oleh

Wabah Covid-19 Timbulkan Limbah Medis Naik Berlipat

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Wabah Covid-19 yang terjadi di Bangkalan tidak hanya menimbulkan masalah serius bagi kesehatan, namun limbah dan sampah medis  yang terus meningkat. Hal tersebut diakui oleh manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu Bangkalan dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan.

Wakil Direktur RSUD Syamrabu Bangkalan dr Farhat Suryaningrat mengatakan, sampah medik itu menumpuk selama 4 bulan terakhir. Sebab alat medis banyak yang sekali pakai, sehingga mengakibatkan volume sampah yang berlebih dari biasanya.

“Kalau jumlahnya berapa saya tidak bisa memperkirakan, yang pasti jumlahnya sekitar 1 truk penuh. Itu per dua hari,” katanya.

Berdasarkan catatan RSUD Syamarabu, selama Covid-19 mewabah, rata-rata 2 sampai 3 hari sekali sampah harus diambil. Jika tidak, akan semakin menumpuk. Bahkan dalam sepekan, pengambilan sampah bisa mencapai 3 hingga 4 kali.

“Biasanya sampah medis ini diambil setiap hari Senin sampai Rabu atau Minggu,” jelasnya.

Mengenai dampak limbah medis yang berasal dari pemakaian masker dan alat pelindung diri (APD) lainnya, diklaim sudah sesui prosedur.

Dr Farhat mengungkapkan, telah memisah antara limbah B3 dan Covid-19. Untuk covid-19, ada perlakuan berbeda, seperti dimasukkan dalam kardus tersendiri.

“Sampah ini dihargai Rp15 ribu per kilogramnya. Anggaran yang kami sediakan dalam setahun Rp1,5 miliar. Pengolahan dan pengangkutannya juga sudah sesuai prosedur, karena limbah risiko besar. Bahkan kami telah memastikan penanganan sampah sesuai dengan proses hukum yang jelas,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinkes Bangkalan Muhammad Rasuli menerangkan, untuk limbah atau sampah di puskesmas memang lebih sedikit dibandingkan rumah sakit. Tetapi penanganan limbah medis di puskesmas menggandeng pihak ketiga, yakni PT Belia di Mojokerto.

“Puskesmas hanya menampung saja, kemudian akan diambil oleh pihak ketiga,” terangnya.

Pengambilan sampah medis di setiap puskesmas, biasanya dilakukan satu hingga dua pekan  sekali. Untuk prosesnnya, sudah ditanggung oleh PT Belia beserta angkutan armadanya. Dananya sudah dianggarkan di setiap puskesmas, pihaknya hanya menerima dalam bentuk laporan secara utuh.

“Kalau berbicara nominal kami takut salah, karena anggarannya ada di puskesmas masing-masing,” pungkasnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed