UTM Bersaing dengan Kampus Ternama dalam Pengembangn Potensi Garam


UTM Bersaing dengan Kampus Ternama dalam Pengembangn Potensi Garam
(HUMAS UTM FOR KM) PENINGKATAN KUALITAS: Wakil Rektor II Bidang Administrasi dan Keuangan Dr. Ir. Abdul Azis Jakfar M. T saat menceritakan perjuangan UTM yang mampu bersaing dengan UI dan UGM terkait bidang pengembangan garam.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN - Hingga saat ini, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menjadi universitas negeri di Madura yang mampu bersaing dengan universitas negeri lainnya yang ternama. Hal itu disampaikan oleh Wakil Rektor II Bidang Administrasi dan Keuangan UTM Dr. Ir. Abdul Azis Jakfar M.T.

Dia juga menegaskan bahwa UTM merupakan kampus negeri termurah nomor dua se-Indonesia. Tidak hanya itu, dia juga mengatakan penerimaan keuangan UTM semakin mengalami peningkatan. Terutama dana yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP), sejak tahun 2014, rata-rata meningkat 15,6 persen per tahun. 

“Tentu secara internal peningkatan pengelolaan keuangan ini menjadi bukti keberhasilan kampus bahwa setiap tahun semakin maju,” katanya.

“Kalau dulu saya membawa nama kampus menjelaskan soal pengelolaan keuangan saya hanya bawa Rp400 miliar. Bagi kampus ternama, dana sebesar ini mungkin hanya dikelola oleh satu program studi atau Badan Eksekutif Mahasiswa,” ucapnya.

Sehingga tentu jika berbicara perbandingan soal pengelolaan keuangan UTM jauh berada di posisi paling bawah. Tetapi hal tersebut tidak boleh menyurutkan semangat persaingan UTM untuk menjadi kampus yang unggul. “Kalau saat itu kami menyerah, tentu bisa saja UTM sudah selesai dan hanya menjadi kampus cabang salah satu perguruan tinggi ternama di Surabaya,” ucapnya.

Sehingga untuk mengatasi kegelisahan tersebut, muncul solusi pengembangan yang berbasis klaster Madura. Salah satu yang menjadi penawaran di depan kampus kampus besar itu adalah pengembangan potensi jagung dan garam. 

“Saat kami menjelaskan soal Jagung, mereka masih banyak yang protes dan tidak menerima usulan kami. Tapi saat berbicara garam, mereka semua diam dan sepakat,” jelasnya.

Sehingga dalam hal pengembangan potensi garam, UTM mampu mengalahkan kampus ternama seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada, yang mayoritas pengelolaan PNBP-nya triliunan rupiah. “Kami mungkin kalah soal PNBP dan prestasi, karena memang sumber dana yang dikelola masih dari UKT mahasiswa,” ulas dia.

Sehingga ke depan, upaya pengembangan tersebut harus dilanjutkan dan dikembangkan lebih luas. Agar ketika berhasil menjadi kampus yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU), produk hasil penelitian yang sudah berjalan bisa dijual.

 “Kalau nanti statusnya sudah BLU, bukan tidak mungkin, prestasi dan sarana prasarana di kampus bisa lebih pesat, karena pengelolaan keuangannya juga lebih besar,” tutupnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky