Vaksinasi Baru 30 Persen, Sumenep Kembali Level 3

  • Whatsapp
NAIK TURUN: Salah satu indikator kabupaten masuk level 1 adalah capaian vaksin di atas 60 persen, sedangkan Sumenep kurang dari 30 persen.

KABARMADURA.ID;SUMENEP-Pada rilis terbaru perpanjangan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), Sumenep yang semula masuk kategori level 2, kini kembali ke level 3.

Ketentuan itu berdasarkan Instruksi Kementerian Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 47 Tahun 2021, menetapkan Sumenep kembali masuk level 3, karena ada indikator yang tidak tercapai.

Humas Satgas Penanganan Pencegahan Covid-19 Sumenep, Ferdiansyah Tetrajaya, mengatakan, jika disesuaikan dengan fakta yang terjadi di kabupaten paling timur Pulau Madura itu, pihaknya sepakat dengan edaran dari Inmendagri.

Sebab, capaian percepatan vaksinasi meski sudah digalakkan setiap hari tidak terlalu signifikan kenaikannya. Untuk mencapai angka 60 persen masih terbilang masih cukup jauh.

“Sesuai Inmendagri minimal jika masyarakat tidak saling rangkul atau gotong royong mencapai suksesnya program vaksinasi, agar aktivitas masyarakat termasuk pemulihan perekonomian dapat dengan cepat teratasi,” kata Ferdian, Selasa (5/10/2021).

Selama Sumenep di PPKM level 2, disebut Ferdian, penerapannya sudah dinilai cukup maksimal. Penanganan melalui operasi yustisi juga terus dilakukan. Bahkan operasi vaksin di beberapa titik di berbagai daerah di Sumenep juga dilakukan.

Dalam memasifkan pergerakan vaksinasi, juga dilakukan di seluruh desa. Namun capaiannya masih di angka 25 persen.

“Kalau edaran dari inmendagri jelas indikatornya, salah satunya capaian vaksinasi minimal harus mencapai di atas 60 persen. Sementara di Sumenep belum sampai 30 persen,” imbuhnya.

Minimnya kesadaran masyarakat dalam vaksinasi, dinilai karena terpengaruh berita hoaks, padahal wabah Covid-19 sudah hampir 2 tahun melanda negeri ini. Termasuk juga salah satunya adalah kurang maksimalnya penyaluran bantuan. Sehingga reflek sikap masyarakat lebih meledak yang mengandung negatif.

“Misalnya lebih mudah memviralkan dampak vaksin melumpuhkan dan lain sebagainya, sementara sisi positifnya tidak disebar oleh masyarakat,” tukasnya. 

Reporter: Moh Razin

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *