oleh

Wacana Insentif Pembatik Perlu Kajian

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Wacana subsidi bagi pembatik yang muncul anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Pamekasan Ismail, menurut Wakil Bupati Pamekasn Raja’e, tidak bisa langsung diprogramkan begitu saja, perlu kajian khusus terlebih dahulu.

Mantan kepala Desa Bujur Barat, Batumarmar, Pamekasan itu berjanji akan mengagendakan kajian tersebut. Alasan harus melalui kajian, karena harus ada pertimbangan dari postur anggaran yang dimiliki Kabuapten Pamekasan, terlebih pada APBD 2019 ini totalnya hanya Rp1.7 triliun.

“Pasti kami akan lakukan kajian mendalam, sejauh mana postum APBD kita mampu memberikan insentif untuk pengrajin batik,” paparnya.

Namun Raja’e menilai, para pengrajin batik sudah mandiri dalam membatik dan tentunya sudah memiliki skill yang cukup untuk mensejahterakan dirinya.

“Mereka sudah luarbiasa, sudah mandiri, tidak perlu kita latih, alat sudah dimiliki, tempat sentrum batik sudah disiapkan,” imbuh Raja’e.

Mengenai  batik Pamekasan, menurutnya tidak cukup di ranah promosi, perlu mengambil langkah konkrit. Salah satunya pada hari raya Idul Fitri lalu, telah membuat edaran istimewa supaya   masuarakat menggunakan batik.

Sebelumnya, wacana subsidi bagi pembatik muncul anggota DPRD Pamekasan Ismail. Alasannya, upah bagi karyawan usaha batik yang bertugas sebagai pembatik, sangat kecil. Dengan begitu, terdapat jaminan kesejahteraan bagi mereka.

Ismail menilai, kesejahteraan pembatik di Pamekasan jauh dari cukup. Selain itu, mantan aktivis PMII itu juga mendesak pemkab membangun sentra khusus industri batik di Pamekasan. Sebab, batik asli Pamekasan sudah lama dikenal dan memiliki ciri khas tersendiri.

“Ada pembatik yang mengeluh ke kami, bahwa upahnya sangat minim, bisa jadi dalam pengerjaan 1 batik selama 3 hari dia hanya mendapat upah Rp30 ribu,” ungkapnya. (km47/waw)

Komentar

News Feed