oleh

Ulama Madura Sepemahaman dalam Penanganan Jenazah Corona

Kabarmadura.id-“Jika misalnya tidak bisa disucikan dengan cara ditayamumin atau dimandikan, maka menurut pendapat jumhur ulama Mazhab Syafi’i, tidak perlu dishalatkan,” Ustaz Fathor Rosyid, Ketua LBMNU Pamekasan.
“MUI pusat juga sudah memberikan fatwa seperti itu. Kalau masih sanggup, maka harus dimandikan, diberikan kain kafan dan dishalatkan. Karena dalam agama harus seperti itu. Itu kalau memungkinkan dilakukan oleh tim medis,” KH. Syarifuddin Damanhuri, Ketua MUI Bangkalan.
“Semoga tidak terjadi di Sumenep. Untuk sementara kami memang mengeluarkan fatwa agar masyarakat yang sudah dinyatakan positif diharamkan untuk bergaul dengan masyarakat sekitar. Saya sudah sampaikan itu. Kalau terjadi, ya pasrahkan kepada petunjuk medis, termasuk penanganan jenazahnya,” KH Syafraji, Ketua MUI Sumenep.

Ulama Madura Sepemahaman Penanganan Jenazah Corona
Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Pamekasan Ustaz Fathor Rosyid menegaskan, ada perlakuan khusus terhadap jenazah yang terkena Corona. Apabila nantinya dari orang yang terpapar pendemi Covid-19 dimandikan oleh dokter khusus, maka bisa disholatkan sebagaimana mestinya.
“Jika misalnya tidak bisa disucikan dengan cara ditayamumin atau dimandikan, maka menurut pendapat jumhur ulama Mazhab Syafi’i, tidak perlu dishalatkan. Pendapat yang kuat jika sudah tidak dimandikan dan tidak ditayamumin itu, sudah tidak wajib dishalati, karena mayit ini sudah tidak suci. Kalau menurut Imam Romli, itu ada yang membolehkan tidak apa-apa dishalati, tapi pendapat yang kuat dari Mazhab Syafi’i, itu tidak wajib dishalatkan,” ujarnya.
Secara umum, tambahnya, dalam mengurus janazah ada ada 4 tahapan, yaitu memandikan, dilakukan untuk membersihkan dari kotoran, menyucikan dari najis; mengafani jenazah dengan membungkus seluruh tubuh jenazah dengan kain kafan, sehingga tubuhnya tidak ada yang terbuka sedikit pun; menyolatkan jenazah yang dikerjakan sebanyak 4 kali takbir dalam rangka mendoakan orang muslim yang sudah meninggal; dan terakhir menguburkan jenazah, yakni memasukannya ke liang lahat yang telah disediakan.
Di tempat terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bangkalan KH. Syarifuddin Damanhuri menuturkan, jenazah yang sudah meninggal, dalam agama Islam harus dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan. Kemudian jenazah wajib dishalatkan. Untuk itu, ia menyampaikan, MUI pusat juga memberikan fatwa bahwa jenazah yang terpapar Covid-19 harus dimandikan, dikafani dan disholatkan oleh tim medis kesehatan jika masih sanggup.
“MUI pusat juga sudah memberikan fatwa seperti itu. Kalau masih sanggup, maka harus dimandikan, diberikan kain kafan dan dishalatkan. Karena dalam agama harus seperti itu. Itu kalau memungkinkan dilakukan oleh tim medis,” terangnya.
Kembali lagi berdasarkan fatwa agama Islam, menurutnya, jenazah tidak sah dishalatkan jika tidak dimandikan. Untuk itu, ia juga meminta, pada tim medis kesehatan sesuai fatwa agama Islam bagi jenazah yang beragama Islam, harus diberlakukan sebagaimana mestinya.
