Wujudkan Ketahanan Pangan, Kades Samatan Berdayakan Petani Jagung

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan mendorong masyarakat untuk berkontribusi menopang ketahanan pangan nasional. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Samatan, Kecamatan Proppo, yaitu menanam jagung hibrida seluas 10 hektar dan pada Selasa (15/11/2022) sudah dipanen.

Kegiatan panen bersama itu dihadiri langsung oleh Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, Kepala Desa (Kades) Samatan Moh. Tamyis, perwakilan PT Asian Hybrid Seed Technologies Indonesia, dan jajaran forum koordinasi pimpinan kecamatan (forkopimka).

Mas Tamam, sapaan akrab bupati, mengapresiasi langkah kades Samatan yang mendorong warganya menanam jagung. Sebab menurutnya, sektor pangan dan energi menjadi isu yang luar biasa yang perlu dipikirkan solusi kebijakannya.

Baca Juga:  DKPP Apresiasi Langkah Kodim 0827/Sumenep Tanam Pepaya California dan Cabai di Area Wisata Tani

“Harapan kami, kebutuhan pangan kita bisa terpenuhi dengan baik, yang luar biasa Pak Kades Tamyis di Desa Samatan ini terintegrasi semuanya. Hasil panen jagung dikelola dengan utuh, tidak ada yang tidak bisa dimanfaatkan,” paparnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan, Pemkab akan terus mendukung program yang berdasarkan potensi desa. Seperti halnya Desa Samatan yang mampu mengintegrasikan pengelolaan pertanian dan peternakan.

“Intinya visi pemerintahan kali ini makmur dari bawah. Berarti makmur dari desa-desa. Kalau begitu, kemakmuran di rumah-rumah terus bisa diupayakan,” ujarnya.

Baca Juga:  Meriahkan Anniversary Madura United, KM Group Persembahkan MUVC dan FGD

Sementara itu, Kades Samatan Moh. Tamyis menyampaikan, sumber dana dari program tersebut dari dana desa. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan integrasi peternakan dan pertanian, dia menggandeng PT Asian Hybrid Seed Technologies Indonesia. Alhasil, 10 hektar lahan pertanian sudah bisa dipanen.

“Jadi, masyarakat kami modalin untuk bertani jagung. Nanti dari modal itu tidak mengganggu terhadap keuntungan petani. Dari pohonnya saja sudah kembali modal. Panen jagungnya kami beli. Jadi kami timbang dengan kulitnya,” tuturnya.

Reporter: Khoyrul Umam Syarif  

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *