Wacanakan Batik Lokal Jadi Pakaian Dinas

  • Whatsapp
WACANA: Produk batik khas Kabupaten Sampang akan dijadikan pakaian wajib Dinas para ASN dan seragam sekolah.

Kabarmadura.id/SAMPANG-Pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai hari batik nasional. Semestinya, peringatan hari batik dilakukan dengan mengangkat potensi warisan budaya leluhur sebagai identitas daerah. Pun demikian yang dilakukan oleh Kabupaten Sampang, setiap peringatan hari batik nasional, kabupaten dengan slogan Kota Bahari itu, menginstruksikan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk berpakaian batik.

Namun sangat disayangkan, intruksi yang bertujuan untuk mengangkat batik khas Kabupaten Sampang itu, tidak terealisasi dengan baik. Pasalnya, saat peringatan hari batik, para ASN malah tidak menonjolkan batik khas Kota Bahari.

Saat dikonfirmasi, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sampang Yuliadi Setiawan mengatakan, perayaan hari batik kali ini, tidak dirayakan secara formal. Namun demikian, pihaknya berencana kedepan batik khas Sampang akan dijadikan pakaian wajib, bukan hanya sebatas dipakai saat peringatan hari batik nasional saja.

Melalui rencana itu, Pemerintah Kabupaten Sampang, akan mewajibkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan sekolah-sekolah untuk memakai batik khas Kota Bahari sebagai seragam wajib. Tak hanya itu, pihaknya juga mewajibkan setiap ASN untuk membeli batik pada pengrajin asli Sampang.

“Untuk momentum perayaan batik kali ini, cukup merayakan dengan menggunakan pakaian batik. Tetapi kedepannya batik khas Sampang ini akan dijadikan pakaian dinas dan seragam sekolah,” Kata Yuliadi Setiawan saat dihubungi melalui telepon pribadinya, kemarin (2/10).

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang Wahyu Prihartono mengatakan, batik khas Sampang memiliki beberapa motif yang tidak kalah bersaing dengan batik luar daerah.

Adapun motif batik khas Sampang kata Wahyu (sapaan akrabnya), yakni motif trunojoyo, kelampok, sekar jagad, carcenah, daun mengkudu, pendopo, manuk tetteng, dan motif ringkel. Semua motif batik itu, sudah diajukan untuk mendapatkan hak paten merk.

Wahyu mengungkapkan, pengajuan hak paten merk itu, bertujuan agar motif batik khas Sampang tidak diklaim sebagai produk daerah lain. Secara umum, batik di Kota Bahari masih mempertahankan motif batik Madura, baik dari gambar maupun pewarnaan.

“Untuk batik khas Sampang, biasa dikenal dengan warna merah, biru dan kuning yang menjadi ciri khasnya,” katanya.

Lanjut Wahyu, motif batik terbaru khas Sampang ialah batik ringkel. Batik itu diproduksi dengan teknik atau metode bias dengan tetap menonjolkan motif, warna, dan kualitas produk. Batik ringkel sudah ditetapkan sebagai produk unggulan Sampang.

“Sejatinya, kami terus berupaya mengembangkan industri kerajinan batik. Salah satunya, dengan menjalankan program pembinaan dan pelatihan pengembangan motif batik, program ini setiap tahunnya dianggarkan sekitar Rp200 juta,” dalihnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kabar Madura dari Disperindagprin Sampang, bahwa kelompok pengrajin batik di Kota Bahari setiap tahunnya terus meningkat. Namun untuk pengrajin batik yang tetap eksis memproduksi batik dengan kualitas bagus hanya sebagian, meliputi kelompok Al Komari di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Indo Busana, Desa Prajjan, Kecamatan Camplong, Nafa Brother, Desa Montor, Kecamatan Banyuates, dan Rizquna, Desa Jatra Timur, Banyuates.

Selain itu, kelompok Al Barokah di Desa Pao Pale Daya, Ketapang, Batik Kotah I dan Batik Kotah II, Di Kecamatan Jrengik, Mandatik, di Pulau Mandangin. Kemudian, kelompok pengrajin batik di Kecamatan Sampang, yaitu Slempang dan Sekar Tanjung. (sub/pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *