Warga Memaksa Akan Bangun Kandang Ayam di Area Sekolah


Warga Memaksa Akan Bangun Kandang Ayam di Area Sekolah
(KM/IST) BAHAN SUDAH SIAP: Tumpukan batang kayu telah disiapkan pemilik lahan di depan SDN Madulang 2 untuk dibangun kandang ayam.

KABARMADURA.ID | SAMPANG-

Sengketa lahan SDN Madulang 2, Kecamatan Omben masih berlanjut. Bahkan, pemilik lahan berencana membangun kandang ayam di area sekolah itu. Alasannya, karena lahan itu diakui miliknya. 

Kepala SDN Madulang 2 Fadiluddin Thohir menjelaskan, pemilik lahan berkali-kali datang menyampaikan keinginannya untuk membangun kandang ayam di lahannya. Bahkan, sejumlah perlengkapan telah disiapkan. Tumpukan batang kayu telah disiapkan di depan sekolah. Fadil tidak mampu berbuat banyak.

“Bahan-bahannya sudah sampai di sekolah. Kayunya sudah ada. Paling besok kandang ayam ini dikerjakan. Saya bilang tunggu dulu, saya masih mau lapor,” ungkapnya, Rabu (2/11/2022)..

Sedangkan laporannya ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang belum direspon dengan solusi yang konkret. Fadil khawatir, proses pengerjaan kandang ayam itu akan mengganggu aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) dan membahayakan siswa.

 Fadil berharap, Disdik segera mengambil tindakan. Sebab, sengketa ini telah berlangsung lama. Bahkan, pada tahun 2018 sempat terjadi kericuhan yang berujung penyegelan sekolah. Sementara dirinya menjabat kepala sekolah di SDN Madulang 2 baru dua bulan.

“Lahan yang digunakan sekolah itu separuhnya hibah masyarakat untuk kuburan umum dan separuhnya milik pribadi orang,” terang Fadil.

Sementara itu, Kepala Disdik Sampang Edi Subinto mengatakan, sengketa lahan di SDN Madulang 2 akan ditindaklanjuti oleh tim sengketa. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang memiliki tim khusus yang memang mengurusi sengketa lahan. 

Sebab itu, kata Edi, sebelum menentukan langkah yang harus diambilnya, terdapat mekanisme yang perlu dilalui. Meski begitu, dia sendiri tidak mengetahui secara detail terkait status lahan tersebut. Edi menyebut, sejauh ini aktivitas KBM di SDN Madulang 2 belum terganggu. 

“Bukan tindakan kami lambat, tetapi memang ada mekanisme yang perlu kami lalui,” ujarnya.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna