oleh

Universalitas dalam Sastra Kita

Oleh Irawaty Nusa

Banyak karya sastra yang ditulis Ronggowarsito (1802-1873 M) dalam kaitannya dengan kekuasaan, kekayaan dan syahwat yang merupakan simbol dari kehausan orang Nusantara dalam mencari kebenaran. Wilayah Solo, Surakarta, tempat kelahirannya, yang juga tempat kelahiran Presiden Jokowi, memang dikenal sebagai sentrum mistik kejawen.

Di daerah itu, tidak sedikit pujangga-pujangga Jawa melahirkan karya-karya sastra brilliant yang berkecimpung dalam pergulatan antara dunia timur dan barat.

Ronggowarsito bahkan mengilhami seorang penyair terkenal kelahiran Inggris, Rudyat Kipling yang pernah menulis puisi mutakhir berjudul “The Ballad of East and West”. Karya-karya Kipling yang terkenal itu, bila ditinjau dalam konteks masa kini, tak ubahnya dengan analisis Snouck Hurgronje yang berhasil merangkai kata-kata semboyan kolonialis Eropa untuk kepentingan menancapkan kaki penjajahan di Nusantara dan seluruh benua Asia-Afrika.

Secara implisit terkandung pesan di balik rangkaian puisi Kipling, yakni suatu konsep sastra yang membenarkan kenyataan bahwa ras bangsa Barat (kolonialisme Eropa) seakan-akan lebih tinggi derajatnya daripada ras bangsa-bangsa terjajah (Asia-Afrika). Rangkaian kata dalam puisi tersebut menjadi kekuatan ras Barat dalam melegitimasi penjajahan dan penjarahan terhadap kekayaan alam dan harta milik ras Timur.

Fenomena kolonialisme yang terjadi hingga pertengahan abad ke-20 bukan hanya dalam bentuk penjajahan secara fisik, melainkan penjajahan pikiran dan intelektual. Meskipun Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, tetapi cita-rasa dan alam pikiran kita belum bebas dari sisa-sisa penjajahan tempo dulu. Penjajahan pikiran ini tercermin dalam berbagai mitologi-mitologi yang terus dipelihara Belanda, seperti mitos Ratu Adil, satrio piningit, atau Nyi Roro Kidul. Termasuk memandang sosok Diponegoro hingga Soekarno yang lebih kental dengan nuansa sakral dan mistis, ketimbang kualitas intelektual dan karya-karya sastra mereka yang cemerlang.

Begitupun halnya ketika Belanda memandang sebelah mata pada sosok legendaris Ronggowarsito, selalu saja dikonotasikan dengan mitos-mitos tak rasional dalam batasan seorang peramal maupun ahli nujum yang memiliki kekuatan supranatural. Di berbagai buku, artikel, seminar, hingga skripsi dan disertasi, tidak jarang para akademisi dan intelektual kita ikut-ikutan genit menempatkan sosok Ronggowarsito sebagai peramal daripada filosof dan sastrawan besar yang pernah dimiliki bangsa ini.

 

Sastra sebagai Media Dakwah

Nuansa religiositas pada karya-karya Ronggowarsito sangat mengandung muatan dakwah, syiar, power of influence, bahwa karya sastra bukan semata-mata diperuntukkan untuk wahana seni dan hiburan semata. Karya sastra bukan semata-mata berekspresi untuk “membenarkan kenyataan”, tetapi harus “menyatakan kebenaran” kepada publik.

Perhatikan salah satu dari petikan karyanya yang terkenal (Serat Kalatida): Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi, milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni, boya kadumen melik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja begjane kang lali, luwih begja kang eling klawan waspada.

Bila diterjemahkan secara bebas, karya tersebut mengandung arti: Menyaksikan zaman gila, di mana-mana orang baik sulit bertindak, sampai-sampai tidak tahan untuk ikut gila, karena dia merasa bahwa dengan bergelimang dalam kegilaan dia akan kebagian, namun orang baik memilih hidup dalam keterbatasan karena hal itu sudah merupakan takdir Allah. Hingga pada akhirnya, sebahagia-bahagianya orang yang lupa-diri, akan lebih bahagia orang yang sanggup menahan-diri dan selalu ingat dan waspada.

Ketika diterjemahkan secara arif dan bijak, dalam konteks kekinian dan keindonesiaan, nampaknya sosok fenomenal yang dijuluki sebagai “peramal” itu tidak sesuai disandang Ronggowarsito. Sebab, ia seorang penyair besar, pujangga dan filosof Nusantara (Jawa) yang memiliki kecerdasan linguistik yang luar biasa, daripada sekadar memposisikannya sebagai seorang peramal dan ahli nujum. Gaya bahasanya memiliki sistematika berpikir yang logis bila dikaji dari sudut pandang filsafat.

Bahkan, sebagian puisi-puisinya mengandung kebenaran yang pada gilirannya akan terbukti oleh sejarah. Hal itu merupakan keniscayaan yang dimiliki para budayawan dan sastrawan manapun di seluruh dunia. Karena, pola pikir mereka memang tak lepas dari kebenaran dan kejujuran dalam memandang realitas dan zamannya.

Dari perspektif kolonialis Belanda, rupanya mereka keberatan dengan julukan Ronggowarsito sebagai sastrawan dan filosof. Permainan semantik seperti biasa mereka propagandakan. Mereka lebih menghendaki sejarah literasi Nusantara mengacu dari karya-karya intelektual Belanda (Barat). Ironis sekali, kolonialisme Belanda kemudian merasa puas dengan menjuluki Ronggowarsito – sebagaimana memosisikan figur Diponegoro – sebagai tokoh mistis, cenayang dan peramal, yang kemudian dikunyah mentah-mentah oleh sebagian intelektual dan akademisi kita.

Tetapi dalam konteks milenial ini, di saat tidak lagi ada sekat-sekat primordial untuk memperkenalkan karya sastra dari zaman ke zaman, kita semua telah mengenal Diponegoro melalui karyanya yang fenomenal, “Babad Diponegoro”. Karya sastra yang bersifat otobiografis itu akhirnya diakui UNESCO pada 2012 lalu, sebagai memori kolektif dunia.

 

Sastra dan Pendidikan Religiositas

Untuk pendidikan sastra Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, selain karya-karya Ronggowarsito dan Diponegoro (pribumi), perlu juga kita berkaca pada karya sastra asing seperti Orhan Pamuk (Turki) maupun Najib Mahfudz (Mesir), dua pujangga yang sama-sama meraih penghargaan nobel di bidang kesusastraan.

Dalam sebuah roman trilogi berjudul “Antara Dua Istana”, Mahfudz melukiskan perseteruan antara kepercayaan pada adat yang dianggap keramat dengan tuntutan kemanusiaan yang harus menjadi pijakan keluarga-keluarga Mesir. Persoalan-persoalan yang dikemukakan sebenarnya hanya realisme ringan, tetapi selalu mengandung permasalahan eksistensial yang gawat. Pelukisan karakter yang mengundang simpati, betapa di ranah Nusantara seringkali kita menghadapi tradisi-tradisi yang dikeramatkan hingga menjadi aturan baku yang seolah-olah “hukum agama”.

Tradisi yang dikeramatkan itu diungkap dengan gaya bahasa yang luar biasa merakyat, seperti juga pada karya lainnya, “Lorong Midaq” yang menggambarkan dunia pelacuran di lorong-lorong perkotaan Mesir pada pertengahan abad ke-20. Dengan mengungkap pemberontakan dan pergolakan kaum wanita yang menuntut persamaan hak. Namun, ketika tuntutan itu tidak ditemukan penyelesaiannya dalam kehidupan rumah-tangga, serta pemerintah tak punya kesanggupan meningkatkan taraf hidup rakyat, akhirnya wanita-wanita Lorong Midaq, suatu daerah yang dikenal religius sekalipun, tetap memiliki potensi besar untuk menyeleweng dari rel-rel keagamaan.

Gugatan kepada iklim kapitalisme, tanpa harus menyatakan “ulah kaum kapitalis” dikemukakan secara genuine dalam gaya sastra kontemporer. Secara implisit, Mahfudz menyatakan, betapa suatu masyarakat yang berekonomi lemah, yang terlindas oleh kebutuhan-kebutuhan konsumsi yang harus mengikuti mode maupun tren zaman, sangatlah rawan bagi mereka untuk berpaling dari jalan yang benar. Hal ini sudah diwanti-wanti oleh peringatan Nabi Muhammad bahwa, “Kemiskinan dan kemelaratan adalah jalan mudah untuk berbelok kepada kekufuran.”

Karya-karya sastra yang menampilkan realitas kehidupan manusia pada zamannya, seakan-akan menciptakan benteng pengamannya sendiri. Ia tak bisa ditembus oleh segala macam hoaks dan kebohongan yang diperuntukkan untuk kepentingan politis sesaat belaka. Dengan demikian, betapa nisbi dan semu segala keangkuhan intelektual manusia di hadapan universalitas sastra. Betapa dangkal orang yang mudah menebar fitnah dan mendiskreditkan pihak lain (liyan) serta merasa dirinya paling bersih dan suci.

Di berbagai isu dan rumor melalui media sosial, seakan-akan begitu mudah seseorang atau sekelompok orang yang berani mengultuskan kelompoknya paling benar, bahkan menjamin dirinya sebagai ahli surga. Tetapi dalam konteks sastra, siapa yang berani menjamin bahwa seorang pelacur yang memberi minum pada seekor anjing kehausan, tidak berhak baginya mendekati pintu surga? Apakah segampang itu surga terbeli oleh suatu keyakinan konservatif yang dangkal, urik, dan gampang mempolitisasi agama dan Tuhan?

Seringkali, sebagian masyarakat terlampau mengusik kadar keimanan dan keyakinan pihak lain. Sementara, wilayah sastra bicara dalam konteks membaca diri, bahwa keimanan yang sebenarnya adalah apa yang tersirat dalam kalbu, dan dibenarkan oleh tingkah laku. Karya sastra lebih fokus pada upaya muhasabah dan introspeksi diri, bahwa di mata Tuhan boleh jadi apa-apa yang mereka perjuangkan sebagai “ibadah” tahu-tahu tidak masuk dalam kategori “takwa” yang dikehendaki oleh-Nya.

Inilah yang membedakan nilai-nilai religiusitas dengan formalisme hukum agama. Sebagaimana karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Hafis Azhari maupun Y.B. Mangunwijaya, yang banyak menggugat ketidakadilan sistem, pada prinsipnya yang mereka perjuangkan adalah nilai-nilai humanitas dan kemanusiaan. Karena itu, bersifat lintas religi, melampaui formalisme hukum agama (lokalitas), serta membawa nilai-nilai peradaban Indonesia ke kancah universalitas sastra dunia. ***

*  Esais dan cerpenis generasi milenial, peneliti historical memory Indonesia

Komentar

News Feed