Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
(Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura)
Piala Dunia selalu menyedot perhatian.
Semua orang rela begadang. Duduk di depan televisi. Menahan kantuk demi menonton bola.
Pun hari ini. Semua mata tertuju ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Kita melihat pemain-pemain hebat. Lari mereka sangat cepat. Tendangan mereka keras. Taktik mereka rapi. Pertahanan mereka solid.
Kita pernah merasakan standar pemain Piala Dunia dari jarak yang sangat dekat. Di Madura.
Namanya Peter Odemwingie.
Anda yang suka sepak bola pasti ingat dia.
Dia bukan sekadar pemain asing biasa. Dia striker andalan tim nasional Nigeria.
Odemwingie main di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Empat tahun kemudian, dia main lagi di Piala Dunia 2014 di Brasil.
Di Brasil, dia bahkan mencetak gol penentu. Membawa Nigeria menang lawan Bosnia. Dia terbiasa berhadapan dengan pemain-pemain kelas atas Eropa.
Tidak hanya itu. Dia lama main di Liga Inggris. Liga yang paling banyak ditonton orang Indonesia. Dia pernah mencetak banyak gol untuk klub West Bromwich Albion dan Stoke City.
Lalu kejutan terjadi di tahun 2017.
Pemain berlabel Piala Dunia dan Liga Inggris itu mendarat di Indonesia.
Dia tidak memilih klub di Jakarta. Dia tidak memilih klub di Bali yang banyak tempat wisatanya. Dia resmi dikontrak oleh Madura United.
Waktu itu Liga Indonesia memang sedang punya aturan Marquee Player. Klub diizinkan mengontrak pemain top dunia.
Banyak klub ikut-ikutan aturan ini. Mereka berlomba beli pemain bintang. Tapi ujung-ujungnya banyak yang kecewa.
Bintang yang datang ke sini ternyata fisiknya sudah habis. Badannya gendut. Lempo. Larinya lambat. Mainnya malas-malasan.
Banyak dari mereka berpikir liga kita ini mudah. Hanya tempat bersantai untuk cari uang pensiun.
Orang awalnya juga ragu pada Odemwingie. Jangan-jangan nasibnya sama saja. Datang, cedera, lalu pulang.
Ternyata dugaan itu salah besar.
Odemwingie sangat profesional.
Dia datang tidak untuk liburan. Dia datang benar-benar untuk bekerja. Untuk main bola.
Dia mau berlari di bawah cuaca yang sangat panas. Dari stadion di Pamekasan sampai stadion di Bangkalan.
Kita tahu kualitas rumput kita saat itu. Kita tahu bagaimana fasilitas ruang ganti kita. Tentu jauh berbeda jika dibandingkan dengan di Inggris atau stadion Piala Dunia.
Tapi Odemwingie tidak banyak mengeluh. Dia menyesuaikan diri dengan cepat.
Sentuhan bolanya masih kelas dunia. Penempatan posisinya pintar sekali. Tendangannya tetap akurat.
Hasil kerjanya nyata. Dia mencetak 15 gol untuk Madura United di musim itu. Dia menjadi salah satu pencetak gol terbanyak di liga kita.
Orang Madura sangat bangga. Suporter memenuhi stadion. Mereka merasa sangat dihargai karena ada pemain dunia yang mau berkeringat membela nama daerah mereka.
Klub ini memang dikelola secara serius. Presiden klubnya, Achsanul Qosasi, saat itu berani ambil keputusan besar dan mahal.
Dan keputusannya sangat tepat. Odemwingie memberi tontonan berkelas untuk publik lokal.
Lebih dari sekadar gol, Odemwingie membawa standar kerja.
Pemain lokal di Madura United saat itu bisa melihat langsung. Seperti apa sikap asli seorang pemain Piala Dunia.
Bagaimana cara dia latihan. Bagaimana dia disiplin menjaga makanan. Bagaimana dia bersikap ramah tapi tetap serius di ruang ganti.
Itu adalah pelajaran gratis yang mahal harganya.
Kini, setiap kali demam sepak bola internasional datang, ingatan tentang tahun 2017 itu kadang muncul lagi.
Kita memang masih jauh untuk bisa main di Piala Dunia. Sepak bola kita masih harus pelan-pelan berbenah dari dasar kompetisi.
Tapi kehadiran Odemwingie di Madura membuktikan satu hal penting.
Sepak bola profesional itu ukurannya jelas. Mau main di Eropa, di Amerika, atau di Pamekasan, sikap profesionalitas itu tidak boleh berubah.
Odemwingie tidak memandang rendah Liga Indonesia. Dia memberikan 100 persen kemampuannya untuk Madura.
Pemain kita harus belajar mental seperti itu. Mental yang bekerja keras di mana pun mereka berada.
Piala Dunia memang masih menjadi mimpi bagi kita. Tapi standar kerjanya pernah mampir dan terekam jelas di tanah Madura.
Lewat aksi nyata seorang Peter Odemwingie. (*)
