oleh

Warga Tidak Terima Pembongkaran Situs untuk Proyek Jalan

Kabarmadura.id/SUMENEP-Niat mengubah bentuk situs sejarah, Dinas PU Bina Marga Sumenep justru diprotes masyarakat karena dinilai sembarangan. Sebab, bangunan yang usianya sudah puluhan tahun itu diyakini mempunyai nilai yang sangat sakral.

Pembongkaran bangunan gapura itu dinilai mencederai keabsahan bangunan yang dibangun oleh leluhur masyarakat Desa Parsanga Kecamatan Sumenep. Bahkan, kegiatan tersebut dianggap sebagai pengrusakan.

“Kami sebagai warga tidak terima, bahkan terkejut gapura atas pengrusakan ini. Kenapa kami meyakini tidak boleh diubah, karena setiap orang yang datang ke sini lalu mempunyai niatan buruk, maka akan celaka. Ini yang membangunnya tidak sembarangan, bukan asal-asalan,” ungkap Astri Dwi Fariyanti, perwakilan warga setempat.

Ironisnya, pembongkaran yang dilakukan Dinas PU Bina Marga tidak melalui koordinasi kepada masyarakat sekitar, terlebih kepada aparatur desa setempat. Sehingga menimbulkan keresahan warga setempat.

Perempuan berusia 35 tahun itu juga meminta agar bangunan tersebut dikembalikan seperti semula. Jika tidak ada niatan untuk mengembalikan, dia bersama masyarakat sekitar mengancam akan menempuh jalur hukum, terlebih jika memaksa mengubah bentuk asal bangunan yang diyakini mempunyai kekuatan di luar nalar itu.

“Kami tunggu hasil konfirmasi yang dilakukan Disparbudpora selaku penanggung jawab atas situs bersejarah ini, jika tidak ada dan tetap memaksa, kami sepakat menempuh jalur hukum,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Bambang Irianto menjelaskan, pihaknya tidak tahu kalau ada pembangunan di situs sakral tersebut, sehingga pihaknya akan mencoba berkoordinasi dengan pihak yang bersangkutan.

“Kami tidak pernah diberikan pemberitahuan oleh yang bersangkutan. Tapi karena ini tanggung jawab kami, maka kami akan coba memfasilitasi bagaimana keinginan warga bisa terpenuhi,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Bina Marga Eri Susanto menyampaikan, pembongkaran itu bermaksud untuk kepentingan pembangunan jalan lingkar utara, sehingga bagian sayap bangunan tersebut harus diubah.

Pihaknya juga mengaku sudah mendapat rekomendasi dari pemerintah desa untuk mengubahnya. Karena menurutnya, yang termasuk situs bersejarah itu adalah kedua pilar di kanan dan kiri.

“Ini ada pembangunan jalan, kami butuhkan pokoknya itu, sehingga kami membongkarnya dan memperbaiki, dan kami sudah izin ke kepala desa sini kemarin,” tanggapnya. (ara/waw)

Komentar

News Feed