KABAR MADURA | Asma menjadi salah satu penyakit pernapasan yang cukup banyak dialami masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Penyakit ini ditandai dengan gejala batuk, sesak napas, hingga nyeri dada yang muncul dengan intensitas dan waktu yang berbeda-beda pada setiap penderita.
Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan, dr. Muhammad Khairani, menjelaskan, asma merupakan penyakit heterogen yang umumnya disertai peradangan pada saluran napas. Kondisi itu menyebabkan saluran napas menyempit sehingga penderita mengalami gangguan pernapasan.
“Asma itu penyakit yang gejalanya bisa berbeda-beda. Ada yang hanya batuk, ada yang sesak, ada juga yang disertai nyeri dada. Waktu kambuhnya juga tidak menentu, sewaktu-waktu bisa muncul,” ujarnya, Selasa (19/5/2025).
Penyakit asma dapat menyerang seluruh kelompok usia. Namun, kata dr. Khairani, faktor genetik menjadi salah satu risiko yang cukup berpengaruh terhadap munculnya penyakit tersebut.
“Secara umum memang ada faktor keturunan. Tetapi bukan berarti kalau orang tuanya asma, anaknya pasti asma. Hanya saja, risiko anak mengalami asma menjadi lebih tinggi karena adanya respons tubuh yang lebih sensitif,” jelasnya.
Selain faktor keturunan, terdapat sejumlah pemicu lain yang dapat menyebabkan asma kambuh. Debu menjadi salah satu faktor pencetus yang paling sering ditemukan pada pasien. Sebab itu, masyarakat diminta lebih waspada terhadap lingkungan yang dapat memicu gangguan pernapasan tersebut.
Pihaknya juga menekankan pentingnya menghindari faktor pemicu selain rutin mengonsumsi obat yang diresepkan dokter. Menurut dr. Khairani, pasien asma perlu mendapatkan terapi pengontrol atau controller sesuai anjuran dokter agar kondisi penyakit tidak semakin berat.
“Pengobatan utama bukan hanya obat, tapi juga menghindari faktor pencetusnya. Misalnya debu,” tukasnya. (nur/zul)





