Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Terlihat di Madura, Bertepatan 13 Ramadan 1447 H

Berita383 views

KABAR MADURA | Sepanjang tahun 2026 akan terjadi empat fenomena gerhana, yakni dua gerhana matahari dan dua gerhana bulan. Namun, dari seluruh rangkaian peristiwa langit tersebut, hanya satu yang dapat disaksikan langsung dari Indonesia, yakni Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026.

Guru Besar Ilmu Falak UIN Madura, Achmad Mulyadi, menjelaskan bahwa berdasarkan data astronomi internasional, empat gerhana yang terjadi pada 2026 meliputi Gerhana Matahari Cincin (17 Februari 2026), Gerhana Bulan Total (3 Maret 2026), Gerhana Matahari Total (12 Agustus 2026), serta Gerhana Bulan Sebagian (27–28 Agustus 2026).

“Tidak semua fenomena gerhana dapat diamati dari Indonesia. Faktor posisi geografis dan waktu kejadian menjadi penentu utama visibilitasnya,” ujarnya, Senin (23/2/2026).

Dari keempat peristiwa itu, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati secara langsung di seluruh wilayah Indonesia. Sementara dua gerhana matahari tidak melintasi jalur bayangan di wilayah Nusantara. Adapun gerhana bulan sebagian pada akhir Agustus 2026 terjadi pada siang hari di Indonesia, sehingga tidak dapat disaksikan secara kasat mata.

Secara astronomis, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan dalam satu garis lurus, tepat saat fase purnama. Pada kondisi ini, bulan memasuki bayangan inti (umbra) bumi, sehingga tampak berwarna kemerahan atau dikenal sebagai blood moon.

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 memiliki magnitudo 1.1526 dan bertepatan dengan 13 Ramadan 1447 Hijriah. Fenomena ini terjadi sekitar 6,7 hari setelah perigee dan 6,9 hari sebelum apogee, sehingga ukuran bulan tampak sedang, tidak terlalu besar maupun kecil.

“Di Indonesia, gerhana dapat diamati dengan kondisi berbeda di tiap wilayah. Indonesia bagian timur menjadi lokasi terbaik karena bulan terbit saat fase penumbra awal berlangsung. Sementara di Indonesia bagian barat, Bulan terbit ketika fase totalitas sudah berlangsung,” jelasnya.

Berdasarkan hasil hisab dalam kitab al-Durru al-Aniq, berikut fase Gerhana Bulan Total di wilayah Madura pada Selasa, 3 Maret 2026:

  • Awal Parsial (Umbra): 16.49.56 WIB
  • Awal Total: 18.04.23 WIB
  • Puncak Total: 18.34 WIB
  • Akhir Total: 19.02.48 WIB

Namun secara astronomis, fase awal parsial terjadi sebelum matahari terbenam. Artinya, meskipun gerhana telah dimulai secara geometris, Bulan belum bisa diamati karena masih berada di bawah ufuk dan langit masih terang.

Baca Juga:  Merawat Tradisi, Menggerakkan Transformasi: NU sebagai Gerakan Pendidikan, Dakwah, dan Peradaban Humanis

Bulan baru dapat terlihat setelah matahari terbenam sekitar pukul 17.40-17.50 WIB. Saat itu, bulan sudah dalam kondisi hampir atau sudah memasuki fase total, sehingga masyarakat Madura pertama kali akan menyaksikan bulan dalam warna kemerahan.

Dalam kajian fikih, salat gerhana bulan (salat khusuf al-qamar) dianjurkan ketika gerhana dapat disaksikan secara nyata (idza ru’iya). Sebab awal gerhana terjadi sebelum Maghrib dan belum terlihat, maka pelaksanaan salat gerhana secara praktis dapat dimulai setelah Maghrib.

“Durasi efektif pelaksanaan salat gerhana diperkirakan berlangsung antara pukul 18.00 hingga 19.00 WIB, selama fase totalitas masih terjadi,” ungkap Prof. Mulyadi.

Fenomena ini memiliki dimensi spiritual yang kuat karena berlangsung bertepatan dengan waktu berbuka puasa Ramadan. Perpaduan antara momentum iftar dan kekhusyukan salat gerhana menjadi pengalaman religius yang langka bagi umat Islam, khususnya di Madura.

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 tidak hanya menjadi peristiwa astronomis, tetapi juga menjadi momen refleksi spiritual yang memperlihatkan harmonisasi antara presisi hisab astronomi, realitas rukyat lokal, dan dimensi ibadah Ramadan. (nur/zul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *