oleh

Wahasah, PNS Rela Potong Gaji untuk Beli Genset Kantor

Kabarmadura.id-Statusnya sebagai abdi negara, sungguh memiliki keunikan. Jika biasanya, kinerja abdi negara bergantung pada fasilitas yang diberikan negara, sehingga kinerjanya terhambat jika tanpa fasilitas itu, justru ada fenomena sebaliknya dari perempuan satu ini.

Wahasah namanya, meski berstatus aparatur sipil negara (ASN), dia rela mengeluarkan biaya pribadi untuk beli alat penunjang kegiatan pemerintah.

MOH RAZIN, SUMENEP

Perempuan yang kini bertugas sebagai kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Pendaftaran Penduduk Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Sumenep ini, pernah bertugas sebagai kepala UPT Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kecamatan Pragaan pada tahun 2009-2018.

Saat bertugas menjadi kepal UPT itulah, ada pengalaman yang tidak bisa dilupakan, yakni harus sumbangan dengan rekan-rekannya untuk membeli genset. Mesin pembangkit listrik itu, digunakan untuk penunjang pelayanan kartu tanda penduduk elektronik (KTPel). Sebab, jika tanpa alat tersebut, proses perekaman data kependudukan bisa terhambat.

Alat tersebut, digunakan untuk pelayanan keliling dari desa ke desa. Sebab, banyaknya warga yang enggan mengurus KTPel ke kantor kecamatan, membuatnya berinisiatif jemput bola. Sedangkan masa itu, fasilitas masih serba terbatas, sehingga berbagai kendala muncul dan mengganggu kelancaran bertugas.

Sehingga ia berinisiatif untuk melakukan iuran dengan tim kerja yang diambil dari gaji bulanannya.

“Saya dan pak camat dengan seluruh tim itu sumbangan beli mesin genset, itu dibawa keliling ke desa-desa untuk jemput bola. Masyarakat dapat merekam KTP itu dengan lancar,” ungkapnya.

Jika merujuk latar belakangnya, Wahasah bukanlan perempuan biasa. ASN yang lahir di Bluto, Sumenep pada 28 Agustus 1969 itu, mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Saat masih sekolah di tingkat madrasah tsanawiyah (Mts), hanya ditempuh dalam dua tahun dan dinyatakan lulus pada tahun 1984 .

Wanita asal Dusun Ares Timur, Desa Palongan, Kecamatan Bluto ini, memulai pendidikan di MI At-Taufiqiyah pada tahun 1982, kemudian dilanjutkan ke Mts At-Taufiqiyah. Berhubung sekolah di desanya hanya samai tingkat Mts, dia kemuaian melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Sumenep, lulus1987.

Melalui jalur beasiswa, Wahasah dewasa melanjutkan ke Fakultas Tarbiyah IAIN Jember dan lulus pada tahun 1992, kemudian mengambil Magister Manajemen di Universitas Wijaya Putra Surabaya dan dirampungkan pada tahun 2002.

Wahasah yang juga pengurus Yayasan Pesantren At-Taufiqiyah ini, memulai karis ASN sebagai penyuluh KB, karena yang menjadi peluang waktu itu hanya jabatan tersebut. Sejak 1994 ia dinyatakan lulus dan mendapatkan surat keputusan (SK) ASN.

Karena kinerjanya yang baik, pada tahun 2009 diangkat sebagai kepala UPT Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kecamatan Pragaan hingga tahun 2018. Kini, diamanahkan menjadi Kabid Pelayanan Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Sumenep.

Baginya, seorang perempuan yang tidak mempunyai kebebasan bergerak seperti lelaki pada umumnya, dituntut harus meningkatkan volume kecerdasan dalam mengatur siasat dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara.

Saat sebagai kepala UPT, dijalani dengan lancar meski jarak tempuh dari rumah ke tempat bertugas cukup jauh.

“Dari rumah harus jalan kaki sejauh 2 kilometer, setelah itu naik taksi (angkutan umum) ke partelon (pertigaan) Kecamatan Bluto, dan roling taksi jurusan Kecamatan Pragaan, itu dilakukan setiap hari pulang pergi,” katanya.

Mantan aktivis PMII itu menegaskan, setiap pengabdian memerlukan perjuangan, baik materi maupun nonmateri, komitmen dan kerja keras pasti mempunyai nilai apresiasi tersendiri.

Penghargaan demi penghargaan terus disandangkan ke perempuan yang saat ini aktif sebagai Pengurus Muslimat NU cabang Sumenep ini. Mulai dari juara harapan, sampai setiap tahun berturut-turut dinobatkan sebagai juara pertama kecamatan paling aktif merampungkan persoalan identitas KTP.

Selanjutnya, tidak diperbolehkan juara pertama lagi, tetapi sebagai juara satu-satunya kecamatan percontohan se-Kabupaten Sumenep.

Melihat rekam jejak yang luar biasa itu, ibu dari dua anak itu secara resmi dilantik menjadi Kabis Pelayanan Pendaftaran Penduduk Disdukcapil Sumenep pada tahun 2018. Tahun di mana ia ditinggalkan oleh sang suami tercinta menghadap Sang Pencipta.

Tetapi, demi amanah yang diemban, ia tetap dituntut untuk lebih aktif menuangkan ide-ide kreatif, dari mulai perencanaan akan memulai pelayanan mencetak KTP atau kartu keluarga (KK) di masing-masing UPT.

“Karena memang membutuhkan anggaran besar, insya Allah tahun depan sudah terealisasi,” pungkasnya. (waw)

Komentar

News Feed