UTM Kembangkan Vanili dengan Rekayasa Cuaca, Targetkan Cocok dengan Iklim Madura

  • Whatsapp
(FOTO: FAPERTA FOR KM) EKSPERIMEN: Universitas Trunojoyo Madura mengembangkan potensi tanaman vanili menggunakan teknologi rekayasa cuaca buatan agar cocok dengan iklim Madura.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Universitas Trunojoyo Madura (UTM) bertekad mengembangkan tanaman vanili di Madura. Vanili yang biasanya hidup di dataran tinggi, kini sedang dikembangkan menggunakan teknologi rekayasa cuaca buatan.

Pengembangan yang dilakukan oleh dosen Prodi Agroteknologi UTM itu, diyakini memiliki peluang bisnis untuk kemajuan sektor pertanian di Madura.

Bacaan Lainnya

Dekan Fakultas Pertanian UTM Dr. Slamet Subairi menjelaskan, pengembangan tanaman vanili merupakan inovasi baru yang dilakukan oleh dosen di fakultasnya. Pengembangannya direncanakan menggunakan teknologi waring atau matahari buatan untuk membuat iklim tiruan. Sebab habitat tanaman vanili memang tidak berada di dataran rendah.

Rekayasa teknologi cuaca itu agar tanaman vanili atau tanaman yang biasa hidup di iklim lembab, bisa juga idup di dataran rendah. Inovasi yang baru dimulai selama 6 bulan itu, masih dalam proses riset dan pengembangan.

“Ini kan masih berjalan, jadi kami juga sedang dalam tahap pengujian dan masih perlu pengalaman,” ungkap Slamet.

Sedangkan untuk perluasan dan pemanfaatan teknologi, kata Slamet, nantinya bisa diadopsi oleh masyarakat umum. Tetapi sebelum itu dilakukan, pihaknya akan melakukan kajian terlebih dahulu, baik untuk minat dan keuntungan dari tanaman vanili tersebut.

Riset yang masuk dalam salah satu misi UTM dalam memajukan sektor pertanian di Madura itu, memang terus dikembangkan. Slamet ingin semua penelitian yang bisa diadopsi dan dilakukan di masyarakat sudah jelas mengenai manfaat dan keuntungannya.

“Kalau kami belum selesai, tentu kami tidak akan berani memberikan rekomendasi,” ulasnya.

Tanaman vanili yang sekarang ditanam di laboratorium lapangan pertanian UTM itu diharapkan bisa berhasil dan menjadi semangat baru bagi masyarakat Madura. Terlebih pada pemanfaatam teknologi iklimnya.

“Iklim buatan ini bisa disesuaikan tingkat kelembaban dan juga cahaya yang dibutuhkan oleh tanaman,” jelas Slamet.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *