KABAR MADURA | Penerapan geomembran untuk produksi garam di Pamekasan masih belum 100 persen. Padahal, penggunaan geomembran tersebut cukup berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas garam yang diproduksi.
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan Luthfie Asy’ari mengatakan, saat ini produksi garam periode Januari hingga Juli mencapai 12.566,20 ton dengan luas lahan garam rakyat 973,6 hektare.
“Luas 973,6 hektare itu tersebar di 16 desa dari tiga kecamatan, yakni Kecamatan Galis empat desa, Kecamatan Tlanakan empat desa, dan Kecamatan Pademawu 8 desa,” ungkapnya, Senin (2/9/2024).
Dia mengungkapkan, sejauh ini belum semua petambak menggunakan geomembran, hanya sekitar 80 persen yang menggunakannya. Menurutnya, faktor tidak seluruhnya menggunakan geomembran itu, di antaranya ketidakmampuan biaya, sebab penggunaan geomembran itu cukup mahal.
“Ada juga karena pola pikir, mereka masih menganut cara yang sudah turun temurun,” tambah Luthfi.
Padahal, kata Luthfi, penerapan geomembran itu cukup berdampak baik terhadap kuantitas dan kualitas garam yang diproduksi.
Lebih lanjut, dia mengaku, saat ini tata niaga garam memang tidak berpihak kepada petani garam. Namun, pihaknya tidak memiliki wewenang dalam mengontrol tata niaga tersebut.
Dia beranggapan, fluktuasi harga garam yang terjadi merupakan suatu hal wajar. Namun, dia menilai bahwa harga garam yang terjual Rp650 ribu hingga Rp700 ribu per ton seperti sekarang itu terbilang harga yang sangat rendah.
“Paling tidak terjual Rp1 juta atau Rp1,2 juta, baru ideal. Tapi kami tidak bisa mengontrol tata niaga garam. Diskan hanya berwenang dalam peningkatan kualitas dan kuantitas garam yang diproduksi,” tutupnya. (nur/zul)





