oleh

Wildona Zumam; Aktivis Perempuan, Dosen, dan Desainer

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Wildona Zumam merupakan aktivis perempuan yang aktif di berbagai bidang. Insan tangguh ini selalu melakukan hal-hal positif. Itu agar keilmuan dan pengalamannya bisa ditularkan kepada orang lain.

Banyak orang beranggapan tentang  Wildona, bahwa dia sebagai perempuan yang super sibuk. Padahal, tidak pernah sesibuk seperti yang orang lain pikirkan tentang dirinya.

Menurut Wildona, kadang ada sebagian orang juga berlebihan menilai kehidupannya, meskipun semua manusia itu memang bebas nilai. Bagi dia tidak ada orang yang benar-benar sibuk, karena dalam kehidupan yang diperlukan adalah menjalaninya dan mengerjakan yang disukai selama masih dalam koridor yang positif.

“Dengan demikian semua orang akan lebih rileks menjalani kehidupan,” ujarnya saat diwawancarai Kabarmadura.id, Jumat (14/8/2020) malam.

Meski tidak pernah mau dikatakan sebagai orang yang super sibuk, anggapan orang-orang juga tidak akan berubah tentang kehidupan perempuan kelahiran Pemalang ini.

Alumnus Sastra Inggris UIN Maliki Malang dan Magister Pendidikan Bahasa inggris Universitas Cenderawasih Papua ini lebih memilih hidup di Madura. Baginya, Madura dikenal sebagai masyarakat patriarkis, sangat cocok buat perempuan untuk berjuang.

Bagi Wildona, berjuang di masyarakat patriarkis Madura itu butuh wadah yang sekiranya dapat menampung segala keresahahan perempuan. Dengan begitu, Dosen Bahasa Inggris Universitas Madura ini akhirnya mendirikan Potre Berbaur beberapa tahun yang lalu. Di dalam komunitas inilah suara perempuan Madura dapat tempat curhatan dan jadi wadah diskusi.

Banyak mahasiswi yang telah bergabung dengan komunitas itu. Wildona berharap dalam komunitas itu lahir perempuan-perempuan hebat.

“Dan semoga komunitas ini akan tetap terawat,” ujarnya.

Kehebatan Wildona tampak tidak bisa diragukan lagi. Selain sebagai aktivis perempuan, dia juga seorang dosen, profesinya ini dimulai dari menjadi Dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Cenderawasih Papua tahun 2006-2011.

Kemudian pada sekitar tahun 2011, dia memilih hijrah ke pulau Madura dan memulai kehidupan barunya sebagai dosen Pendidikan Bahasa inggris di Universitas Madura tahun 2011 sampai sekarang. Selain menjadi dosen, dia cukup dikenal sangat akrab dan mudah berteman dengan mahasiswa-mahasiswanya.

Di sisi lain, perempuan ini juga memiliki sisi unik yang tidak banyak orang miliki, aktivis mungkin banyak, tapi yang satu ini kemungkinan besar jarang dimiliki orang lain. Yakni, desainer.

Desainer, mungkin sangat asing. Sebutan desainer pada Wildona mungkin tidak diketahui banyak orang, ternyata perempuan ini memang telah lama menyukai desain baju. Dia sudah memiliki label sendiri. Namanya “Wz Love By Dona,” yang semua produknya hasil karya sendiri.

Wz Love By Dona sering kedatangan tamu siswa-siswi SMK dari sekolah yang berbeda-beda. Itu demi menyelesaikan tugas akhir mereka, mereka magang di tempat Wildona.

“Ibu merasa sangat senang sekali apabila ada sekolah SMK yang menugaskan siswanya ke Wz Love By Dona. Selain mentransfer ilmu pengetahuan tentang desain baju, juga bisa mentransfer pengalaman pada siswa-siswi yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya dari sekolah,” jelasnya.

Di masa wabah Covid-19, Wildona lebih aktif di aplikasi podcast. Pasalnya, itu akan lebih mudah untuk mendiskusikan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan secara tatap muka di masa wabah.

Kegiatan-kegiatannya tidak jauh berbeda dari pada sebelum masa wabah. Hanya saja, sekarang tokohnya lebih banyak dari luar provinsi yang mengisi di podcastnya, baik tokoh lokal maupun nasional. Diakuinya oleh Wildona, hal itu lebih mudah dilakukan di masa wabah Covid-19 untuk bisa bermanfaat pada orang lain.

“Semua hobi ibu yang sekiranya bermanfaat untuk masyarakat, pasti ibu wujudkan dengan kemampuan yang ibu bisa,” pungkasnya. (01km/nam)

Komentar

News Feed