Ahli Falak UIN Madura Prediksi Iduladha 1447 H Indonesia dan Makkah Berpotensi Bersamaan

Berita51 views

KABAR MADURA | Penentuan awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah tahun ini dinilai menghadirkan fenomena astronomis yang menarik. Hilal di Indonesia maupun di Kota Makkah sama-sama berada pada posisi yang sangat memungkinkan untuk terlihat, sehingga berpeluang besar memunculkan kesamaan penetapan awal Dzulhijjah, wukuf di Arafah, hingga Hari Raya Iduladha 1447 H.

Ahli Astronomi Islam (Falak) Fakultas Syariah UIN Madura, Achmad Mulyadi, menjelaskan, berdasarkan data astronomi, ijtimak akhir bulan Dzulqa’dah 1447 H terjadi pada Ahad, 17 Mei 2026 pukul 03.02 WIB.

“Pada saat matahari terbenam di wilayah Indonesia, posisi hilal berada pada ketinggian antara 3,6 derajat hingga 7,2 derajat, dengan elongasi berkisar antara 8,91 derajat hingga 10,66 derajat. Secara astronomis parameter ini sudah melampaui kriteria visibilitas hilal MABIMS,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Kondisi itu membuat peluang hilal terlihat di Indonesia sangat besar. Bahkan, kata Mulyadi, hasil rukyatul hilal di sejumlah daerah turut memperkuat data hisab astronomis yang telah dihitung sebelumnya.

Baca Juga:  WFH sebagai Strategi Adaptif Negara: Dialektika Efisiensi Energi, Stabilitas Ekonomi, dan Ketahanan Sosial dalam Bayang-Bayang Krisis Global

“Laporan keberhasilan rukyat juga diperoleh dari Tim Rukyatul Hilal Kabupaten Lamongan dan telah disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat. Ini menjadi penguat antara hasil observasi lapangan dan perhitungan astronomi,” ungkapnya.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Mulyadi menambahkan, kondisi hilal di Kota Makkah juga menunjukkan parameter astronomis yang sangat kuat. Saat matahari terbenam di Makkah, tinggi hilal tercatat mencapai 10,66 derajat dengan elongasi sebesar 12,84 derajat.

“Artinya, baik di Indonesia maupun di Makkah, hilal sama-sama berada dalam kondisi ideal untuk dirukyat. Fenomena ini cukup menarik karena pada banyak kesempatan sebelumnya sering terjadi perbedaan penetapan awal bulan Hijriah akibat faktor geografis maupun metodologi,” jelasnya.

Dengan kondisi astronomis tersebut, lanjut Mulyadi, maka terdapat peluang besar kesamaan penanggalan antara Indonesia dan Arab Saudi untuk awal Dzulhijjah 1447 H.

Baca Juga:  Sinergi Syiar Kebaikan, IBS PKMKK Pamekasan Siap Meriahkan Jalan Sehat HUT ke-14 Kabar Madura

“Jika mengacu pada data astronomis dan hasil rukyat yang ada, maka 1 Dzulhijjah 1447 H berpotensi jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Wukuf di Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026 dan Hari Raya Idul Adha pada Rabu, 27 Mei 2026,” ungkapnya.

Dia menilai fenomena ini menunjukkan perkembangan astronomi modern semakin berkontribusi dalam membangun harmonisasi kalender Islam global. Ketika parameter visibilitas hilal sama-sama kuat di berbagai wilayah dunia, potensi terjadinya perbedaan penetapan awal bulan menjadi semakin kecil.

“Momentum ini diharapkan menjadi simbol kebersamaan umat Islam dunia dalam pelaksanaan wukuf di Arafah, puasa Arafah, dan perayaan Iduladha secara lebih serentak, tentu dengan tetap menghormati otoritas dan metodologi penetapan kalender di masing-masing negara,” pungkasnya. (nur/zul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *