Usaha Melestarikan Batik Indonesia

  • Whatsapp

Batik sebagai warisan leluhur bangsa semakin dikenal luas oleh publik internasional. Dunia pun mengakui bahwa batik merupakan khazanah kekayaan asli Indonesia. Beberapa tokoh dunia juga pernah memakai batik Indonesia. Di antaranya yaitu Nelson Mandela yang mengenakan batik ketika menghadiri sebuah acara formal “The Elders” tahun 2007, aktris Julia Robert yang mengenakan batik pada film “ Eat, Pray, Love”, Bill Gates yang memakai batik tatkala memberi kuliah umum di Jakarta Covention Center (JCC) pada tahun 2008, tidak pula ketinggalan Zinedine Zidane yang berbusana batik ketika bertandang ke Indonesia pada tahun 2007, dan tentunya masih banyak lagi yang lainnya. Artinya, batik pamornya mulai mengglobal. Warga dunia mulai menaruh minat terhadap batik.

Saat ini, batik kita sedang mengalami tantangan global. Kita sedang berada di era di mana sekat-sekat jarak dan ruang mulai teratas. Perdagangan internasional mulai gencar dilakukan antarnegara. Berbagai macam produk luar negeri mulai membanjiri Indonesia. Tidak ketinggalan juga produk-prodouk tekstil. Tentu saja hal ini tidak lepas dari diberlakukannya CAFTA (China Asean Free Trade Area) pada tahun 2010. Barang-barang dari China dan kawasan Asia lainnya mulai banyak di pasaran. Apalagi sebagian besar produk China dikenai tarif nol persen untuk masuk ke Indonesia. Produk China yang berupa batik printing mulai banyak beredar di pasaran.

Nugrayasa (2014) berpendapat bahwa gencarnya komoditas produk-produk impor khususnya yang menyerbu dari Tiongkok, Italia, Hongkong, Korea Selatan, dan Jepang ini merupakan implikasi dari berlakunya perdagangan bebas di kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan Tiongkok. Indonesia seharusnya mampu menciptakan infrastruktur yang memadai guna mengantisipasi serbuan produk impor yang menghantam produk lokal yang berpotensi menggerus keuangan devisa negara. Kelemahan pengelolaan produk lokal di tanah air adalah akibat daya saing yang sangat lemah serta tidak mampu berkompetisi produknya dengan produk impor.

Selain itu, Nugrayasa juga menambahkan bahwa untuk meningkatkan daya saing industri agar tidak semakin merosot, Indonesia harus mengantisipasi kelemahan kompetensi industri tanah air agar dapat lebih ditingkatkan baik kompetensi perusahaan maupun kompetensi sumber daya manusianya. Beberapa kelemahan kompetensi yang  mengemuka sepertinya banyak perusahaan yang tidak mempunyai kemampuan untuk berinovasi. Perkembangan teknologi yang begitu pesat belum dimanfaatkan secara optimal oleh tenaga kerja yang bergelut di bidang batik. Padahal salah satu kunci untuk bertahan dan berkembang di era globalisasi yaitu mampu memanfaatkan teknologi.

Batik-batik printing yang menyebar di pasaran menjadi ancaman tersendiri bagi keberlangsungand serta keberlanjutan industri batik skala kecil. Termasuk para pengrajin yang tinggal di banyak sentra/ kampung batik yang tersebar di seluruh Indonesia. Para pengusaha batik akan sulit menembus pasar global tekstil impor itu semakin hari semakin diminati oleh warga dibandingkan batik asli Indonesia. Padahal dari segi kualitas memang sangat jauh. Batik Indonesia yang dikerjakan secara manual jauh lebih memilikii nilai seni dan estetika yang sangat tinggi. Wajar jika harganya cukup mahal. Hanya saja ketika batik printing semakin hari semakin banyak di pasaran, otomatis minat masyarakat perlahan akan bergeser. Masyarakat akan mencari batik printing yang harganya memang sangat murah. Sekali lagi, ini adalah ancaman yang benar-benar nyata yang sedang kita hadapi. Belum lagi, nantinya para pengrajin batik yang dikhawatirkan akan berpindah profesi karena tidak adanya penghasilan dari kerajinan yang mereka geluti. Lantas bagaimana nasib pelestarian batik sebagai identitas budaya dan jati diri bangsa?

Pemerintah diharapkan mampu bergerak cepat dalam mengatasi dampak perdagangan bebas ini bagi nasib kelesatatian batik. Harus ada misi kebudayaan dan ekonomi dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan. Keberpihakan pemerintah kepada para pengrajin dan pengusaha batik mestinya tidak sekada wacana. Penerapan dalam kebijakan dan regulasi harus kongkrit adanya. Kita tidak mau industri batik di Indonesia mengalami penurunan yang drastis karena serbuan produk China yang murah-murah. Apalagi batik adalah budaya asli leluhur yang kita semua bertanggungjawab dalam melestarikannya. Produk kain impor bermotifkan batik harus segera dibatasi.

Masyarakat juga perlu diedukasi antara bedanya kain bermotif batik dengan batik tulis yang dikerjakan secara manual. Selain itu, kita yang sudah terlanjur berada di era globaliasi, mau tidak mau harus siap menghadapi segala akibat dari bebasnya keluar masuknya produk mancanegara. Persiapan dilakukan dengan cara meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Peka dalam melihat peluang dengan memasarkan batik Indonesia ke dunia internasional dengan mamanfaatkan media sosial. Pemasaran di era digital bisa menembus segala penjuru dunia hanya dengan bermodalkan paket data. Selain itu, pemerintah perlu mengatur seketat mungkin agar kain-kain printing yang merusak pasaran bisa dibatasi kuotanya. Bisa juga dengan memudahkan dan membebaskan dari segala biaya bagi para pengusaha yang hendak mengekspor batik. Hal tersebut sebagai stimulus pemerintah untuk meningkatkan nilai jual batik di mata warga dunia. Saya harap batik Indonesia tetap memiliki pamor yang tinggi di kancah nasional dan internasional. Karena batik memiliki nilai seni, historis, dan budaya yang tidak dimiliki oleh produk tekstil manapun. Jadi, mari kita sama-sama bergandengan tangan, berjuang dalam melestarikan batik sebagai warisan bangsa.

Penulis tinggal di Desa Klampar (Kampung Batik) Pamekasan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *