oleh

Ubah Paradigma, Gugah 68 ribu Warga Bersihkan Sampah

Hidupkan UU 18/2008, Pengelolaan Harus Berubah

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Masalah lingkungan belum terurai dengan baik di Kabupaten Bangkalan. Untungnya, terdapat seorang aktivis yang menaruh kepedulian tinggi dalam perbaikan lingkungan. Nur Rahmad Ahirullah, namanya.

Ketua Tim Bangkalan Bebas Bersih Sampah (B3S) 2020-2025 itu, aktif menjadi pegiat lingkungan sejak 2017. Menurutnya, langkah memperbaiki lingkungan bukan sebatas upaya fisik seperti membersihkan sampah di sungai, pantai atau lapangan.

Melainkan, tambah Nur Rahmad, lebih kepada membangun sistem, mengubah paradigma dan suprastruktur. Dia sendiri aktif sebagai pegiat lingkungan tidak hanya di Bangkalan, tapi se-Jawa Timur.

Kegiatan fisik itu sesungguhnya, kata Rahmad, bertujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat agar memperbaiki perilakunya terhadap sampah. Dari kegiatan positifnya itu, Rahmad berhasil mengajak warga ikut kegiatan bersih-bersih.

 

Selama 2017 sampai sekarang, sudah tercatat 68 ribu orang pernah bersamanya melakukan kegiatan bersih-bersih sampah.

“Saya mengajak semua usia, terutama pemuda untuk peduli pada lingkungannya. Dengan cara tidak buang sampah sembarangan. Lalu untuk menolkan sampah di lingkungannya, saya ajak mereka bersih-bersih,” katanya, Kamis (25/6/2020).

Tetapi, usahanya tersebut hanya bertahan sebentar saja. Kebersihan lingkungan setelah kegiatan tidak bertahan lama. Setelah aksi, kotor lagi. Dari situ dia berkesimpulan masalah sampah tidak akan selesai kalau yang dibereskan di hilir saja. Kalau di hulu tidak dieksekusi, masalah sampah tak akan pernah berujung.

Untuk itu, sejak 2019 akhir kegiatan yang sudah dilakukan oleh lelaki yang kerap disapa Yoyong ini, dihentikan semuanya. Dia lebih memilih belajar tentang bagaimana mengatasi sampah di hulu. Bahkan, dia mempelajari regulasi persampahan vertikal dan horisontal untuk melihat lingkungan di Bangkalan menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, Yoyong menemukan sistem pengelolaan sampah yang harus berubah. Untuk itu, saat ini dia aktif mengajak seluruh elemen di Bangkalan agar mampu mengubah sistem itu. Dia juga bercita-cita dorongan perbaikan pengelolaan sampah juga dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.

Akibat kegigihannya itu, dia dipercaya sebagai Ketua Tim B3S yang Surat Keterangan (SK)-nya ditandatangani Bupati Bangkalan. Namun, hingga saat ini SK itu belum efektif. Dia berpendapat, rancangan program dan kegiatan dalam SK itu sangat komprehensif. Dia meyakini bisa menyelesaikan persoalan sampah di Bangkalan.

“Hingga saat ini tim belum bekerja karena Pemerintah Bangkalan masih statusquo dalam menghadapi persoalan sampah. Paradigmanya tidak mau berubah dari sistem angkut-buang pada sistem yang sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,” paparnya.

Meski begitu, dia mengaku tetap mendorong perbaikan sistem persampahan di Indonesia melalui Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS). Sistem inilah yang sedang dia dorong untuk dibentuk di Indonesia sebagai solusi pengelolaan sampah di Indonesia.

Katanya, semua pihak yang berkaitan dengan sampah dapat bertanggung jawab secara proporsional dalam pengelolaan sampah. PKPS sendiri menurut Yoyong adalah koperasi multistakholder yang mengubah paradigma sampah menjadi material daur ulang teknis maupun biologis.

“Dua hari lalu saya dorong teman-teman Bangkalan bentuk PKPS Bangkalan dan alhamdulillah sudah terbentuk,” terangnya.

Lelaki yang juga aktif di Yayasan Kelola Sampah Indonesia (Yaksindo) sebagai ketua ini menjelaskan, yayasan yang dipimpinnya itu secara sosial dan ekologis mendorong pengelolaan sampah secara komprehensif. Sedangkan PKPS mendorong secara ekonomi pengelolaan sampah secara komprehensif.

“Bicara sampah harus mencakup ekologi, sosial, dan ekonomi. Semua sedang saya upayakan bersaa tim yang sekarang sedang bergerak meng-Indonesia dari Surabaya,” lanjutnya.

Untuk PKPS sendiri, dia sekarang sedang membantu pembentukan PKPS di 514 kabupaten atau kota se-Indonesia. Karena akan dibentuk juga Induk Koperasi Pengelola Sampah (INKOPAS) di Jakarta. (ina/nam)

Komentar

News Feed