Warisan Budaya Tak Benda Minim, DPRD Pamekasan Tekan Pendataan Harus Jelas

News50 views

KABAR MADURA | Kebudayaan lokal Pamekasan yang berhasil masuk sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) masih sangat minim. Hingga kini, hanya ada satu kebudayaan yang resmi lolos dalam pengajuan WBTB, yakni Tari Topeng Gettak.

Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Wardatus Sarifah mengatakan, dinas terkait harus melakukan tracking lebih masif lagi untuk menghasilkan data akurat mengenai budaya-budaya lokal yang ada di Pamekasan.

Banner Iklan Stop Rokok Ilegal

Selama ini, kata Wardah, data-data mengenai kebudayaan lokal Pamekasan terbilang minim keberadaannya. Menurutnya, hal itu bisa menghambat pengajuan proses WBTB.

Untuk mengatasi itu, dia menekankan pihak terkait menganggarkan dana khusus pengajuan WBTB setiap tahunnya. Dengan harapan, hal itu bisa mendorong budaya lokal Bumi Ratu Pamellingan memiliki legalitas atau pengakuan secara nasional. Sebab, dengan begitu bisa meningkatkan daya tarik wisatawan asing.

Baca Juga:  Ketua Fraksi PKS DPRD Pamekasan: Penguatan Kedaulatan NKRI Dimulai dari Pesantren 

“Yang benda pun (budaya) masih minim, apalagi yang tak benda. Men-tracking budaya tiap tahun itu harus, jadi memang perlu penganggaran khusus,” jelasnya kepada Kabar Madura, Minggu (25/2/2024).

Analis Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pamekasan Herdiyanto Wijaya tidak menampik bahwa pihaknya terkendala data-data yang mencakup jenis budaya yang akan diusung dalam proses pengajuan WBTB. Seperti data mengenai asal muasal, pencipta, kajian ilmiah dan akademik, serta data pendukung lainnya.

Kendati demikian, lanjutnya, secara bertahap instansinya akan melakukan pendataan budaya-budaya lokal Pamekasan agar bisa mempermudah dalam melakukan pengajuan WBTB selanjutnya. Disebutkan, tahun ini hanya Tari Ronding yang diajukan sebagai WBTB. Alasannya, karena kebudayaan itu datanya lebih matang.

“Proses pengajuan Tari Ronding ini kendalanya di kajian akademiknya yang susah. Tapi semuanya sudah beres dan sekarang sudah masuk di registrasi Jawa Timur. Untuk tahun depan, kami sambil lalu melakukan pengumpulan data wayang kulit Madura untuk diajukan WBTB selanjutnya,” tutur Herdiyanto.

Baca Juga:  Bonus yang Dijanjikan untuk Atlet Sumenep Dipastikan Tidak Ada

Sementara budayawan asal Pamekasan Arief Wibiseno sangat menyayangkan atas minimnya kebudayaan lokal Pamekasan yang masuk WBTB. Padahal, kebudayaan di Pamekasan terbilang banyak. Dia berharap, pengajuan WBTB itu tidak hanya soal tari-tarian saja. Akan tetapi juga menyeluruh di jenis kebudayaan  lain, seperti musik tradisional, mamacah, dan lainnya. Menurut Arief, banyak budaya lokal yang keberadaannya perlu digali lebih masif.

“Budaya tak benda ini banyak mengandung filosofi. Memang butuh gerak cepat untuk mengklaimkan secara sah budaya tersebut, agar tidak bisa diakui daerah lain,” ujar Ketua Rumah Budaya tersebut.

Pewarta: Safira Nur Laily

Redaktur: Sule Sulaiman

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *