oleh

Uunk Kritik Gerakan Feminisme

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Perempuan cantik dengan pemikiran unik, berasal dari bumi Gerbang Salam. Uswatun Hasanah, namanya.

Berangkat dari dirinya yang dikenal sebagai perempuan pejuang. Betapa tidak? Dia perempuan yang memilih karir di dunia kepemimpinan dengan jalur kontestasi, yang akhirnya menduduki porsi perempuan sebagai ratu tanpa intervensi para raja.

Bagi kebanyakan aktivis perempuan, tidak terkecuali Uunk, sapaan akrabnya, feminisme patut diperjuangkan. Sebab, feminisme bertujuan menciptakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, dengan memperjuangkan dan mengubah beberapa kebijakan hukum yang tidak memberikan kesempatan pada perempuan untuk setara dengan laki-laki di dalam dunia yang lebih luas.

Uunk tidak hanya menjadi bagian dari perempuan yang ikut memperjuangkan feminisme di masyarakat patriarkis Madura. Tapi, dia juga mengkritisi kesiapan perempuan dalam meraih feminisme sebagai kemajuan perempuan. Baginya, akan menjadi sia-sia perjuangan perempuan tanpa memiliki kesiapan menghadapi kesetaraan dengan kaki-laki. Terlalu banyak pejuang feminisme berakhir di jenjang yang tidak feminis, sebenarnya bukan tentang kegagalan feminismenya, tapi tentang parempuan yang sebenarnya tidak mampu menghadapi kesetaraan itu.

Feminisme tidak melulu tentang teori yang harus dikampanyekan ke sana ke mari. Feminisme tidaklah cukup sebagai pegangan untuk memperdebatkan kesetaraan. Toh, setelah perjuangan itu dapatkan, banyak perempuan hilang di medan juang.

Kegelisahan Uunk tidak cukup di sana. Dia beranjak dari pemikiran perjuangan perempuan tanpa kualitas, yang meninggalkan hasil tanpa memperjuangkan dan mempertahankan upaya yang telah dicapai.

Masuknya perempuan dalam pendidikan, politik, dan dunia profesional lainnya tidak menjadikan perempuan benar-benar setara, masih terlalu banyak perempuan gugup menghadapi kebebasan, gambaran ini adalah gambaran feminisme yang tidak menjadikan dasar perempuan untuk sama rata dengan laki-laki.

Dunia profesional tidak menjadikan kesetaraan gender sebagai pencapaian yang sempurna, meski di era ini semua perempuan diberikan kebebasan yang hampir sama dengan laki-laki untuk menentukan pilihan dan sikap, sangat terlalu banyak perempuan gagal mempertahankan pilihannya yang dianggap sebagai kesetaraan dengan kaki-laki.

Bagi perempuan kelahiran 13 Februari 1997 ini, seharusnya feminisme menjadikan perempuan tidak menjadi malas berkontestasi, perempuan harus maju untuk dirinya sendiri.

“Banyak perempuan kalah sebelum perjuangan usai, disebabkan mereka terlalu berkutat pada teori yang tidak mungkin mereka jalani,” tegas perempuan asal Waru Barat, Waru, Pamekasan ini pada kabarmadura.id, Kamis (19/8/2020).

Dari hasil pemikirannya, kemudian dia tuangkan dalam bentuk buku yang berjudul “Menggugat Feminisme.” Memang ini buku pertamanya, tapi perkembangan berpikirnya sangat mewah sebagai perempuan yang mengkritisi ‘gerakan perempuan’.

Selain memiliki keunggulan dalam berpikir, Unnk kerap kali melatih keahlian menulisnya sejak di pesantren, dengan menjadi cerpenis majalah pesantren, majalah KOHATI, dan media-media online.

Sebagai perempuan cantik yang tangguh, Uunk juga dikenal sebagai pemimpin yang tidak hanya dalam kapasitas perempuan. Dia sekarang sedang menjabat sebagai ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan Komisariat Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura. (01km/nam)

Komentar

News Feed