oleh

Uji Coba PTM di 28 SMP, KBM Hanya Berlangsung 3,5 Jam

Kabarmadura.id/Sampang-Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang melanjutkan uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai tanggal 9/9/2020 untuk masing-masing dua Sekolah Menengah Pertama (SMP) di setiap kecamatan. Hal itu dilakukan setelah tiga kecamatan, yakni Kecamatan Torjun, Tambelangan, Ketapang menerapkan uji coba PTM mulai 24/8/2020.

“Dari uji coba pertama sampai tanggal 9 kemarin ada 28 sekolah SMP yang diuji coba, dan hasilnya belum diketahui. Yang pasti sekolah yang diuji coba merupakan sekolah pilihan,” ungkap Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdik Sampang Nor Alam, Minggu (13/9/2020).

Kendati demikian, dalam uji coba PTM saat ini berbeda dari biasanya, sebab jika biasanya setiap mata pembelajaran (mapel) disampaikan dalam waktu 40 menit, kini hanya disampaikan dalam 30 menit.

Jadi, ketika sehari ada 7 mapel, maka sekolah tersebut hanya memiliki waktu tiga setengah jam dalam satu hari. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi paparan Covid-19.

“Semua sekolah yang uji coba hanya memiliki waktu tiga setengah jam untuk PTM, dan itu harus dikemas dengan santai, dan menarik agar siswa tidak tegang,” imbuhnya.

Adapun untuk kurikulumnya, Nor Alam  memasrahkan ke pihak sekolah, termasuk juga yang mengatur untuk siswa yang masuk diambil dari ganjil atau genap. Selain itu, untuk siswa yang tidak masuk ke kelas tetap akan mengikuti pembelajaran secara daring. Sebab, siswa itu nantinya diambil dari urutan absennya.

“Sistem ganjil atau genap tidak diatur, yang penting persentasenya. Kalau semisal sekolah mengambil 15 siswa untuk masuk sekolah, diambil dari ganjil atau genap terserah sekolah, intinya 50 persen dari siswa yang ada,” tuturnya.

Sementara itu, Dewan Pendidikan (DP) Sampang, Zeinuddin menyampaikan, semua sekolah harus memperketat protokol kesehatan agar pendidikan tidak menjadi klaster baru. Apalagi, salah seorang guru di Kecamatan Torjun yang menjalani uji coba PTM semenjak 24/8/2020 ada yang reaktif Covid-19.

Selain itu, mengingat pembelajaran hanya dilaksanakan  30 menit atau tiga setengah jam per harinya, pihak sekolah harus lebih profesional dalam menerapkan pembelajaran. Sebab, pembelajaran ini sangat penting untuk masa depan bangsa.

“Terpenting itu di sekolah harus diperketat, apalagi ada guru reaktif Covid-19. Dan untuk KBM, sekolah harus lebih memaksimalkan dan lebih kreatif. Semisal dalam menyampaikan pembelajaran dikemas dengan cara bermain, atau cara lainnya, agar siswa lebih tenang dan pembelajaran terserap,” pungkasnya. (mal/pai)

Komentar

News Feed