Warga Sapeken Terbiasa Hidup Bareng Tumpukan Sampah

News, Headline15 Dilihat

KABARMADURA.ID | SUMENEPKawasan kumuh dan padatnya populasi beserta minimnya lahan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah terus dialami warga Sapeken. Bahkan kondisi tidak menyenangkan itu terjadi di dekat kantor Kecamatan Sapeken. 

Pantauan Kabar Madura, tumpukan sampah yang menggunung di tempat tersebut. Namun masih dijadikan ladang mencari nafkah. Banyak masyarakat yang membuka dagangan di sekitar itu. Mereka sudah terkesan biasa dengan situasi kumuh tersebut. 

Warga sekitar menganggap situasi itu sudah biasa karena sudah bertahun-tahun. Kendati demikian, tidak ada perhatian, terutama dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep. 

Pulau Sapeken merupakan salah satu pulau berpenghuni dari seluruh pulau di gugusan Kepulauan Sumenep. Menurut data Sumenep dalam Angka 2019, jumlah penduduk Pulau Sapeken mencapai 53.889 jiwa. Terdiri dari 11 desa. Dengan luas 2.130 kilometer persegi, kepadatan penduduknya ditaksir 25,3 kilometer persegi.

Kondisi itu mengakibatkan produksi sampah di pulau  tersebut melimpah. Bahkan sering tidak terakomodir.  Selain itu, kehidupan berdempetan dengan sampah saat beraktivitas seperti berjualan merupakan pilihan yang tidak bisa dihindari. 

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Klaim Mampu Atasi Inflasi

“Kami sudah tidak bisa memilih tempat kosong untuk berjualan ketika sudah ada acara-acara tertentu,” kata Fathorrahman, warga Sapeken. 

Minimnya lahan kosong untuk tempat pembuangan membuat sampah menggunung di bibir pantai. Situasi itu menimbulkan bau tidak sedap sehingga mengganggu kenyamanan warga sekitar.  Setiap hari, ada sekitar setengah ton sampah rumah tangga yang dibuang di bibir pantai tersebut. 

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Penata Ruang Dinas Perumahan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Sumenep Indra Wahyudi mengatakan, beberapa kecamatan di daratan sendiri masih ditetapkan sebagai kawasan kumuh dan tidak ada solusi sampai tahun ini. 

“Di daratan sendiri tidak ada program pengentasan yang diupayakan selama ini, termasuk kepeluan,” paparnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep Arif Susanto mengaku pihaknya pernah berencana membangun pengolahan sampah menjadi briket. Briket itu diwacanakan bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat, seperti kompor briket. 

Baca Juga :  Aliran Air di Dua Sungai Kabupaten Sumenep Rawan Tercemar

“Tidak ada program yang untuk di tahun ini yang Sapeken,  karena fokus di daratan sementara ini, di kepulauan lain ada,  tapi di bukan di lokasi itu,” kata Arif. 

Pewarta: Moh Razin

Redaktur: Wawan A. Husna

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *