Usulan Revisi RTRW di Sumenep Terancam Molor

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) POLEMIK: Sampai saat ini belum ada kepastian terkait usulan revisi RTRW.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Draf review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Sumenep sampai saat ini masih belum ada kepastian. Meski sempat akan dibahas pada Agustus 2021 lalu. Namun revisi RTRW itu ditolak sejumlah pihak, karena terindikasi menghalalkan pengelolaan penambangan fosfat di Sumenep.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep Yayak Nurwahyudi mengatakan, saat ini draf itu masih mentok di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). Padahal untuk revisi RTRW juga membutuhkan rekomendasi dari pusat.

“Padahal Maret lalu kami pastikan di provinsi selesai. April sampai Juni sudah selesai di Jakarta, setelah itu, kami serahkan langsung ke DPRD Sumenep, ternyata hingga hari ini masih mentok di pemprov,” kata Yayak.

Menurut dia, revisi itu tidak akan selesai tahun ini, ada beberapa tahapan pembahasan yang harus dilalui, namun hingga hari ini capaian proses itu masih sangat rendah.

“Itu pembahasan mulai 1 sampai 9 poin, 1 sampai 6 harus selesai di Jatim, poin 7 sampai 9 di Jakarta, dan baru dibahas di Sumenep, paling 2022 itu,” imbuhnya.

Yayak berjanji ketika sudah sampai atau akan dibahas di DPRD Sumenep, maka pihaknya memastikan keterlibatan banyak pihak, seluruh stakeholder dan perwakilan masyarakat.

Yayak memastikan, jika masyarakat keberatan dengan adanya revisi RTRW tersebut, maka sebagai perwakilan pemkab, tidak segan-segan menggagalkan revisi tersebut.

“Setelah selesai proses itu, secara otomatis dibahas dengan tokoh masyarakat dan pihak lainnya. Jika nanti RTRW ditolak, maka secara otomatis ya tidak bisa disahkan,” imbuhnya.

Polemik perubahan RTRW sudah cukup banyak memantik reaksi kelompok masyarakat. Mulai Forum Sumenep Hijau yang terdiri dari ulama sepuh, juga banyak kelompok lain seperti Front Keluarga Mahasiswa Sumenep (FKMS). Bahkan lebih separuh fraksi di DPRD Sumenep ikut menolak.

Komunitas lain yang menolak juga ada Aliansi Mahasiswa Sumenep (AMS), Front Aksi Mahasiswa Sumenep (FAMS), Pemuda Kecamatan Ganding yang mengatasnamakan Solidaritas Sadar Lingkungan Ganding (Solid) dan beberapa komunitas lokal lainnya. (ara/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *