Makan Gratis Lansia di Sumenep Dianggarkan Rp24 Miliar setiap Tahun

Sosial96 views

KABAR MADURA | Program permakanan lansia dan disabilitas di Sumenep tahun 2025 diproyeksikan menyerap anggaran Rp24 miliar.

Dana yang dianggarkan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Sumenep itu disalurkan langsung ke rekening kelompok masyarakat (pokmas) di hampir seluruh kecamatan di Sumenep, kecuali Kecamatan Masalembu yang terkendala geografis dan distribusi logistik.

Kepala Dinsos P3A Sumenep Mustangin menjelaskan bahwa setiap pokmas bertugas menyiapkan dan mengantarkan makanan kepada para penerima manfaat di wilayah masing-masing. Makanan disajikan dua kali sehari dengan menu bergizi seimbang, menyesuaikan kebutuhan gizi para lansia yang rata-rata berusia di atas 70 tahun.

“Setiap penerima mendapatkan jatah makan senilai Rp31 ribu per hari, ditambah Rp1.000 untuk biaya antar. Bantuan ini bukan sekadar soal makanan, tapi juga bentuk perhatian dan penghargaan kepada para lansia dan disabilitas yang membutuhkan,” ujar Mustangin.

Baca Juga:  Dapat Bantuan dari MH Said Abdullah, Ojol di Sumenep Bersyukur

Program tersebut telah menjangkau sekitar 2.627 lansia di berbagai wilayah. Dari total kebutuhan tahunan, sekitar Rp2,44 miliar dialokasikan untuk perbelanjaan operasional dan distribusi, sementara total akumulasi kebutuhan selama satu tahun mencapai Rp24 miliar.

Mustangin menegaskan bahwa sistem penyaluran dana melalui pokmas dipilih agar pelaksanaan program bisa lebih cepat, transparan, dan tepat sasaran, karena kelompok masyarakat setempat lebih memahami kondisi warga di lingkungannya.

“Pokmas menjadi ujung tombak program ini. Mereka yang menyiapkan menu, mengantar makanan, sekaligus memastikan penerima manfaat benar-benar menerima haknya setiap hari,” tambahnya.

Baca Juga:  BIP Foundation Hadiahkan Umrah untuk Penyandang Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

Program permakanan ini telah berjalan sejak tahun 2023 dengan alokasi awal sekitar Rp350 juta lebih, dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya seiring dengan bertambahnya jumlah penerima serta pokmas yang aktif di lapangan.

Selain memberikan manfaat gizi bagi lansia, program ini juga berdampak sosial positif karena menghidupkan semangat gotong royong di tingkat desa dan memberdayakan ekonomi lokal, terutama usaha katering rumahan yang terlibat dalam penyediaan makanan.

“Kami ingin memastikan tidak ada satu pun lansia di Sumenep yang hidup tanpa perhatian. Mereka telah berjasa di masa lalu, dan kini saatnya pemerintah hadir untuk menjaga mereka,” pungkas Mustangin. (ara/waw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *