UTM Bolehkan Matkul Keterampilan Dilakukan secara PTM

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) RAMAI: Beberapa mahasiswa saat mulai melakukan aktivitas di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) setelah ada kebijakan PTM.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-40 persen mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mulai diperbolehkan pembelajaran tatap muka (PTM). Karena kondisi Bangkalan berstatus PPKM level 2 dan 3, sehingga kampus negeri tersebut menerapkan protokol kesehatan ketat. PTM itu untuk memberikan kemudahan mahasiswa yang tidak bisa menempuh kuliah secara daring.

Wakil Rektor III UTM Bidang Kemahasiswaan, Agung Ali Fahmi menyampaikan, hanya mata kuliah berbasis pengetahuan yang dilakukan secara daring. Namun yang mengarah ke keterampilan dilaksanakan secara luring. Seperti di laboratorium, bengkel atau kegiatan yang berbasis praktik langsung.

Bacaan Lainnya

Dalam antisipasi penyebaran Covid-19, pegawai dan dosesn telah divaksin, termasuk sebagian mahasiswa.

“Kami juga sudah melakukan vaksin bagi mahasiswa dan umum. Setidaknya ada sekitar 7 ribu dari 17 ribu mahasiswa yang sudah divaksin,” ulasnya.

Agung berharap wabah Covid-19 segera usai. Dengan begitu, semua mahasiswa di UTM bisa masuk kuliah seperti sedia kala. Dia juga mendorong agar seluruh mahasiswa segera mengikuti vaksinasi. Karena setelah semua mahasiswa sudah vaksin, akan dibahas mengenai teknis perkuliahannya.

“Sementara ini hanya perkuliahan yang basisnya praktikum, dan semester tua yang berada di kampus,” ulasnya.

Badrut Tamam, salah satu mahasiswa semester akhir di UTM menyampaikan, perkuliahan praktikum secara PTM membuat beberapa fakultas dari keilmuan lain juga iri. Sebab, jika ingin melakukan PTM, sebenarnya juga bisa ditentukan teknisnya yang lebih aman.

“Saya kira bukan hanya untuk praktikum saja, sebab hampir semua mata kuliah juga memerlukan praktik langsung,” ungkapnya.

Selain itu, keterbatasn pegawai di kampus disebut mempersulit mahasiswa. Selain karena sulit dihubungi, aturan yang digunakan juga tidak menguntungkan mahasiswa. Bahkan lebih sering mendadak dan membuat mahasiswa semester akhir juga kesulitan.

“Aturan yang digunakan saat daring ini perlu diseragamkan, jangan hanya bersifat umum, karena banyak dosen yang memanfaatkan kesempatan ini dengan tidak maksimal,” ucap Badrut.

 

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *