Urgensitas Tabayyun di Era medsos

Oleh: Moh. Toyyib*)

Setiap hari manusia dicekoki berbagai informasi di dunia maya yang kemudian diangkat ke dunia nyata sebagai bahan ghibah. Padahal informasi yang diterima baik melalui tulisan maupun video belum tentu valid kebenarannya.

Keberadaan media sosial (medsos) memang banyak sekali memberikan manfaat dan kemudahan bagi para penggunanya. Tapi, juga harus disadari oleh netizen, medsos juga penuh dengan jerat-jerat yang sangat berbahaya. Para user yang tidak awas, akan terperangkap tanpa mereka sadari.

Adapun user yang cerdas, selalu membentengi dirinya dengan Ilmu pengetahuan, akan mawas diri dan sedapat mungkin menjauhkan dari dari hal-hal negatif. Alhasil, sudah menjadi kewajiban bagi para user medsos untuk selalu sadar akibat yang akan ditimbulkan oleh penyalahgunaan medsos pada hal-hal yang bertentangan dengan kemaslahatan umum.

medsos dengan segala kontroversi yang melingkupinya cenderung membuat hal-hal yang prinsip menjadi abu-abu. Mirisnya lagi, sekat antara hal-hal yang sudah menjadi maklum didunia nyata, kadang menjadi abstrak karena kealpaan netizen memahami esensi medsos sebagai “kehidupan baru” yang aturan dan normanya belum “disepakati” bersama. Terkadang yang dinilai baik dan menguntungkan belum tentu benar. Tapi, karena konsep manusia “Terimalah yang baik meskipun itu tidak benar” sering menjadikan manusia terlelap dengan kebohongan.

Setiap netizen pasti mempunyai skill yang diselaraskan dengan kepentingan masing-masing. Misalnya, salah satu user ada yang mengolah kata supaya kelihatan jelek, sementara yang lain dikelola supaya kelihatan baik. Keduanya sama-sama tidak jelas. Tapi, muara yang menjadi capaian adalah adanya saling klaim kebenaran, sementara yang lain akan dinilai keliru.

Sudah menjadi kodrat manusia untuk tidak pernah lepas dari kabar baik ataupun buruk, baik di dunia nyata atau dunia maya. Ibaratnya, berita itu seakan mangga yang harus dipetik tiap hari dan ditempatkan dalam keranjang yang sama. Tetapi, kadang dikhawatirkan ada mangga yang busuk dan menular pada mangga yang lain. Maka yang perlu dilakukan adalah mengamati dan men-sortir mangga-mangga tersebut untuk kemudian dikembalikan pada tempat yang semestinya. Mangga yang baik kembali masuk keranjang dan mangga yang jelek ditempatkan ke “wadah” yang semestinya.

Wadah yang berisi mangga, tak ubahnya pikiran manusia yang setiap hari menerima informasi. Membuang mangga yang sudah busuk agar tidak menular ke mangga yang masih bagus merupakan interpretasi analogis dari: membuang informasi yang tidak penting agar tidak mengacaukan isi-isi yang penting. Cara terbaik adalah dengan meragukan semua apa yang hinggap dipikiran. Biarkan semuanya masuk kepikiran kita untuk selanjutnya kita ambil yang kredibel dan tidak diragukan lagi validitasnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh seorang Filsuf Modern, Descartes, yakni: “meragukan semuanya.”

medsos tak ubahnya “pasar bebas’ dengan bejubel berita yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Berita-berita tidak sesuai realita seakan menjadi trademark kekhasan-nya. Seakan hoax menjelma sebagai bagian tak terpisahkan dan terus mendapat tempat. Padahal, kode etik memproduksi berita atau tulisan adalah harus jujur, tidak mengurangi atau menambah substansi tulisan yang dipublikasikan. Realitasnya, sering ditemukan tulisan yang disampaikan berbeda dengan konteks yang sebenarnya, sehingga maknanya pun juga tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sayyidina Ali KW. pernah berkata: “Semua penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti”.

Menulis sesuatu yang tidak sesuai realita merupakan suatu bentuk kemaksiatan. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Bidayah: “Pena adalah salah satu dari dua lisan. Maka dari itu jagalah dari sesuatu yang wajib dijaga oleh lisan, seperti halnya namimah, ghibah, menyebarkan kabar-kabar hoax”.

Aturannya, seorang dilarang menulis apapun yang diharamkan untuk diucapkan. Semua tentang dosa-dosa pena itu seperti halnya lisan, tidak dipungkiri pena merupakan salah satu dari dua lisan. Bahkan, dampak tulisan di zaman seperti sekarang yang serba internet, jauh lebih besar dan lebih membekas. Atas dasar itulah, seorang netizen harus menahan tangannya menulis kebohongan, kemungkaran dan apapun yang “unfaedah”.

Demikian ketika dihadapkan pada pilihan sebagai konsumen tulisan ataupun berita di medsos. Sifat bijaksana harus mampu menempatkan diri secara proporsional, demi setidaknya tidak tercebur menjadi bagian afiliator hoax. Setiap yang diproduksi, sharing atau bahkan sekedar membaca haruslah sesuatu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Disinilah klarifikasi atau tabayyun harus menjadi penyaring setiap informasi yang diproduksi atau disebar luaskan. Pasalnya, secara hakikat, tidak ada satupun kalimat yang disampaikan melainkan tertera dalam catatan “para pengawas” yang ditugaskan Sang Pencipta.

Tabayyun harus menjadi kesadaran setiap user medsos. Setiap informasi yang terlanjur disebarkan tidak akan pernah tergantikan melalui revisi. Roland Barthes, seorang filsuf, menyebutnya sebagai “Matinya seorang pengarang”. Maksudnya, tulisan yang terlanjur menjadi konsumsi publik tidak pernah tergantikan dengan alasan apa pun. Mungkin saja untuk dikoreksi, akan tetapi secara hakikat tulisan itu sudah “menemui” objek yang dituju. Tentu, melupakan sesuatu yang pernah singgah tidak akan semudah menghapus jejak langkah pada sebidang tanah gersang.

Allah SWT telah mengingatkan akan urgensi tabayyun ketika menerima kabar yang masih diragukan keabsahannya. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya dalam surat Al-Hujurat Ayat 6. Tabayyun dimaksudkan untuk menghidarkan penerima informasi agar tidak menyesal di kemudian hari. Terkadang, suatu yang dinilai baik secara sepintas, malah berbuah mudarat ketika dibiarkan mengalir sendiri tanpa adanya koreksi. Ibarat bola salju.

Seperti yang dianalogikan oleh Gus Nadirsyah Hosen: “Jika di kerumunan pasar tiba-tiba ada yang berteriak ‘Copeeet’ sambil menunjuk ke arah anda, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Kerumunan langsung menghakimi anda, tanpa sempat lagi melakukan verifikasi: ‘Benarkah anda copetnya?’ Atau yang lebih krusial lagi, ‘Benarkah dompet ibu di sebelah anda itu hilang karena dicopet atau memang ibu ini dompetnya ketinggalan di rumah?”

Sayangnya, kadang skenario di atas juga terjadi di medsos. Meski menggunakan smartphone, tetapi pada hakikatnya tidak lebih dari kerumunan di dunia maya yang bersikap hiperaktif tanpa sempat tabayyun terlebih dulu sebelum bereaksi, yang dampaknya sendiri bahkan mereka tidak tahu hal itu dapat merugikan orang lain.

Setidaknya, terdapat 69,2 juta pengguna aktif Instagram, 52,4 juta Twitter serta 140 juta pengguna aktif Facebook. Hal itu berarti, ketika sekali pencet tombol share di layar smartphone satu tulisan yang mengandung kemudaratan, maka sejumlah ajaran Nabi dilanggar seketika: harus tabayyun, jangan ghibah, jangan mencari-cari kesalahan orang lain, membuka aib diri sendiri dan orang lain yang dapat merusak kehormatan.

Entah apa sebabnya, terkadang seseorang lebih gampang mempercayai sesuatu yang belum pasti. Asalkan sesuai keinginan diri atau kelompoknya, tanpa pikir dua kali langsung share di akun pribadinya, sesuai kesenangan hati. Jadi yang penting, bukan tentang benar atau tidaknya suatu berita, melainkan apakah ia senang atau tidak dengan isi berita tersebut.

Nampaknya, dunia ini sudah benar-benar berada di fase Post Truth, di mana manusia tidak lagi mementingkan isi, tapi lebih suka mengedepankan fanatisme golongan. Benar-salahnya sesuatu bukan lagi menjadi ukuran, yang penting sesuai “pesanan” golongan, mau ataupun tidak, harus menjadi konsumsi yang diminati. Akal sehat tidak lagi menjadi ujung tombak, tapi sekedar penguat argumentasi untuk membenarkan kepentingan kelompok tertentu.

Walhasil, tabayyun harus menjadi pedoman paten bagi umat muslim, khususnya di era medsos seperti sekarang ini. Rekonstruksi terhadap model tabayyun harus digalakkan sebagai upaya menjawab kebutuhan zaman.

Alasannya, banyak sekali perselisihan terjadi disebabkan kesalahan memahami informasi dan kurangnya klarifikasi terhadap tulisan-tulisan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Jika seseorang tidak memverifikasi dan melakukan klarifikasi terhadap “apa” yang mereka konsumsi, khawatir kebiasaan tersebut akan menimpakan kecelakaan kepada orang lain tanpa kita sadari.

*) Penulis merupakan alumnus Fakultas Dakwah IAIMU Pamekasan yang masih berstatus santri aktif di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.