cair hanya dapat Rp450 ribu. Padahal katanya cairnya setiap bulan,” terang Nur Hayati, salah satu emak yang mendatangi kantor Kejari Bangkalan.

Sejak menerima buku tabungan dari salah satu bank di Bangkalan, Nur Hayati mengaku ditipu oleh oknum pendamping PKH di daerahnya. Dugaan penipuan itu baru diketahui saat melakukan printout buku tabungannya di bank. Betapa terkejutnya Nur Hayati, ternyata ada penarikan uang yang tidak diketahuinya.

“Dalam buku tabungan hanya tersisa Rp60 ribu. Pihak bank bilang kalau uang sudah cair,” katanya.

Awal pembuatan buku tabungan, Nur Hayati juga mengaku, diminta sumbangan oleh oknum pendamping PKH sebesar Rp50 ribu.

Pengalaman lebih parah lagi dialami oleh Satima.Dia mengungkapkan ke Kejari bahwa sudah memegang buku tabungan, namun tidak pernah menerima uang dari program PKH tersebut.

Satima mengungkapkan, setelah diberi buku tabungan dan ATM. Buku tabungan dan ATM tersebut ditarik kembali oleh orang yang mengaku pendamping PKH, dengan alasan ada perintah dari atasan. Karena ada polemik dengan penerima PKH, buku tabungan dan ATM Satima dikembalikan.

“Setelah satu tahun, saya cek di bank kalau katanya saya dapat PKH apakah sudah cair atau belum. Setelah diprint, hanya tersisa Rp20 ribu, padahal saya tidak pernah mencairkan. Sebelumnya ternyata di buku tabungan ada pencairan PKH sampai Rp6 juta,” katanya sambil meneteskan air mata.

Kejadian tersebut sempat ditanyakan ke aparat desa dan pendamping PKH, namun tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Bahkan, saat oknum pendamping PKH dihubungi via telepon oleh Satima, justru marah-mara dan Satima dibilang cerewet.

Hingga akhirnya, Satima pun memutuskan untuk meminta penjelasan dari Dinas Sosial Bangkalan. Namun dijawab bahwa uang PKH sudah cair.

“Kami minta tolong pak. Ini harus diproses. Sebab, sebelum saya kesini tadi, sudah banyak yang mengancam agar tidak melaporkan,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi (Kasi) Intel Kejari Bangkalan Putu Arya Wibisana telah menerima aduan itu. Putu mengungkapkan, saat ini  sedang mendalami dan memeriksa dengan cara mewawancara 11 wanita tersebut.

“Kami tanyai mereka mengenai kasus ini. Dari 11 ibu-ibu itu, 8 orang sudah kami mintai identitas KTP-nya, untuk yang 3 orang ini yang belum memiliki kartu identitas, akan kami foto dan isikan identitas diri sebagai bukti,” paparnya.

Setelah mendalami, langkah selanjutnya yang diambil Kejari, kata Putu, adalah menyelidiki dan akan menunggu perintah dari atasannya.

“Kami proses dulu aduan dari ibu-ibu ini yang katanya tidak mendapatkan PKH sebagaimana mestinya. Kami tunggu perintah atasan seperti apa untuk langkah berikutnya,” tandasnya. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *