KABAR MADURA | Mencegah ancaman krisis pangan. Begitulah alasan mantan Presiden Joko Widodo saat menggulirkan program Food Estate di berbagai wilayah. Dua tahun berjalan, hasilnya gagal total. Sebut saja di Kalimantan Tengah, perkebunan singkong seluas 600 hektare mangkrak dan 17.000 hektare sawah baru tak kunjung panen.
Di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, muatan program tersebut menjadi substansi dari program 100 hari kerja bernama Asta Cita. Beda nama, isi nyaris sama. Namun, tampaknya terdapat beberapa penyempurnaan agar Asta Cita tidak gagal seperti Food Estate era Jokowi.
Program Asta Cita, kata Kapolres Pamekasan AKBP Jazuli Dani Iriawan, bersifat merata. Otomatis, Pulau Madura juga menjadi salah satu sasarannya. Lupakan kegagalan food estate dan masyarakat Madura diimbau untuk lebih fokus ke perwujudan Asta Cita.
“Program Asta Cita tentu jadi harapan kesejahteraan masyarakat, termasuk masyarakat Madura. Program yang menjurus pada perhatian terhadap sektor pangan ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga guna menjaga stabilitas ekonomi daerah,” ujarnya.
Selama ini, diakuinya petani Madura dihadapkan pada akar persoalan berupa minimnya modal, mahalnya pupuk dan rantai niaga yang merugikan mereka. Persoalan lainnya ialah rendahnya minat regenerasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.
“Program Asta Cita ini memang hampir mirip dengan program Food Estate di pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebab, sama-sama berkaitan dengan ketahanan pangan. Ini penting bagi masyarakat,” ujar AKBP Dani—panggilan akrab AKBP Jazuli Dani Iriawan saat dihubungi Kabar Madura, Rabu (6/11/2024).
Mantan Kabagbinopsnal Ditresnarkoba Polda Jatim itu menjelaskan, Asta Cita yang digagas Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran memodifikasi program yang sudah berjalan di pemerintahan Jokowi. Bedanya, Asta Cita lebih mensinkronkan sekaligus mensinergikan program-program yang ada di pemerintah daerah.
Di samping itu, Polres, Polsek dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) selaku ujung tombak Polri mencoba untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok petani. Mereka diharapkan bersedia menanam jagung. Bibitnya dikomunikasikan dengan pemerintah daerah agar ada program-program yang dapat mendukung Asta Cita.
“Ini diaplikasikan dalam program Asta Cita yang pertama dan kedua, yaitu pekarangan produktif untuk sumber makanan bergizi dan penanaman lahan tidur yang ada di masing-masing desa,” terangnya.
Terkait Asta Cita, tambah AKBP Dani, Polri diberi tanggung jawab empat program. Pertama, program pekarangan, yaitu menanam tanaman yang mengarah kepada makanan bergizi. Kedua, pemanfaatan lahan tidur, yaitu bekerja sama dengan masyarakat, kelompok tani dan stakeholders pemerintah daerah.
Ketiga, pengawasan pendistribusian bibit dan pupuk. Keempat, program perekrutan Bintara Bakomsus, yaitu memilih anggota Polri yang berkompetensi khusus di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan lain-lain.
“Berkaitan dengan lahan guna percepatan program 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kami diamanahi agar menggalang masyarakat dan kelompok tani untuk memanfaatkan lahannya. Misalnya di sela-sela kegiatan penanaman tembakau atau jagung. Modalnya, kami diperintahkan untuk menyelaraskan dengan program pemerintah daerah,” kata AKBP Dani.
Dijelaskan, program pemerintah daerah tentu pasti ada bantuan bibit dan pupuk. Bantuan bibit dan pupuk inilah yang bisa dikerjasamakan dengan kelompok tani yang sudah digalang oleh Polres Pamekasan. Nanti hasilnya dipastikan bermanfaat bagi masyarakat.
Program pertama yang diperuntukkan untuk bahan makanan bergizi, ujung tombaknya adalah para Bhabinkamtibmas. Teknisnya, mereka memberikan penyuluhan kepada desa binaannya agar masyarakat mau menanam, setidaknya sayur-sayuran atau pun peternakan seperti ikan lele yang bisa digunakan untuk kepentingan pribadinya.
“Apalagi dalam jumlah besar, tentu bisa digunakan sekaligus dijual buat keperluan pribadi masyarakat. Nanti itu semua kami coba menyelaraskan dengan program yang ada di pemerintah daerah,” ujar AKBP Dani.
