Warga Sakit Ditarget Sumbang Rp45 M

  • Whatsapp

Kabarmadura.id – Tahun 2018 ini, Dinas Kesehatan (PAD) Sampang menarget pendapatan sebesar Rp45,5 miliar. Target yang dipatok dari warga yang sakit itu, kini sudah diperoleh sebesar Rp20,5 miliar atau sekitar 45,22 persen. Pendapatan tersebut diperoleh dari badan layanan umum daerah (BLUD) berupa rumah sakit umum daerah (RSUD) di Sampang.

Pendapatan BLUD RSUD itu diperoleh dari tiga sumber, yakni pendapatan jasa layanan umum BLUD sebesar Rp44,8 miliar, sedang sumber yang kedua berasal dari hasil kerja sama BLUD sebesar Rp161 juta, lalu pendapatan bersumber dari lain-lain pendapatn BLUD Rp504 juta.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLUD dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan BLUD, maka ditetapkan RSUD Sampang untuk menghasilkan pendapatan yang bersumber dari pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

Sekretaris Dinkes Sampang Asrul Sani mengatakan, kendati sudah mendapat Rp20 miliar, namun dinilai belum maksimal. Belum maksimalnya pendapatan BLUD RSUD, dikarenakan masih banyak klaim BPJS belum terbayar.

Selain itu, besaran pendapatan BLUD diukur oleh banyaknya warga yang sakit. Sebab, pendapatan BLUD bersumber dari jasa pelayanan orang sakit. Semakin banyak orang sakit, maka pendapatan BLUD semakin meningkat dan sebaliknya.

“Pendapatan BLUD ini tergantung dari jumlah pasien yang berobat di rumah sakit, jika jumlah pasien mengalami peningkatan, maka pendapatan otomatis meningkat, karena pendapatan BLUD tergantung banyaknya warga yang sakit,” kata Asrul Sani kepada Kabar Madura.

Pendapatan BLUD RSUD yang bersumber dari jasa layanan adalah berupa imbalan yang diperoleh dari jasa layanan utama yang diberikan masyarakat, seperti pendapatan yang diperoleh dari layanan rawat jalan, rawat inap, UGD, laboratorium, KIA, dan sebagainya.

Sedangkan pendapatan dari hasil kerja sama dengan pihak lain, berupa hasil perolehan dari kerja sama operasional, sewa menyewa, dan usaha lainnya.

“Semua pendapatan BLUD rumah sakit ini dikelola dan digunakan untuk membayar pegawai rumah sakit dan kebutuhan lainnya, sesuai juknis yang ada,” ungkapnya.

Dengan demikian, Asrul menegaskan, tingkat pendapatan BLUD RSUD tidak terlalu penting. Semakin kecil pendapatan BLUD, semakin baik. Sebab jika pendapatan BLUD turun, menandakan tingkat kesehatan masyarakat meningkat dan angka kesakitan menurun. Manakala pendapatan BLUD tetap tinggi, dipastikan orang sakit masih banyak.

“Kami kira, pendapatan BLUD ini sudah maksimal, dan kami berharap setiap tahun pendapatan ini bisa diturunkan, dan kualitas kesehatan masyarakat semakin membaik,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur RS. dr Muhammad ZYN Sampang Titin Hamidah belum bisa dimintai keterangan terkait jumlah pasien dan pendapatan BLUD rumas sakit itu. Berkali-kali dihubungi melalui telepon pribadinya tetap tidak direspon, hingga berita ini diterbitkan. (sub/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *