KABAR MADURA | Jalan poros kabupaten di Desa Gunung Eleh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang yang rusak akibat longsor hingga saat ini tidak kunjung diperbaiki oleh pemerintah daerah setempat.
Akhirnya, masyarakat Desa Gunung Eleh, Bapelle dan Sawah Tengah, terpaksa mengambil inisiatif untuk membangun akses jalan baru sebagai alternatif. Dana pembangunan akses jalan baru itu dilakukan dengan cara patungan.
Mengandalkan iuran sukarela, masyarakat bergotong-royong membuka akses jalan baru guna mengatasi kesulitan yang timbul, terutama untuk akses jalan di sektor pendidikan dan perekonomian.
“Kami tidak bisa menunggu terlalu lama. Jika akses tetap tertutup, anak-anak semakin sulit ke sekolah, dan perekonomian desa juga terhenti. Makanya, kami berinisiatif mengumpulkan dana dan bergotong-royong membuat jalan alternatif ” ujar Hafid selaku panitia pelaksana pembuatan jalan alternatif itu. Senin (24/3/2025).
Hafid mengatakan, pembangunan jalan ini dilakukan dengan peralatan seadanya. Menggunakan alat berat dan dibantu oleh tenaga sukarela dari warga setempat. Meski belum sempurna, jalur alternatif ini diharapkan bisa menjadi solusi sementara sebelum ada upaya perbaikan dari pihak berwenang.
Hafid berharap, pemerintah daerah segera turun tangan untuk memperbaiki jalan utama yang longsor, sehingga akses vital tersebut dapat kembali digunakan secara normal.
“Semangat gotong-royong yang ditunjukkan warga, membuktikan bahwa solidaritas sosial dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur tetap menjadi kekuatan utama daripada hanya berharap kepada pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sampang Muhamad Ziz mengaku masih dalam proses perencanaan yang tidak kunjung selesai. “Untuk sementara, untuk jalannya saja diperkirakan dana yang dibutuhkan sebesar Rp870 juta. Belum lagi perbaikan tebing yang saat ini dalam proses perencanaan,” singkatnya.
Perlu diketahui, bencana longsor yang terjadi beberapa minggu lalu itu membuat jalur utama yang menghubungkan tiga desa lumpuh total. Akibatnya, aktivitas warga terganggu, terutama bagi anak-anak yang kesulitan berangkat ke sekolah serta pedagang yang mengalami hambatan dalam menjajakan barang dagangannya.
Semula, perjalanan bisa ditempuh dengan jarak kurang lebih 250 meter. Namun sekarang, mereka harus menempuh jalan sejauh 3 kilometer. Menyadari urgensi keberadaan jalan tersebut, warga bersama-sama mengumpulkan dana untuk membangun jalan darurat yang dapat digunakan sebagai akses sementara. (km91/sub/din)





