KABAR MADURA | Sebagian petani di Sampang masih menggunakan bibit non-sertifikat dalam bercocok tanam. Salah satu petani yang tidak menggunakan bibit non-sertifikat adalah Ahmad.
Ahmad mengaku tetap menggunakan bibit lokal (non-sertifikat) karena harganya lebih murah, “Kalau beli bibit bersertifikat, harganya lebih mahal.,” katanya, Minggu (2/3/2025).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Sampang Suyono mengatakan, penggunaan bibit tanpa sertifikat dapat menyebabkan rendahnya daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit.
Dia mencontohkan, dalam pertanian padi, petani masih dominan menggunakan bibit ciherang. Padahal, bibit tersebut sangat mudah terserang hama penyakit pyricularia oryzae atau penyakit blas dan wareg.
“menggunakan bibit bersertifikat jauh lebih tahan terhadap hama dan penyakit serta hasil produksi lebih melimpah. Kami terus mendorong para petani untuk menggunakan bibit bersertifikat agar produktivitas semakin meningkat,” ujarnya.
Suyono menambahkan bahwa hasil produksi padi di beberapa daerah masih belum sesuai dengan harapan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan bibit non-sertifikat yang berdampak pada rendahnya kualitas dan kuantitas panen.
“Padahal, untuk bisa menghasilkan produksi yang banyak dan berkualitas bagus, petani harus menggunakan bibit yang bersertifikat,” jelasnya. (KM90/sub/din)





