oleh

Warga Terdampak Kekeringan di Sumenep Keluhkan Soal Droping Air

KABARMADURA.ID, Sumenep -Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep menganggarkan Rp100 juta untuk menanggulangi kekeringan. Dana tersebut akan dipergunakan untuk menanggulangi kekeringan yang terjadi di 29 desa yang tersebar di 10 kecamatan sesuai data BPBD.

Meski sudah dipersiapkan Rp100 juta belum mampu memenuhi kebutuhan air di beberapa desa terdampak. Hal tersebut diungkapkan, Bustan Afifi (40) warga Desa Prancak, Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Kamis (01/10/2020).

Menurutnya, bantuan air berupa dropping ke setiap desa belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat terdampak. Kondisi tersebut berdasar pantauan di desanya yang juga mengalami dampak kekeringan tahunan.

“Prancak itu mengalami kekeringan krisis. Tidak mungkin pemerintan melakukan bantuan air dalam setiap tahunnya, toh dengan bantuan air bersih itu juga tidak akan mencukupi terhadap kebutuhan masyarakat Prancak,” ujarnya.

Pihaknya menuturkan,  keriangan di Prancak tidak bisa ditanggulangi dengan memberikan bantuan air bersih. Tetapi harus ada upaya lain, salah satu alternatif yang ditawarkan,  melakukan pengeboran air di tempat yang memang memiliki potensi sumber mata air.

“Sumber mata air itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, Desa Prancak merupakan desa yang memang setiap tahunnya menjadi desa paling krisis air bersih saat musim kemarau,” tuturnya.

Ditegaskan, jika hanya sekedar bantuan semacam mengirim dua sampai tiga tangki, tidak akan pernah memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan air bersih. “Apalagi anggarannya hanya Rp100 juta untuk satu kabupaten yang mengalami kekeringan,” ucapnya.

Senada diungkapkan, warga asal desa Montorna, Pasongsongan, Mafruhah. Menurutnya, bantuan air bersih dari pemkab  tidak bisa menjadi sandaran masyarakat. Sebab tidak akan memenuhi kebutuhan kekeringan tahunan.

“Bantuan dari pemerintah tidak bisa mencukupi, kecuali dengan melakukan pengeboran sumber air bersih, sehingga manfaat itu bisa dirasakan oleh setiap desa yang mengalami kekeringan di Pasongsongan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Sumenep Abd Rahman Riadi mengatakan rincian desa yang mengalami kekeringan berdasar kreteria dampak tersebut, sebanyak 11 desa mengalami kering kritis, 16 Desa mengalami kering langka dan 2 Desa kering terbatas.

Bahkan saat ini ada dua desa yang mengalami kering kritis yaitu Desa Montorna dan Desa Prancak Kecamatan Pasongsongan. “Kami sekarang sudah melakukan droping air bersih terhadap kedua desa yang mengalami kering kritis itu,” responnya.

Menurutnya, Desa Montorna dan Prancak memang menjadi desa langganan kekeringan kritis dalam setiap tahunnya. “Meskipun akan dilakukan pengeboran air bersih, tempat di sana tidak akan mengeluarkan air, karena daerahnya memang sangat tandus,” tambahnya.

BPBD telah bekerjasama dengan Dinas PU. Sumber Daya Air untuk melakukan pembangunan dan pengeboran air bersih (teknologi pompa air) di desa Lebeng Barat, Pasongsongan.

Daerah tersebut,  memiliki potensi sumber air yang melimpah. Sehingga bisa disalurkan ke desa Prancak dan Montorna, di mana ketiga desa itu memang saling berdekatan. Bahkan, desa yang sudah mengajukan adanya kekeringan akan dijadikan data atensi BPDP untuk droping air bersih.

“Selain itu ada beberapa desa di Kecamatan Batu Putih yang juga mengalami kekeringan, kami akan lakukan droping air bersih,” tukasnya. (km55/ito)


 

Komentar

News Feed