oleh

Warisan Turun-temurun

Lampu petromaks menyala seketika. Sementara wajah – wajah huru hara duduk membentuk amperan rumah. Mulut mereka berkicau seperti anak ayam memanggil induknya. Suara riuh gesekan daun-daun tiupan angin sudah terdengar dari tadi. Warga desa mengalir ke kediaman Affan. Suasana mencekam tanpa penerangan listrik memang menyulitkan sepanjang jalan. Suasana mencekam itu lebih tumbuh tatkala angin semakin memberikan pohon tumbang di gelap gulita. Hujan tak mau kalah menghantam. Malam itu memperingati hari meninggalnya Affan. Lelaki  sesepuh yang wafat termakan usia di kampung pelangi.

Setelah bubar  wajah – wajah huru hara beralih ke rumah mereka. Menenteng seserahan yang disodorkan tuan rumah. Rakyat terbius oleh malam yang berkecamuk. Sesekali dagunya diangkat ke atas mengurangi kecelakaan pohon tumbang. Empat senter menyala di jalan setapak oleh hilir bilir warga. Senter itu mengarahkan kanan kiri atas samping bawah. Bibir mereka meletup letup memanggil sang pemilik jagat raya. Yakni seruan yang sering dikaitkan dengan bencana. Dialah yang sering memberi setoran rupiah kepada hamba kampung. Sementara hamba kampung balapan memenangkan kerapan kelinci. Pundi rupiah mengalir ke anak mereka.

Sejak resmi dihentikan, kegiatan ini tak nampak lagi. Kegiatan menyiksa hewan yang tumbuh asri di kampung tidak bisa dijumpai kembali. Akibat laporan salah satu penghuni kampung di ujung desa.

Tetapi semenjak dihentikan, mereka beralih ke judi tradisional, yang banyak digeluti masyarakat. Ialah aduan ayam yang sering dikaitkan dengan taruhan. Kurungan ayam jago berjejeran setiap sudut rumah warga. Mereka memandikan, menjemur setiap pagi bak anak bayi baru lahir. Masyarakat setempat paham betul dengan menyerahkan kepada pemilik modal yang kuat. Gelak tawa menyeruak bagi pemborong kemenangan.

Waktu terus melaju. Perjudian ayam dilarang, oleh kawanan laki-laki berjenggot berwajah asri dan sejuk. Yakni majelis penghuni surau kampung. Walaupun Perjudian tak lagi dilakukan di area terbuka. Kendati begitu bukan berarti orang berhenti melakukan Perjudian tradisional. Penggemar judi tradisional tetap saja berkumpul di tempat persembunyian mereka. Jumlahnya mencengangkan lebih banyak dari Perjudian terbuka. Tak pelak hingga ratusan juta.

Ayam jago tetap dipelihara, tetap saja dijumpai di kampung pada pagi hari. Mulut mereka berceloteh dengan alasan masih ada untuk pajangan. Kesan kehidupan perkampungan pun keluar dari mulut mereka. Katanya membikin alarm kala pagi datang. Padahal ayam pejantan juga bisa melakukannya. Tidak kudu ayam jago. Ayam pejantan belum tentu jago. Ayam jago pasti sudah pejantan. Seru mereka tak mau kalah.

Malam ini tanah wakaf di pakai untuk menyelenggarakan hiburan penyanyi joget biduan. Sudah sejak tujuh hari acara ini disebar luaskan. Poster dan baleho sang biduan sudah terpampang di ding-ding, tiang listrik dan tiap batang pohon. Tubuhnya dilapisi pakaian mini ketat. Orkes dangdut diselenggarakan atas upaya turun temurun kala muda mudi melepas masa lajang. Bila saat tiba pesta pernikahan, mereka akan menyelenggarakan pesta orkes dangdut ini. Katanya semata – mata mempererat kekeluargaan perkampungan.

Sekarang orkes artis penyanyi dari telaga senja yang terkenal itu datang di undang. Lengkap dengan sri panggung dan gemerlap lampu. Sekar Ayu dan Jelita Srikandi,  dua penyanyi andalan Telaga senja. Umurnya masih belia, 18 tahun. Masih gadis. Mereka terkenal di setiap pelosok kabupaten. Hampir tiap malam mereka mendapat pesanan bernyanyi. Sekar dan Jelita akan beristirahat apa bila ada halangan.

Dua biduan ini masih muda dan masih belajar. Malahan keduanya masih belajar di SMA kelas dua. Pagi hari mereka tampil sebagai pelajar SMA dalam seragam putih abu abu. Tak disangka malam hari mereka menjelma menjadi bidadari yang turun dari langit yang hendak mandi di telaga. Tidak seorang pun yang tau mereka masih duduk di bangku sekolah. Mereka disulap dengan kostum wanita dewasa.

Suara manja, gerakan centil serta goyangan pinggul mereka justru tak menunjukkan tingkah laku remaja. Mereka memberi kepuasan dan menggoyang hati para muda mudi. Akan tetapi kaum bapak bapak juga tak mau kalah. Bahkan mereka menaiki panggung dan tak segan menyelipkan uang di belahan dada biduan.

Dua bidadari didengdang dengan gendang dan suling yang alunannya lembut naik turun. Dua penyanyi belia ini menghampiri bapak yang hendak memberi saweran. Ia melenggak lenggok mencari perhatian para penonton.

Di belakang panggung Sekar terbengong entah apa yang dipikirkan. Sedang Jelita menatap manis cermin. Tidak ada yang aneh. Wajahnya cantik. Masih segar dan bergairah tetapi jauh dalam hati di ujung matanya terdapat linangan air kelam. Kepedihan hidupnya ia tahan demi tanggungan keluarga. Sang ayah tukang bengkel miskin.

Sorak sorai penonton kembali memanggil mereka. Keduanya kembali bercibaku dengan alunan musik dangdut melayu. Akhirnya jelita kembali meluncur ke area. Dia melenggok dalam gaya, mencuri gairah penonton.

Sorak sorai penonton seketika terhenti. Saat itu pertunjukan usai. Sementara penonton kampung mulai bubar. Kelompok orkes dan penyanyi sudah bersiap siap pulang. Sekar dan Jelita sudah berganti pakaian. Pakaiannya rapi tak seperti bernyanyi dan lebih sopan.

Rombongan penggemar judi tradisional tampak masih tak pulang. Mereka berkumpul di rumah kepala desa. Sugeng mempersilakan kawanan ini mampir dirumahnya. Laki laki paru baya ini yang dipilih warga kampung sebagai pemimpin mereka. Sudah satu tahun ia menjabat. Ia merebut banyak hak suara warga. Strategi money politik yang ia pilih nyatanya berhasil. Malam ini ia banyak menyediakan minuman anggur yang membuat pikiran terbang melayang tenang kata penikmatnya.

“Boleh ku minum sekarang, pak ?”.

“ Oh tentu saja.., silahkan..silahkan, silahkan minum jangan sungkan”.

Handika mengangkat botol dan menuangkan kemulutnya.

“Mantap kali ini air, haaaaahak hak hahahah.”

Fajar yang semenjak dari tadi minum sampai teler tak bergidik tubuhnya telentang dan terkulai dengan mulut yang nyerocos, entah apa yang dibicarakan.

“Kepala desa yang kek beginian nih gua demmen, haaaahak hahahah.”

“Ayo minum, minimm minum sepuasnya, kalian mintak apa akan sa..sa..saya bel..berl..beriiiikan”. Ujar pemimpin paru baya yang mabuk berat.

Semua penggemar judi tradisional ini tergeletak tak karuan di ruang tamu.

Tiba tiba angin puting beliung dari barat seketika menyapu rumah rumah warga. Termasuk penghuni kampung. Dalam sekejap angin terlebih dulu memutar tubuh mereka, lalu melemparkan begitu saja. Tak satu pun tersisa. Semua rumah rata dengan tanah. Jasad jasad tergeletak dengan  tubuh tak utuh.

 

Biodata penulis

Nama : Malihatun Nikmah

Alamat : Kab. Sumenep ( Madura ), Kec. Ganding, Desa Ketawang Parebaan.

Karya Tulis pernah dimuat di Surat kabar Harian Surya

Komentar

News Feed