oleh

Ulama dan Lingkungan Hidup

Oleh: Mahathir Muhammad Iqbal S. IP, M. AP

Dosen Departemen Ilmu Pemerintahan UNIRA Malang

5 Juni, tiap kali tanggal itu datang, sebenarnya kita sedang memperingati hari lingkungan hidup sedunia, atau yang dikenal dengan world environment day. Harapan besarnya tentu bukan hanya sekedar diperingati. Lebih dari itu, hari lingkungan hidup harus mengantarkan manusia, sebagai penghuni bumi, melakukan perenungan mendalam bagaimana selama ini interaksi manusia itu sendiri, dengan lingkungan.

Jika kita merujuk kepada sejarah, seperti yang dilansir oleh media online detik.com, hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali dicetuskan dalam Konferensi Stockholm oleh Jepang dan Senegal tahun 1972. Peringatan ini didasarkan pada keadaan lingkungan hidup manusia yang saat itu sangat memprihatinkan serta dilanda bencana.

Singkat cerita, pada 15 Desember 1972, Majelis Umum PBB membuat resolusi yang menetapkan 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Untuk diketahui, pada tahun 2020 ini, Program Lingkungan PBB (UNEP) memilih Kolombia bermitra dengan Jerman, menjadi tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Sejak 1974, Hari Lingkungan Hidup Sedunia dirayakan setiap tahun dengan melibatkan pemerintah, pebisnis, kalangan selebriti, dan masyarakat. Bagaimana dengan peran tokoh agama atau ulama? Nah, tulisan ini ingin memberikan elaborasi terkait peran tokoh agama, agamawan, dan ulama dalam pelestarian lingkungan hidup.

 

Perubahan Paradigma

            Paradigma “alam tak bersahabat dengan manusia” harus segera digantikan oleh paradigma “manusia tak bersahabat dengan alam”. Karena sejatinya manusia lah yang sesungguhnya yang memiliki kontribusi besar atas kerusakan alam yang telah terjadi di bumi yang kita tempati ini.

Oleh karena itu, pengabaian terhadap lingkungan merupakan salah satu penyebab kerusakan yang ada, termasuk bencana alam. Pengabaian tersebut terlihat jelas dalam tiga hal utama. Pertama, struktur sosial politik yang minus kesadaran lingkungan. Sebagai contoh, sejauh ini hampir tidak ada partai politik yang menjadikan persoalan lingkungan sebagai program utama yang berkelanjutan. Bahkan, juga terkait dengan penanganan bencana. Kalaupun ada, itu tak lebih dari sekadar “bocoran” virus pragmatisme yang menjangkiti hampir seluruh parpol. Karena itulah, bendera partai masih kerap dikibarkan di lokasi bencana. Partai politik bahkan tidak mempunyai program yang konkret dan berkelanjutan terkait dengan pengentasan kemiskinan. Kalaupun ada, itu tak lebih dari sekadar “program kaget” seperti pendirian posko bantuan bencana yang bersifat dadakan.

Kedua, struktur sosial ekonomi yang mengeksploitasi lingkungan. Tak dapat dimungkiri, kekayaan alam merupakan salah satu lahan perekonomian yang hampir tak terbatas. Meski demikian, pengolahan kekayaan alam tidak bias dilepaskan dari sistem keseimbangan yang berlaku baku. Itulah yang selama ini diabaikan dalam struktur sosial ekonomi. Akibatnya, setiap lahan kosong acap dijadikan pusat-pusat perekonomian (seperti perhotelan dan mal) tanpa memperhatikan hukum keseimbangan di atas. Begitu juga dengan pengeboran sumur minyak, penebangan pohon, dan sebagainya.

Ketiga, struktur sosial keagamaan yang cenderung menomorduakan lingkungan. Ini terlihat jelas dari minimnya khotbah-khotbah keagamaan yang membahas isu lingkungan. Sebaliknya, khotbah-khotbah terkait dengan ritualitas, bahkan juga kehidupan di akhirat, dengan mudah bisa didapatkan di mana-mana. Tentu tidak ada yang salah dari perhatian besar terhadap hal-hal yang bersifat ukhrawi, selama hal itu tidak dilakukan dengan cara menomorduakan hal-hal yang bersifat duniawilingkungan. Terlebih lagi sampai mengabaikannya.

 

Peran Ulama

            Dari yang telah disampaikan, agamawan dan para teolog bisa mengambil peran besar dalam menumbuhkan kesadaran pelestarian lingkungan di tengah-tengah masyarakat. Peran ini bisa dimulai dengan merumuskan teologi ramah lingkungan.

Yang dilakukan seorang ulama terkemuka di Timur Tengah, Syeikh Yusuf Al-Qardawi, menarik diperhatikan bersama. Melalui salah satu bukunya yang berjudul Pelestarian Lingkungan dalam Syariat Islam (Kairo, 2001), Qardawi memberikan manifesto ”teologi ramah lingkungan” yang sangat kuat. Menurut dia, perhatian terhadap lingkungan berada di balik hamper semua rumusan disiplin ilmu agama, terutama ilmu keislaman seperti teologi, tasawuf, usul fikih, dan sebagainya.

Dalam konteks teologi, contohnya, pembahasan tentang alam semesta dan lingkungan menempati posisi yang sangat sentral. Sebab, salah satu pembahasan utama dalam ilmu itu adalah penetapan semua makhluk (termasuk alam dan lingkungan) sebagai ciptaan Allah, baik dengan menggunakan justifikasi teks suci keagamaan maupun penalaran rasional.       Sebagai makhluk, alam semesta tidak ada bedanya dengan manusia. Bahkan, sebagaimana manusia, alam semesta pun bersujud kepada Sang Pencipta (QS Ar-Ra’d 15).

Begitu juga dengan ilmu spiritualitas seperti tasawuf. Ilmu ini menjadikan perhatian terhadap alam semesta dan lingkungan sebagai salah satu di antara dua fondasi utamanya, yaitu kesetiaan terhadap kebenaran (assidqu ma’a al-haqqi) dan tata karma terhadap makhluk (al-khulqu ma’a al-khalqi).

Karena itulah, kaum sufi acap memperlakukan makhluk-makhluk Tuhan dengan penuh tata krama dan cinta kasih. Yang dilakukan Nabi Muhammad SAW kepada Gunung Uhud bisa dijadikan contoh tata karma dan cinta kasih manusia kepada alam semesta dan makhluk-makluk yang lain. Beliau bersabda, ”Ini Gunung Uhud yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.”

Hal yang kurang lebih sama juga terdapat dalam disiplin ilmu usul fikih. Sebagai contoh, ada lima perkara pokok yang diperkenalkan oleh ilmu usul fikih. Yaitu, melindungi agama (hifdzu ad-din), melindungi jiwa (hifdzu an-nafs), melindungi akal (hifdzu al-‘aql), melindungi keturunan (hifdzu an-nasl), dan melindungi harta kekayaan (hifdzu al-mal). Lima perkara pokok di atas tidak bias dipisahkan dari pelestarian lingkungan. Sebab, melindungi agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta kekayaan hanya berada di alam dan lingkungan yang terjaga dan lestari.

Sejatinya, kalangan agamawan di Indonesia mempunyai manifesto teologi lingkungan sebagai konsensus bersama sekaligus pijakan gerakan pelestarian lingkungan berbasis norma keagamaan. Dengan begitu, persoalan lingkungan diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh masyarakat luas sebagaimana perhatian mereka terhadap persoalan ibadah-ritual. Semoga.

 

 

 

Komentar

News Feed