KABAR MADURA | Kekuatan agama Islam di Sumenep tidak hanya identik dengan berdirinya Masjid Agung Sumenep. Namun, di bagian sudut wilayah lain di Kota Keris itu juga memiliki nilai sejarah yang kuat dalam penyebaran agama Islam.
Salah satunya, seperti masjid Brungbung. Meski jauh dari pusat kota, masjid ini merupakan masjid tertua sebelum adanya Masjid Agung Sumenep. Bahkan, Masjid Brungbung juga memiliki spritual journey yang sangat kuat.
Penamaan masjid Brungbung sendiri, diambil dari nama salah satu kampung yang ada di Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Dari perempatan wisata Pantai Lombang, cukup lurus ke arah timur hingga masuk ke Kampung Brungbung untuk sampai ke masjid kuno tersebut.
Meski tidak ada catatan autentik mengenai tanggal berdirinya, Masjid Brungbung diperkirakan dibangun pada abad ke-17. Kendati demikian, arsitektur bangunan masjid tetap terjaga originalitasnya, seperti mihrab, pintu, tiang, beduk, dan lainnya.
Di samping masjid, terdapat sumur yang cukup fenomenal keberadaannya. Air dalam sumur itu tidak pernah kering. Maka tak heran bila para jamaah mengambil air di sumur itu untuk kemudian dibawa pulang. Sebab diyakini air sumur itu menjadi perantara kesembuhan penyakit.
Masjid Brungbung merupakan peninggalan salah satu ulama besar Sumenep dari keluarga Katandur, yakni Kiai Pangolo Brungbung, yang tidak lain adalah putra dari Kiai Khatib Paddusan.
Keluarga Pangeran Katandur sendiri memiliki peran sentral dalam penyebaran Islam di Sumenep.
Anak cucu pangeran asal negeri Kudus itu membentuk pelita ilmu di Sumenep, utamanya di Bangkal dan Parsanga.
Masjid Brungbung merupakan peninggalan sepuh yang dulunya dijadikan sebagai sasaran dakwah. (nur)





