oleh

Wanita yang Berkelana ke Neraka

Rupanya siang sedang menampakkan kebahagiaan. Matahari tersenyum melakukan tugasnya dan enggan meninggalkan peraduan untuk berbagi dengan kemuraman. Sedang engkau sejak lama duduk termenung di atas sofa yang tak lagi nyaman disinggahi. Jemarimu resah. Lalu kau memandanginya, ia tengah bergerilya mengelupasi kulit sofa yang kian robek sedikit demi sedikit.

Jemarimu adalah cerminanmu—yang lincah, suka bermain, dan kadang sedikit nakal. Engkau paham betul, jemarimu adalah engkau sejak seorang wanita cantik membuka jalan kehidupanmu tiga puluh tahun silam. Engkau merasakan betapa engkau sangat disayangi lewat jemari yang saling bertautan. Kau menyayanginya, selalu menyayanginya.

Perlahan kau merindukan suara-suara yang selalu riuh di atas sofa karena kenakalanmu pada ibu. Engkau rindu jemari ibu yang bertautan dengan jemarimu, kau rindu kecupan kecil ibu di dahimu, kau bahkan rindu sepotong cerita fiksi ibu yang setiap malam meninabobokanmu di atas sofa itu. Tiba-tiba jemarimu bergetar hebat.

Di ujung rindu yang memabukkan seisi kepala, kau menggelinjang hebat hingga kau kehilangan kendali. Engkau merasa sebongkah batu es siap mencair lewat rongga matamu dan mengairi bahkan bisa nyaris menenggelamkan seluruh bagian tubuhmu. Bencana datang ketika kau berada di atas sofa. Engkau menekuri sakitmu hingga tak kunjung kau rasakan lagi pedih yang tak terelakkan itu. Hari ini kau dan jemarimu tersulut bara panas sejak mengadu rindu pada ibu.

Siang itu terasa semakin panas. Namun kau hanya bisa menanti pertolongan suamimu hingga sore nanti sepulang kerja. Engkau merasakan kian tersulut bara api hingga panas menjalari sekujur tubuh. Engkau terpaksa meredup dengan peluh yang bercucuran membasahi tubuh dan seluruh permukaan sofa. Engkau pun terlelap.

Dari arah teras rumah, kau mendengar suara seorang pria yang sangat kau kenali. Engkau terjaga. Rupanya kau tidur terlalu lama hingga tanpa kau sadari selimut malam telah menutup matahari. Hingga engkau pun bergegas menuju teras dengan sebuah lampu templok yang menyinar redup.

Engkau melihat seorang Permadi—suamimu. Engkau tidak lagi asing suara yang menggelegar itu. Suara bariton yang setiap hari mesti kau turuti perintahnya. Engkau merasa ketakutan sebab Permadi telah menunggu lama untuk kau bukakan pintu rumah. Kau telah lama mengurung diri seharian di rumah sejak suamimu berangkat mengais nafkah.

“Apa kau tidak dengar aku mengetuk berpuluh-puluh kali? Aku lelah sedang kau berleha-leha di dalam rumah?” kalimat Permadi sungguh menyayat hatimu. Engkau tak mampu berucap bahkan untuk membuka menghirup napas lebih dalam terasa berat bagimu. Kau tak ingin jemari itu membawamu ke neraka.

“Maaf.” Katamu lirih nyaris tanpa suara.

Engkau pun melenggang, mengekori suamimu yang siap untuk menyantap masakanmu. Tapi demi Tuhan! Engkau harus bersiap berkelana ke neraka karena kau akan membuat suamimu meradang. Engkau ketakutan saat perlahan tangan suamimu membuka tudung saji yang tidak menutupi hidangan apa-apa di atas meja.

Tiba-tiba tubuhmu terlempar hingga tersungkur ke lantai. Matamu bersiap menumpahkan serbuan air yang akan membanjiri tiap jengkal ubin di bawahmu. Matamu redup, sayu, meminta iba. Namun semuanya terlambat. Panas itu kembali menjalari sekujur tubuhmu. Rasa nyeri memeluk tubuh kurusmu yang tak berdaya karena keberingasan jemari itu. Kau sedang diantarnya ke neraka, dan kau selalu menerima segala konsekuensinya sekalipun kau harus mati. Engkau berpasrah. Engkau tak banyak berharap meski pada tahun-tahun awal pernikahan, kau tetap merasa betapa kau sangat disayangi karena tautan jemari—jemarimu dan jemari Permadi.

Jemari itu semakin beringas padamu. Kamu merasa kesakitan yang tak tertahankan. Panas itu terasa mendidihkan darah dalam tubuhmu. Kau tetap bergeming, membungkam rasa sakit yang tak ingin kau katakan pada siapapun untuk mengasihanimu. Namun yang tak kau sadari, kebungkamanmu adalah keberdayaan bagi jemari itu untuk semakin mengantarkanmu pada neraka. Ya, kau berkelana ke neraka.

“Bagun! Ayo buatkan aku sarapan.” Jemari yang kasar itu menyentuh wajahmu, hingga membuatmu seketika terbangun dengan sisa-sisa lebam ungu di sekujur tubuh. Kau merintih.

