KABAR MADURA | Jumlah penyuluh pertanian di Pamekasan tidak ideal. Pasalnya, dikarenakan kuota yang disediakan terbatas. Ditambah adanya penyuluh yang sudah purna tugas atau pensiun.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pemekasan Nolo Garjito, Senin (19/2/2024) mengatakan, saat ini, sumber daya manusia (SDM) penyuluh pertanian di dinasnya ada 109 orang. Idealnya, berdasarkan aturan satu desa satu penyuluh. Tahun ini, hanya mendapatkan tiga tambahan penyuluh. Sementara tahun lalu hanya mendapatkan dua kuota penyuluh.
“Tiga orang itu PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), sekarang masih dalam tahap proses pemberkasan. Dapat kuotanya dari pemerintah segitu, mau gimana lagi. Untuk yang pensiun tahun ini sekitar empat orang, jadi sama saja sebenarnya,” terangnya kepada Kabar Madura.
Untuk mengatasi kekurangan SDM tersebut, diberlakukan satu penyuluh ada yang memegang dua desa atau lebih. Hal itu bertujuan agar pendampingan penyuluhan tetap terealisasi dengan tetap menjaga keoptimalan penyuluhan.
Secara umum, menurut Nolo, memang tidak ada kendala yang cukup signifikan dalam proses penyuluhan. Hanya saja, penyuluh yang bersangkutan harus bekerja lebih ekstra sebab memegang dua desa.
Penyuluh tersebut difasilitasi pelatihan atau diklat dasar mengenai penyuluhan dari pusat. Hal itu bertujuan agar kompetensi penyuluh terbilang profesional. Biasanya, penyuluhan dilakukan paling sedikit satu bulan sekali kepada kelompok tani.
“Biasanya yang dikeluhkan itu soal hama, pupuk, dan masalah pertanian lainnya. Kelompok tani yang terdata di kami ada 1.034. Itu yang dilakukan pendampingan, satu desa bisa lebih dari satu kelompok,” jelasnya.
Pewarta: Safira Nur Laily
Redaktur: Wawan A. Husna





