Warga Desa Kramat Olah Salak Jadi Kopi, Pemasaran Tembus Luar Daerah

(KM/FATHURROHMAN) MANFAATKAN PELUANG: Sejumlah produk olahan yang dihasilkan dari buah salak. Salah satunya biji salak diolah jadi kopi

KABARMADURA.ID | Kemampuannya dalam membaca peluang bisnis sepertinya tidak perlu diragukan lagi. Sosok satu ini mampu membaca peluang bisnis dari potensi lokal yang ada di desanya. Dia adalah Saniyah, salah satu warga Desa Kramat. Kebetulan, desanya terkenal sebagai desa penghasil salak. Sebab itu, ia memanfaatkan buah tersebut menjadi berbagai olahan makanan dan minuman.

FATHURROHMAN, BANGKALAN

Dari olahan salak tersebut ada beberapa produk yang dihasilkan. Di antaranya kurma, kismis, sirup, manisan, coklat, kripik, brownis, pie, nastar, es krim, dan beberapa produk lainnya yang diolah dari buah salak. Bahkan ditangan Saniyah, biji salak mampu diolah menjadi sesuatu yang berharga, semisal menjadi kopi.

“Ada sekitar 17 produk yang dihasilkan dari buah salak. Mulai dari daun, kulit hingga buah, dan bijinya kami olah menjadi makanan olahan. Sekarang yang paling laris itu olahan biji, dari bijinya itu diolah menjadi kopi. Sekarang mulai banyak permintaan,” ungkapnya pada Kabar Madura, Senin (23/5/2022).

Menurutnya, produk yang dihasilkan tersebut dari olahan salak tersebut, kini sudah luas pemasarannya. Bahkan, produknya sudah mampu masuk pasar modern. Ia juga menjualnya secara online.

“Kalau Bangkalan sendiri banyak dijual di beberapa toko yang menjual pusat oleh-oleh khas Bangkalan, di wisata religi Martajasah salah satunya. Penjualan kopi itu yang sangat laris. banyak peminat dari luar daerah yang memesan melalui online,” imbuh Saniyah.

Saniyah bercerita, usahanya bermula saat melihat banyaknya biji salak yang bertebaran. Dari itu iya mencoba berkreasi dengan mengolah biji salak tersebut menjadi kopi, walhasil kopi yang dibuatnya diminati pecinta kopi di desanya.

Karena melihat adanya peluang usaha dari biji salak tersebut, ia membeli biji salak yang dihasilkan tanaman salak milik tetangganya yang kemudian diproduksi menjadi kopi dan berbagai olahan lainnya.

“Di desa kami itu kan memang penghasil salak, ada kelompok taninya juga. Jadi kami membeli dari mereka bijinya untuk diolah jadi kopi. Alhamdulillah, mampu mengubah arah hidup. Dari biji kopi menghasilkan pundi-pundi uang untuk kebutuhan sehari-hari,”  tutupnya.

 

Reporter: Fathurrohman

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.