Tapi sayangnya jemari itu terlalu cepat untuk mendengar jemarimu. Pagi ini engkau harus kembali berkelana ke neraka  dengan jejak-jejak luka lebam pada tubuhmu yang kau dedikasikan sebagai pengabdian seorang istri pada suami. Engkau bangkit dengan tubuh yang tak berdaya demi melayani suamimu pagi ini.

Engkau menghidangkan sepiring singkong rebus untuknya. Melihat suamimu melahap penuh nafsu tiap potong singkong rebus berhasil meyakinkanmu bahwa kelak kau akan menjadi penghuni surga. Engkau mencintainya selayaknya kau mencintai ibumu.

Singkong rebus habis tak bersisa sedang engkau tengah menahan riuh perutmu yang bercampur rasa ngilu akibat hujaman jemari kasar itu.

“Tak apa, tenanglah. Kau tidak mendapatkan jatahmu tapi kau mendapatkan surgamu.” Begitu hiburmu pada perutmu yang bergemuruh.

***

Jemarimu adalah engkau sejak seorang wanita cantik membuka jalan kehidupanmu tiga puluh tahun silam. Engkau merasakan betapa engkau sangat disayangi lewat jemari yang saling bertautan. Kau menyayanginya, selalu menyayanginya. Engkau diajarkan untuk selalu menyayangi berkat jemari itu.

Itulah sebabnya engkau selalu mengabaikan apapun yang dilakukan oleh jemari Permadi. Engkau meresapi setiap sentuhan jemarinya sambil membayangkan akan indah surga. Kau tak peduli meski tubuhmu dibuatnya mati rasa karena jemarimu adalah engkau sejak lahir. Engkau yang dipupuk oleh jemari ibumu untuk selalu mengasihi.

Setiap detikmu menjadi saat-saat yang berharga untuk menekuri seberapa baikkah dirimu pada Sang Pencipta. Engkau menyelami dalamnya alam pikirmu hingga tak pernah menyadari pagi hingga sore telah silih berganti. Tubuhmu yang belum sembuh harus bangkit menyambut malam yang tak pernah kau duga akan kau lewati seperti apa.

Kau berdiri di ambang pintu sembari menyalakan lampu teplok, lalu duduk di atas lincak rapuh menunggu kepulangan Permadi. Kau cemas sebab meski sore akan bergulir tetap tak nampak batang hidung suamimu itu. Teh hangat buatanmu yang turut menyambut kedatangannya perlahan mendingin. Jemarimu saling meremas sebagai tanda kau semakin cemas.

“Kau dimana?” desismu lirik tertelan suara gemuruh petir.

Ya. Hujan mulai berjatuhan menyeruakkan aroma petrikor di atas halaman rumahmu. Engkau tetap menunggu.

Semenit kemudian kau menangkap kehadiran seorang pria yang menerjang derasnya hujan. Engkau pun menyambutnya dengan penuh suka cita layaknya kau menyambut kedatangan ibumu dari surga. Engkau meraih payung daun pisangnya dan lantas menuntunya agar segera masuk ke gubuk kecilmu. Segelas teh buatanmu kau sodorkan sebagai bentuk kasihmu padanya. Kau tampak percaya, bahwa kau akan  mendapatkan surgamu.

“Sudah berulang kali kukatakan, aku tak suka teh jika bukan teh hangat!” Kau kembali merasakan panas pada pipi, dan kakimu. Semua terasa begitu cepat hingga membuatmu tak sempat mengucap maaf.

Tubuhmu bergetar hebat. Namun kau tak menepis jemari itu ketika menyentuhmu dengan kasar. Kau melihat pria dengan bara api di sekujur tubuhnya. Kau amat ketakutan. Kau terpelanting beberapa kali, tersungkur, dan terlempar yang rasa sakitnya bahkan membuatmu tak mampu berucap apa-apa. Kau semakin kesakitan. Rasa panas yang menjalarimu semakin terasa mendidihkan apapun yang ada pada tubuhmu. Tubuhmu tersentak membentur dinding dapur.

Tapi jarimu adalah engkau sejak seorang wanita cantik membuka jalan kehidupanmu tiga puluh tahun silam. Jemarimu adalah cerminanmu—yang lincah, suka bermain, dan kadang sedikit nakal. Engkau kini menyadari bahwa jemarimu adalah engkau yang parau dan tak berdaya. Tidak, kau tak ingin jemarimu kehilangan kelincahannya. Engkau tak ingin jemarimu tak lagi suka bermain. Engkau tak ingin peran jemarimu terampas oleh jemari suamimu. Sebilah pisau yang tergeletak tak jauh dari tubuhmu terdengar merayu.

“Neraka.. neraka.. ne..rrra..kka..” Lalu kau menghitung mundur, 3.. 2.. 1…

Kau mendengar gemuruh petir yang tak henti-hentinya menyorakimu dan mempersiapkan pestamu di neraka dini hari nanti, bersama suamimu.

Penulis bernama Ade Vika Nanda Yuniwan. Baginya, menulis adalah caranya untuk menepati janji pada waktu.

Komentar

News Feed