Ulama Madura Sepakat Perjuangkan Tembakau dan Garam

(FOTO: KM/IMAM MAHDI) SERIUSI: Persoalan harga tembakau dan harga garam di Madura dibahas sejumlah ulama, kiai dan pemkab se-Madura.

KABARMADURA.ID | SUMENEP-Membangun Madura dari sektor pertanian, semakin jadi fokus ulama Madura. Bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) se-Madura, kiai dan ulama se-Madura yang dimotori oleh Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) kompak membahas penguatan keberdayaan pertanian komoditas unggulan lokal yakni garam dan tembakau.

Koordinator BASSRA Sumenep sekaligus Pengasuh PP Annuqayah KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits yang mewakili tuan rumah  menyampaikan, tujuan kegiatan itu juga untuk menguatkan peran BASSRA sebagai representasi ulama pesantren dalam dakwah bil-hal yang suportif memberi solusi untuk masyarakat.

Sinergi aktif pemerintah daerah bersama ulama pesantren dan komunitas petani tersebut, juga untuk memberdayakan pertanian komoditas unggulan lokal seperti garam dan tembakau dalam satu masterplan pengembangan.

Bacaan Lainnya

Pengasuh PP Annuqayah daerah Lubangsa itu berjanji, hasil pertemuannya akan memberikan rekomendasi yang akan ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Khususnya komoditas garam dan tembakau, karena belum ada regulasi yang langsung menyentuh kepada petambak atau petani.

Pertemuan di PP Annuqayah akan ditindaklanjuti dengan penyusunan rekomendasi pada rapat internal BASSRA untuk dikirim kepada Presiden RI.

“Bersama ulama serta pemkab se-Madura, garam dan tembakau akan dimasukkan ke dalam komoditas pokok dan penting agar ada peraturan presiden (perpres) dan regulasinya jelas,” katanya, Minggu (19/12/2021).

Selain itu, penguatan akhlakul karimah, sebagai solusi degradasi moral masyarakat Madura berkenaan dengan kriminalitas, khususnya penyebaran narkoba yang berdampak pada berbagai kemerosotan perikehidupan.

“Ini juga sangat penting dan akan terus dilakukan pendekatan terhadap masyarakat,” paparnya.

Menurut pria yang familiar disapa Ra Mamak itu, pertemuan sebelumnya sudah terlaksana di Sampang. Pertemuan itu menghasilkan rekomendasi perbaikan jalur antar provinsi yang sering macet.

Pertemuan kali ini, para Ulama Madura membahas persoalan komoditas andalan petani Madura, yakni harga Garam dan tembakau yang setiap tahun tidak kunjung menguntungkan petani. “Semoga masalah ini cepat berlalu,” tukasnya.

Sekretaris Jenderal BASSRA KH. Syafi’ Rafi’i mengatakan, Bassra sebagai organisasi terbuka bagi para pengasuh pesantren-pesantren secara umum di Madura, dengan tetap mempertahankan keorganisasian melalui struktur koordinator pada masing-masing daerah di setiap kabupaten di Madura

Perhatian BASSRA adalah pada faktor ekonomi kerakyatan dan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, termasuk dalam hal ini masalah pertanian dan juga moralitas masyarakat sebagai sumber dari berbagai permasalahan lainnya di Madura.

“Jadi, Bassra sudah berperan aktif dalam membangun Madura,” tukasnya.

Ketua Umum BASSRA, RKH. Muhammad Rafi’i Baidlawi yang sekaligus Pengasuh PP. Al-Hamidy, Banyuanyar Pamekasan mengharapkan agar pertanian tembakau dan garam yang merupakan andalan masyarakat Madura kembali berjaya dengan komitmen bersama.

“Pertemuan Annuqayah akan ditindaklanjuti dengan penyusunan rekomendasi pada rapat internal BASSRA untuk dikirim kepada presiden RI,” tandasnya.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi juga menegaskan, kebijakan garam harus menjadi perhatian pemerintah pusat, karena pemerintah tingkat kabupaten hanya menjalankan arahan. Harapannya, pemerintah pusat diharapkan dapat melihat dan berbicara langsung dengan para petani tembakau sehingga bisa mengetahui dan memahami dengan baik permasalahan di bawah.

“Pemerintah Kabupaten Sumenep akan memfasilitasi komunikasi dan aspirasi itu,” ucap Fauzi.

Sementara itu, perwakilan petani, Yoyok Triyono, juga memohon regulasi agar menetapkan harga minimum tembakau iris Rp50.000 per kilogram, menunda kenaikan cukai tembakau karena memberatkan perdagangan tembakau, khususnya para petani.

Kemudian, usulan strategis jangka pendek, memohon komoditas garam agar dimasukkan dalam bahan kebutuhan pokok dan penting sehingga dapat terfasilitasi oleh perpres.

Dia memohon clustering garam yang adil, sehingga tidak terjadi ketimpangan dalam pengelolaan garam industri dan konsumsi.

“Selamatkan harga tembakau dan garam,” bebernya.

Acara tersebut dihelat di Aula Asy-Syarqawi, Pondok Pesantren (PP) Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Minggu (19/12/2021) mulau pukul 10.00 hingga 13.00.

Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Ketua HKTI, Jenderal TNI Dr. H. Moeldoko, diwakili oleh Deputi 3 Bidang Perekonomian, Panutan S. Sulendra Kusum melalui sambungan aplikasi Zoom.

Sedangkan dari unsur bupati, selain  Bupati Sumenep Achmad Fauzi, juga ada wakil bupati Sampang  dan perwakilan petani garam dan tembakau sebagai pembicara.

Reporter: Imam Mahdi

Redaktur: Wawan A. Husna

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.