“Tapi kalau dalam keadaan darurat, kalau memang tim kesehatan tidak sanggup, boleh-boleh saja tidak dimandikan dan dishalatkan. Tapi kalau sanggup, ya harus dimandikan dan dishalatkan,” tandasnya.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep KH Syafraji berpendapat, untuk di Sumenep sendiri jika sudah terjadi, maka terkait prosedurnya maka tetap diserahkan kepada tim ahli, yaitu tim medis yang memang direkomendasikan untuk mengurusi Covid-19. Termasuk mekanisme pemakamannya tetap mengikuti petunjuk teknis (juknis).
“Semoga tidak terjadi di Sumenep. Untuk sementara kami memang mengeluarkan fatwa agar masyarakat yang sudah dinyatakan positif diharamkan untuk bergaul dengan masyarakat sekitar. Saya sudah sampaikan itu. Kalau terjadi, ya pasrahkan kepada petunjuk medis, termasuk penanganan jenazahnya” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Khusus pencegahan Covid-19 Sumenep dr. Andri Dwi Wahyuni menjelaskan, untuk penanganan atau prosedur penguburan jenazah yang terdeteksi Covid-19, pihaknya menyerahkan kepada rumah sakit yang memang direkomendasikan untuk mengatasi pasien Covid-19.
“Jika ada yang ODP, ODR dan sebagainya langsung dirujuk. Kalau tidak ke Pamekasan, ya ke Bangkalan. Itu kalau di Madura, ya. Kami memastikan saja, termasuk kalau pun ada yang positif nanti dan meninggal, maka kami juga memasrahkan ke rumah sakit tersebut,” paparnya.
Sementara untuk pendampingan psikologis terhadap keluarga, pihaknya akan memaksimalkan tenaga medis yang ada di Sumenep. Sehingga, hal itu menjadi solusi sementara antisipasi pencegahan penularan Covid-19.
Adapun yang memandikan jinazah yang terpapar penyakit menular tersebut, ada penanganan khusus dari petugas. Bahkan dalam penangannanya, sesuai dengan agama masing-masing.
“Cara memandikannya sama dengan ajaran agama masing-masing, tidak bertentangan. Karena di rumah sakit sudah ada petugasnya,” imbuhnya.
Tak hanya itu, rumah sakit sudah menyediakan petugas sesuai SOP. Karena di rumah sakit sudah terbiasa manangani jenazah yang dialami dengan penyakit menular, seperti HIV.
Bahkan untuk pendamping pesikolog terhadap keluarga yang ditinggal, rumah sakit sudah tersedia, karena di rumah sakit sudah ada dokter kejiwaannya.
“Semuanya sudah lengkap, karena rumah sakit sudah ada dokter sepesialis kejiwaan,” tuturnya.
Kendati demikian, semisal ada jenazah terpapar Covid-19, pihaknya menginformasikan kepada publik. Hanya saja meski diinformasikan secara publik, masyarakat atau keluarga korban tidak diizinkan untuk membuka jenazah tersebut.
Termasuk saat dimakamkan pun, pihak keluarga tidak boleh ikut, kecuali ada pelindungan diri, tidak boleh membuka peti yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
“Semoga aja tidak ada. Adapun untuk informasi jenazah Covid-19 tetap akan menyampaikan secara publik, namun jenazah tetap tidak bisa dibuka. Cukup dengan perawatan dari rumah sakit, dan pihak keluarga hanya bisa menyalatkan saja,” akunya
Adapun jarak dan kedalaman makam, pihaknya tidak membedakan, antara jenazah Covid-19 dan jenazah pada umumnya. Sehingga, pihaknya tidak menyediakan lahan pamakaman khusus karena jenazah boleh dimakamkan di makam umum seperti makam biasanya.
“Bisa dimakamkam di mana pun, tidak ada perlakuan khusus, yang penting harus tetap dalam peti dari rumah sakit. Terkait kultur masyarakat Madura yang mayoritas muslim tidak bermasalah, karena perawatan jenazah tetap dirawat seperti biasanya,” tutupnya. (rul/ina/ara/mal/nam)

Komentar

News Feed