KABAR MADURA | Angka stunting di Pamekasan mulai ditekan untuk turun. Berdasarkan keterangan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, per Januari 2025 ini, jumlahnya 279 anak. Terakhir pendataan di tahun 2024, jumlah total sebanyak 1.880 kasus.
Kepala Dinkes Pamekasan Saifudin mengatakan, untuk menekan angka stunting, Dinkes Pamekasan telah menerapkan berbagai program strategis, termasuk penyuluhan di posyandu, pemantauan serta penanganan langsung kepada balita, pemantauan pertumbuhan anak, hingga koordinasi lintas program dan lintas sektor ke daerah-daerah pelosok.
Dengan adanya pemantauan tersebut, pihaknya dapat memberikan edukasi dan pencegahan lebih efektif kepada keluarga, dengan demikian jumlah anak stunting bisa terus ditekan. Meski demikian, diperlukan pengoptimalan dalam menurunkan angka stunting. Sebab, saat ini masih tercatat seribu lebih anak sudah terindikasi.
“Banyak upaya yang kami lakukan dalam menekan jumlah stunting, seperti memberikan edukasi maupun penyuluhan di setiap desa,” ungkap Saifudin kepada Kabar Madura.
Kasus stunting merupakan keadaan di mana tinggi badan anak lebih rendah dari rata rata untuk seusianya. Di antara penyebabnya; karena kekurangan nutrisi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama, pengasuhan yang kurang tepat, pemenuhan gizi yang kurang optimal, pola makan, dan lain sebagainya.
“Pada tahun 2023 stunting di angka 3,64 persen, 2024 diangka 3,18 persen, dan per Januari tahun ini menjadi 3,9 persen atau 1,601 orang,” katanya, Kamis (20/5/2025).
Selain itu, Saifudin telah mewajibkan 994 posyandu untuk menunjang program pemerintah dalam pencegahan stunting. Langkah ini diambil karena posyandu dinilai lebih dekat dengan lingkungan masyarakat, serta memiliki pemahaman yang lebih baik terkait kondisi di sekitarnya.
Dia berharap, dengan beberapa program yang dimiliki, pencegahan stunting bisa dilakukan dengan baik.
“Semua posyandu dan puskesmas wajib mendukung program pemerintah ini, dan semoga sesuai dengan harapan kita,” pungkasnya. (km62/waw)