Khusus program pertama dan kedua, Polres Pamekasan telah komunikasi dengan Pj Bupati Pamekasan Masrukin agar berkoordinasi dengan dinas terkait di bawah kepemimpinannya. Itu dalam rangka melihat program apa saja yang dapat dikerjakan bersama-sama guna mensukseskan program satu dan program kedua di Asta Cita.
Terkait program ketiga yaitu pengawasan dan pendistribusian, pihaknya diminta untuk aktif melaksanakan pengawasan terhadap pupuk mapun terhadap bibit. Agar para petani bisa mudah mendapatkan sekaligus tidak kesulitan saat menebus haknya berupa bantuan pupuk maupun bibit.
AKBP Dani juga menyinggung rendahnya minat generasi muda terjun ke dunia pertanian. Persoalan tersebut dapat diatasi lewat mengaplikasikan di program keempat. Yakni, Polri akan membuka Bakompsum, yaitu bintara kompetensi khusus.
“Ini sedang disusun terkait dengan rekrutmen dari para pemuda yang punya kualifikasi atau kompetensi di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan lain-lain. Nantinya Bakomsus dikhususkan jadi ujung tombak Polri di tengah-tengah masyarakat. Khususnya sebagai Bhabinkamtibmas. Bakomsus nanti dikembalikan ke tengah-tengah masyarakat, diharapkan bisa membina dan memberikan pengetahuan lebih terkait dengan program-program nomor satu dan nomor dua di Asta Cita,” bebernya.
AKBP Dani berharap lima tahun ke depan, Polri dalam rekrutmen Bakomsus dapat memberikan kesempatan luar biasa kepada generasi muda yang punya kompetensi di bidang pertanian, peternakan, perikanan atau pun hal-hal yang mendukung dari ketiga kompetensi tersebut.
Berkenaan dengan sering langka dan mahalnya pupuk di Madura, AKBP Dani optimistis bisa diatasi lewat program ketiga di Asta Cita, yaitu Polri punya tanggung jawab besar terkait pengawasan atas pendistribusian bibit maupun pupuk yang jadi hak petani. Diharapkan dengan program tersebut, Polri punya andil dalam memperlancar distribusi bibit dan pupuk di daerah.
“Itu memang seharusnya menjadi hak para petani. Dalam hal itu, kami akan mendorong dinas terkait untuk lebih transparan dan akan kami awasi realisasinya. Ini merupakan percepatan program 100 hari yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai aplikasi dari program Asta Cita. Empat program di atas yang termaktub dalam Asta Cita itu saling berkait-erat antara satu sama lainnya,” kata AKBP Dani.
Program yang kini menyita perhatian, terangnya, ialah program perekrutan Bakomsus. Itu tergolong terobosan luar biasa. Sebab, dulu kompetensi khusus kurang dilirik. Orang yang sekolah pertanian, di pertengahan perjalanan hidupnya kebanyakan menjadi seorang petani dan peternak. Tapi, sekarang direkrut secara besar-besaran untuk menjadi bagian dari Polri.
“Muaranya, mereka akan diberdayakan menjadi Bhabinkamtibmas yang diharapkan bisa menjadi volunteer atau ujung tombak di tengah-tengah masyarakat. Dengan begitu, mereka dapat menciptakan kelompok-kelompok petani atau petani-petani yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian,” urainya.
Rencananya bulan ini Polri sudah menggelar rekrutmen Bintara Bakomsus, yaitu penerimaan Bintara melalui kompetensi khusus. Itu besar-besaran, merata di seluruh Polda. Nanti tidak hanya Bintara, tetapi sarjana pertanian dan peternakan akan direkrut juga untuk perwiranya. Umur tetap sesuai dengan standar rekrutmen Polri.
“Bahkan untuk pengembangan karir pun, kalau ada Bintara-Bintara yang sekolahnya di bidang pertanian dan peternakan, akan diberikan keleluasaan untuk bisa mengembangkan karirnya. Mohon doanya, ini program 100 hari kita laksanakan pelan-pelan. Semoga ada dampak di masyarakat. Dalam waktu dekat, di Pamekasan ada penanaman serentak di daerah Kecamatan Larangan. Kami sudah koordinasi dengan kades setempat yang saat ini punya pengembangan ternak lele. Rencananya pekan depan setelah saya pulang dari Jakarta,” tukasnya. (nam)
4 Tanggung Jawab Polisi di Program Asta Cita
- Pemanfaatan pekarangan.
- Pemanfaatan lahan tidur.
- Pengawasan distribusi bibit dan pupuk.
- Perekrutan Bintara Bakomsus.





