KABAR MADURA | Memasuki puncak musim kemarau, warga Pamekasan mulai risau dengan ketersediaan air, utamanya di daerah-daerah rawan kekeringan. Pasalnya, ketika musim kemarau tiba, di sebagian wilayah sulit mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Fatimah (27), warga asal Kecamatan Batumarmar, mengatakan bahwa saat musim kemarau, ketersediaan air sangat kurang. Pilihannya harus membeli air secara mandiri atau mengandalkan bantuan dari pemerintah.
Namun, pilihan-pilihan tersebut tidak lantas bisa mengatasi masalah kekeringan di desanya dengan mudah. Pasalnya, jika harus membeli secara mandiri, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Sementara bantuan dari pemerintah pun, cukup terbatas.
“Kalau sekarang masih aman. Tapi kalau sudah puncak musim kemarau, ketersediaan air sangat kurang,” paparnya, Selasa (18/6/2024).
Fatim berharap, bantuan dari pemerintah kabupaten (pemkab) setempat tahun ini bisa terealisasi secara optimal di wilayahnya. Sebab, bila berkaca pada tahun sebelumnya, droping air dari pemkab cukup terbatas, mulai dari debit air yang disalurkan ataupun waktu penyaluran air. Sehingga, dia berharap droping air tahun ini lebih lama lagi.
“Semoga tahun ini penyalurannya lebih lama dan lebih banyak,” tuturnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Akhmad Dofir Rosidi mengatakan, wilayah rawan kekeringan tahun ini masih dalam tahap asesmen. Sehingga, jumlah dan lokasinya belum diketahui secara pasti.
Pada tahun 2023 lalu, terdapat 77 desa, yang meliputi 321 dusun, menjadi cakupan droping air dari pemkab. Namun, anggaran tahun lalu cukup terbatas. Sehingga, pendistribusian dihentikan lebih awal meski musim kemarau belum usai. Droping air itu hanya berlangsung sekitar 30 hari dengan menghabiskan anggaran senilai Rp88 juta.
“Saat ini masih proses asesmen, masih belum selesai,” singkatnya.
Pewarta: Safira Nur Laily
Redaktur: Sule Sulaiman





